
Happy Reading 😊
Beberapa mobil menuju ke perusahaan x untuk mengambil alih perusahaan yang hampir bangkrut itu. Selama ini Perusahaan Brawijaya membuat perusahaan yang akan diakuisisinya bermasalah. Disaat itu lah Group Brawijaya hadir sebagai penyelamat juga saat yang sama perusahaanya datang untuk membantu perusahaan itu sekaligus mengakuisisinya.
Setelah bernegosiasi cukup panjang diselingi perdebatan perusahaan x akhirnya melepas perusahaannya.
Kayla dan Ricky keluar dari gedung itu dengan perasaan puas karena ya lagi-lagi perusahannya akan semakin lebar mengembangkan sayapnya menjadi perusahaan multinasional.
Ricky membuka pintu untuk Kayla, Kayla pun masuk.
"Ricky," panggil seseorang dari kejauhan yang kemudian mendekat.
Wanita cantik itu tersenyum menatap Ricky penuh puja. Wanita mana yang tidak mengagumi pria sehebat itu begitu pula dengan wanita itu. Ricky yang penuh berkarisma saat bernegosiasi tadi membuat semua orang terpana termasuk Sekertaris perusahaan x yang langsung mengejarnya saat ingin pergi. Keduanya tampak berbincang-bincang akrab membuat Kayla merasa kesal karena Ia harus menunggu cukup lama hanya karena perbincangan mereka.
"Maaf Kayla kau menunggu lama," ucap Ricky setelah masuk ke mobil.
Selama perjalanan Ricky nampak begitu bahagia karena sejak tadi terus mengembangkan senyumnya.
"Pria ini sangat bahagia, mungkinkah dia menyukai gadis itu?" pikiran itu berkecamuk di hati Kayla. Ada perasaan kesal yang tidak mampu dijelaskannya.
Saat makan malam.
Kayla tampak mengaduk-aduk makanannya.
"Kau mau makan lainnya atau mau aku pesankan makanan lewat online?" tawar Ricky.
"Tidak!"
"Ayo makan nanti kamu sakit." Ricky mengambil lauk meletakkan ke piring Kayla namun bukannya dimakan Kayla malah menyingkirkannya.
Beberapa hari berlalu sikap Kayla begitu dingin membuat Ricky merasa aneh, apa mungkin Ia melakukan kesalahan membuat Kayla marah.
"Iya aku tidak tahu sikapnya berubah drastis," ucap Ricky di telepon.
Sesaat ponselnya bergetar Ricky membawa ponselnya ke balkon untuk menerima telepon dari sahabatnya.
Grubyak.
Suara keras terdengar dari dalam kamar itu membuat Ricky terburu-buru masuk setelah mengakhiri panggilan teleponnya.
"Kenapa, dimana yang sakit?" panik Ricky saat Keyla tersungkur ke lantai dengan lututnya yang berdarah. Kayla yang tadi begitu fokus menatap Ricky di balkon terjatuh karena kurang hati-hati saat berjalan.
"Aku bisa sendiri!" ketus Kayla. Mendorong Ricky menjauh.
Kayla berjalan dengan tertatih-tatih membuat Ricky yang tidak tega langsung mengangkat tubuhnya.
"Turunkan aku!" Kayla meronta namun tidak dipedulikan Ricky yang terus membawa tubuh itu naik ke ranjang.
"Duduklah, aku akan mengambil obat luka untukmu!" perintah Ricky dengan nada tegas.
Beberapa saat kemudian Ricky kembali membawa kotak p3k juga baskom berisi air. Ricky membersihkan luka Kayla.
"Aw." Kayla merintih merasakan perih spontan Ricky meniup pelan untuk mengurangi perih. Tak lupa Ricky membalut lukanya dengan plester.
Ricky membuat Kayla semakin kagum padahal beberapa hari ini Ia bersikap sinis namun tetap saja Ricky memperhatikannya dengan sikap lembutnya.
"Lain kali hati-hati jangan sampai kulitmu yang halus ini penuh dengan luka karena kecerobohanmu," tutur Ricky setelah selesai mengobati lukanya.
Kayla tersenyum mendapat perhatian lebih dari Ricky. Ricky juga ikut tersenyum.
"Nah gitu dong, kalau senyum gini kan cantik." Ricky beranjak dari duduk, sebelumnya mengusap wajah Kayla.
Perhatian juga sikap lembut Ricky semakin membuat Kayla merasa senang karena selama ini Ia begitu kesepian bahkan memendam kesedihannya sendiri. Kehadiran Ricky mampu membuat hidupnya lebih berarti.
"Ricky terima kasih kerena sudah membantuku, kau tidak hanya sebagai asisten namun juga teman terbaikku. Bagaimana jika besok kita ke rumah orang tuamu, bagaimana pun juga aku menantu mereka," cetus Kayla.
Ricky mengangguk menyetujui kebaikan hati Kayla. Ya walaupun pernikahan ini hanya sebuah ikatan kontrak namun baik Ricky maupun Kayla akan menjalankan perannya masing-masing.