
Happy Reading 😊
Sebulan kemudian.
Sebulan ini Ricky menyibukkan diri dengan bekerja. Ia bahkan menerima tawaran Rendy untuk menyelesaikan masalah di kantor cabang luar kota demi sedikit melupakan masalahnya dengan Kayla. Semua dilakukan Rick hanya untuk memberi waktu pada Kayla untuk memulihkan diri.
"Kau memang bisa di andalkan Ricky seharusnya kau membuka perusahaan sendiri," puji Rendy dengan kinerja Ricky.
"Bukan masalah besar hanya masalah kecil." Ricky tersenyum bangga karena selama ini Ia sudah banyak menyelesaikan masalah-masalah yang jauh lebih rumit saat menjadi asisten Kayla.
"Ada apa dengan ekspresimu?" Rendy melihat ekspresi sahabatnya yang tampak lain, ekspresi kebahagiaan yang begitu besar.
Selama sebulan ini Ricky tidak sekalipun melupakan Kayla namun semakin hari cintanya semakin besar apalagi keduanya akan segera memiliki keturunan.
"Aku hanya tidak sabar untuk segera menemui Kayla, apa kamu yakin Ia sudah memaafkan aku?" Ricky yang tadinya begitu bersemangat seketika berubah berekspresi masam karena mulai pesimis.
"Tentu saja Kayla adalah wanita yang berhati lembut tidak mungkin Ia bisa membenci seseorang dengan waktu yang lama." Rendy bangkit dari duduknya mendekat ke arah Ricky lalu memeluknya. "Aku pasrahkan Kayla padamu, aku berharap seumur hidupmu akan membahagiakannya."
"Tentu saja." Ricky mengurai pelukan sahabatnya itu menatap wajah sahabatnya itu intens.
Hidup kenapa mempermainkan seperti ini. Jika Ia tahu akan berakhir seperti ini, dulu Ia akan menikahi Kayla secara resmi dan bukan hanya menikah secara kontrak.
Ricky menerima tawaran Rendy demi menyelamatkan nyawa adiknya yang menderita leukimia sejak kecil sedangkan kedua orang tua mereka sudah lama meninggal karena kecelakaan hingga tanggung jawab sebagai orang tua dipikul Ricky.
Orang tua Ricky yang berpura-pura menjadi orang tuanya adalah adik dari ayahnya yaitu paman dan bibinya.
Setelah dari kantor Rendy, Ricky bergegas ke ruma sakit untuk melihat kondisi adiknya. Selama sebulan ini bahkan terus memantau keadaan adiknya dari ponsel membuatnya tidak sabar bertemu dengan adiknya itu.
"Ricky kau sudah datang Nak." Bibi Ricky tersenyum menyambut kedatangan senyuman begitu juga dengan Asyifa adik Ricky.
"Kak, aku rindu Kak Ricky." Asyifa memeluk erat tubuh kakaknya. Kakak yang telah memperjuangkan hidupnya mati-matian membuat Syifa bersemangat untuk tetap hidup walaupun selama ini Syifa harus tinggal di rumah sakit.
Sejak kecil Syifa sudah akrab dengan jarum suntik membuatnya hampir saja menyerah terlebih setelah orang tuanya meninggal dan bangkrut membuat Asyifa berputus asa karena penyakitnya membutuhkan biaya yang banyak. Namun Ricky meyakinkan Syifa jika Ia mampu untuk menanggung semuanya hingga saat Rendy memberinya penawaran untungnya dengan imbalan yang besar Ricky langsung menyetujuinya. Semua dilakukannnya semata-mata demi Syifa namun seiring berjalannya waktu kebersamaan dengan Kaka bukan hanya pura-pura karena nyatanya Ia jatuh cinta dengan wanita itu.
"Dimana kakak iparku, bukannya Kak Ricky sudah janji membawa kak Kayla kesini." Syifa merajuk karena untuk kesekian kalinya harapannya untuk segera bertemu dengan kakak iparnya belum juga terwujud. Setiap kali kakaknya terus menjanjikannya namun tidak pernah ditepati.
"Aku akan menemui sekarang juga!" Syifa yang sudah tidak tahan menarik selang infusnya namun segera ditahan Ricky.
