
"Bunda, ceritakan jaman pas bunda sekolah dulu dong?" celetuk Keyla yang langsung ditatap tajam Jeni.
"Kenapa kau tiba-tiba terpikir hal itu?"
Keyla tersenyum, kembali Ia mengingat perkataan sahabat Bundanya tadi.Keyla baru mengetahui Bundanya itu punya sisi romantis karena bucin akut saat masih muda.Setahunya, Bundanya itu orang yang serius yang hanya memikirkan pekerjaan saja.
"Mandi sana!" pekik Jeni.
"Bener nih Bunda nggak mau cerita." Keyla mencebikkan bibirnya, Ia bergelayut di bahu Bundanya.
"Dasar kau!" umpat Jeni.Melihat tingkah kekanak-kanakan putrinya itu membuatnya gemas menjewer telinga Keyla namun tidak sampai menimbulkan rasa sakit.
Keyla pun pergi setengah kecewa karena tidak berhasil mengorek masa lalu Bundanya sementara Jeni menatap Keyla hingga hilang di balik pintu ruang kerjanya.
"Nak, apakah kau tumbuh seperti adikmu?Bunda benar-benar ingin sekali melihatmu," gumam Jeni.Air matanya tiba-tiba menitik tanpa disadarinya.Puluhan tahun Ia tidak bertemu dengan kembaran Keyla membuatnya ingin sekali bertemu.Terakhir bertemu saat masih SD, itu pun hanya melihat dari kejauhan.Jeni memilih memendam masa lalunya daripada terluka karena bagaimana pun juga Ia tidak mungkin bersamanya karena sesuatu hal.
Hidup begitu mempermainkannya membuatnya menjadi wanita tangguh dari luar bertolak belakang dengan hatinya yang begitu rapuh.Setiap malam bahkan Ia menangis seorang diri tanpa diketahui siapapun.Ibu tetaplah seorang Ibu yang akan mencintai anaknya sampai akhir hayatnya walaupun raga tidak bisa bersatu namun batin selalu bersama dalam untaian doa yang terus terucap.
Keyla yang sudah selesai mandi sedikit kesal karena lagi-lagi Bundanya itu hanya memikirkan pekerjaan daripada dirinya.Dirumah sebesar itu, ia hanya mempunyai Bunda sebagai tepat keluh kesahnya namun nyatanya yang ada dalam otak Bundanya hanya Brawijaya Grup semata.
"Ayah, aku ingin bertemu Ayah," gumam Keyla mengingat Arman yang selalu tersenyum padanya.Keyla benar-benar berpikir bagaimana caranya Ia bisa menyatukan keluarganya.Keluarga yang utuh dan bahagia selalu menjadi angan-angannya sejak dulu namun semua hanya angan-angan kerena mengenal Ayahnya saja tidak namun semua seolah berubah sejak Ia mengetahui Ayahnya beserta saudara kembarnya.Keyla bertekad untuk menyatukan kembali keluarga walaupun kini yang tersisa hanya puing-puingnya saja namun Ia yakin jika masih ada cinta yang masih begitu besar antara Ayah dan Bundanya.
***
Pagi-pagi sekali Keyla sudah berkutat di jalanan.Ia hendak menjemput Kayla dan mengantarnya ke kantor.Keyla menghentikan mobilnya saat sudah berada di halaman rumah Kayla.
Keyla tertegun menatap rumah yang sangat tidak layak itu, ingin sekali Ia membawa Ayah dan saudara kembarnya tinggal bersamanya.
Kayla yang keluar dari dalam rumah menatapnya dengan tatapan aneh karena saat itu hari masih begitu pagi namun Keyla sudah berada di depan rumahnya.
"Kau berdiri disitu hanya untuk melihat rumahku yang jelek sehingga kau bisa menghinaku sesuka hati.Aku memang tidak sebanding denganmu, kau puas!" ucap Kayla dengan ketus.
"Kayla!" sentak seorang pria yang berdiri tepat di belakangnya.Arman yang sejak tadi mendengar ucapannya yang ketus pada tamu yang berkunjung kerumahnya merasa risih.
Kayla melengos begitu saja kembali masuk sementara Keyla hanya menatap saudara kembarnya itu yang semakin menjauh darinya.