"Dek kau tidak boleh seperti ini bagaimana jika terjadi apa-apa padamu kak Kayla pasti akan sangat sedih." Ricky berusaha memberi pengertian pada Syifa. "Kakak janji sekarang juga akan menjemput Kak Kayla dan membawanya kemari." Rendy berucap penuh penekanan membuat Syifa akhirnya menurut.
Setelah melihat keadaan Syifa, Ricky bergegas pulang untuk membersihkan diri. Sepulang dari Bandara Ia bahkan langsung ke kantor Rendy kemudian ke rumah sakit membuatnya belum sempat membersihkan diri.
Setelah bersih dan rapi, Ricky bergegas menuju ke kediaman Brawijaya untuk menemui Kayla. Entah sebuah kebetulan atau apa kedatangannya seperti sudah ditunggu karena satpam langsung membuka pintu gerbang tanpa perlu menjelaskan lebih lanjut.
Seorang wanita dengan perut membuncit terlihat di depan pintu yang terbuka itu.
"Kay kau ...." Ricky membelalakkan matanya menajamkan penglihatannya. Hampir saja ia memeluk wanita di depannya karena berpikir wanita itu adalah Kayla.
"Maaf maksudku Keyla, kau disini?" Ricky berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan membuat topik pembicaraan.
Bukannya ekspresi hangat yang diterima Ricky namun tatapan penuh kebencian. Ricky sadar itulah bayaran yang pantas Ia dapatkan dari keluarga itu.
"Masuk!" perintah Keyla tanpa ekspresi. Ia melangkah lebih dulu kemudian Ricky mengekor dibelakangnya. Saat itu terlihat Alvin menuruni tangga yang juga menatapnya dengan tatapan benci.
Kini ketiganya duduk di sofa dengan suasana tegang yang kental.
"Alvin kedatangan ...."
"Kami menerima kedatanganmu bukan untuk mendengarkanmu bicara tapi mendengarkanku!" tegas Alvin.
Deg
Entah perasaan aneh apa yang diterima Ricky, Ia mempunyai firasat kedatangannya bukan hal baik tapi sebaliknya. Namun Ricky akan berusaha menerima apapun itu karena itulah resiko yang harus ditanggungnya.
"Setelah kita ketahui sebelumnya jika hubunganmu dan Kayla adalah sebuah kontrak. Agar ke depannya tidak terjadi masalah karena ini kami berharap kau mendatangani ini."
Alvin menyerahkan sebuah stop map berisi surat perjanjian yang secara garis besar menyatakan jika di kemudian hari pihak kedua tidak akan mencampuri urusan pihak pertama dari urusan pribadi maupun urusan pekerjaan.
"Apa ini Alvin, aku tidak bersedia!" Ricky menghempas surat perjanjian itu setelah membacanya. Kedatangannya untuk memperbaiki bukan untuk mengakhiri.
"Kay turunlah aku ingin bicara, aku bisa menjelaskan semua," pekik Ricky dengan suara lantang.
"Hentikan semua ini Ricky, selama ini aku diam bukan tidak tahu apa-apa karena aku menghormati kakakku tapi kau sudah keterlaluan. Kakak sudah pergi dan tidak akan pernah kembali!" geram Keyla.
Sejak tadi Ia sudah menahan kemarahannya sejak kedatangan Ricky namun setelah melihat tidak ada penyesalan pada pria itu membuat Kayla tidak bisa mengendalikan diri.
"Kayla kemana?" Ricky mencengkram bahu Keyla dengan pertanyaannya namun segera dihempas Alvin.
Blam! Blam! Blam!
Alvin melayangkan beberapa pukulan ke wajah Ricky seperti halnya dengan Keyla, Ia yang sejak tadi geram akhirnya tidak bisa mengendalikan diri.
Ricky yang sudah putus asa mendengar jika Kayla sudah pergi juga pukulan Alvin membuatnya bertekuk lutut dilantai tidak berdaya. Kini pupus sudah harapannya tidak ada yang tersisa selain penyesalan. Pelajaran yang berharga baginya jika cinta maka perjuangan sampai titik darah penghabisan. Jika saja saat itu Ia lebih memperjuangkan perasaannya daripada rasa solidaritasnya pada teman mungkin tidak seperti ini jadinya.
Ya walaupun sangat mencintai Kayla, Ricky lebih menjauh untuk mempersatukan Kayla dan Rendy namun nyatanya semua itu adalah hal yang salah. Kini Ia harus menyesali keputusannya itu seumur hidup karena kehilangan wanita yang begitu dicintainya.