"Key, masuklah." Arman mempersilahkan dengan sopan membuat Keyla merasa sangat dihargai.Matanya menatap nanar pria yang sangat ingin dipanggilnya Ayah itu.
Kayla mengekor di belakang Arman yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumahnya.Keyla mengekor Arman yang saat itu berada di dapur terlihat pria paruh baya itu sibuk dengan aktivitas memasaknya selain harus bekerja Arman juga sangat telaten memasak.
"Om, ada yang bisa Keyla bantu?" tawarnya.Walaupun Ia tidak pernah memasak namun Ia sangat ingin membantu kesibukan pria itu.
Keyla menatap intens pria yang begitu cekatan melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan seorang wanita namun tangannya yang sudah terbiasa menjadikan semua pekerjaan itu begitu mudah.
Dari kejauhan tanpa diketahui Arman juga Keyla, Kayla memperhatikan Keyla yang saat itu menatap ayahnya dengan tatapan penuh kekaguman membuatnya berpikir dugaannya selama ini benar.
Setelah makanan terhidang di meja makan, ketiganya kini duduk memulai sarapan.
Keyla merasa sangat senang Ia terus memekarkan senyumnya dengan kebersamaan yang bisa dibilang sangat sepele itu.Kenyataanya Keyla tidak pernah mendapatkan kebersamaan itu selama hidupnya walaupun hanya makan bersama di meja makan seperti sekarang ini.
Ehem
Kayla berdeham lagi-lagi Ia mendapati Keyla tersenyum bahagia saat menatap Ayahnya.
"Minum, Kay." Keyla segera menuang air ke gelas, memberikannya pada Kayla.Bukannya mendapat sambutan hangat Kayla justru semakin kesal.Ia membuang muka saat Keyla menatapnya.
Setelah sarapan Keyla dan Kayla bergegas pergi.Hari ini Kayla langsung mengiyakan tawaran Keyla tidak seperti biasanya yang harus ada drama dulu ketika Keyla menawarkan untuk mengantarnya.Keyla juga menawarkan untuk mengantar Arman namun pria itu menolaknya dengan alasan harus mampir ke suatu tempat.
Suasana mobil nampak hening karena Kayla lebih memilih menatap kaca jendela mobil sementara Keyla fokus mengemudi.
"Kay, apakah bisa kita berteman baik?" Keyla yang sejak tadi berpikir ingin mengatakannya, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Sebenarnya, apa alasanmu mendekatiku bukannya selama ini kita musuh kau bahkan menantangku untuk memperebutkan Alvin!"
"Aku hanya-"
"Kau ini masih muda tapi kau punya selera yang diluar kewajaran.Ayahku itu pantas kau sebut Ayah tapi kau ...," potong Kayla.Ia bahkan tidak bisa meneruskan kata-katanya karena tidak habis pikir dengan pemikiran Keyla.
"Apa maksudmu?" Keyla langsung menepikan mobilnya mendengar kata-kata Kayla yang sebenarnya ia tidak mengerti apa maksudnya namun nada bicaranya yang ketus membuatnya tidak nyaman.
"Sebaiknya kau tidak lagi datang ke rumahku!" Kayla berkata dengan suara lantang.Saat itu Ia hendak keluar dari mobil namun dengan sigap Keyla menahannya.Air matanya menitik deras dengan kata-kata kasar Kayla.
"Lepaskan!" Kayla meronta dari cekalan tangan Keyla namun tubuhnya didekap dari belakang.
"Kau salah, Kay," lirihnya semakin mendekap erat.
"Kau jelas memandang Ayahku penuh puja, kau masih berkelit!" Kayla kembali meronta dari pelukan Keyla.Ia benar-benar marah dengan sikap Keyla yang berlebihan sampai mengeluarkan air mata buaya.Kayla pastikan Ia tidak akan memberi kesempatan pada Keyla untuk mendekati Ayahnya.Ayahnya memang tampan namun Ia tidak akan memberi kesempatan wanita lain memiliki hati Ayahnya selain Bundanya yang telah meninggal.
Kayla terus meronta membuat Keyla tidak punya pilihan lain selain mengatakan semua kebenarannya.Ia tidak mau Kayla semakin salah paham dengannya hingga melarangnya untuk dekat dengannya juga Arman yang jelas-jelas saudara kembar juga Ayahnya.