Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 51. Siasat Alvin



HAPPY READING 😊


......................


Alvin mulai bergerak membantu Keyla menyatukan keluarganya. Waktu seminggu adalah waktu yang cukup singkat apalagi yang di hadapinya adalah Hendra Brawijaya. Pria tua itu tidak boleh dianggap remeh begitu saja oleh Alvin.


Hans memasuki ruangan Alvin setelah atasannya itu memanggilnya.


"Apa kau sudah mendapat semua data yang aku inginkan?" Alvin bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.


Hans memberikan sebuah map ke atas meja atasannya itu.


"Hanya ini yang bisa saya dapatkan Tuan karena perusahaan itu begitu tertutup," jelas Hans.


Alvin langsung terfokus map itu dan memeriksanya dengan seksama.


"Ini cukup untuk melancarkan aksiku." Alvin tersenyum menyeringai dengan semua rencana yang pasti akan berjalan lancar.


"Segera lancarkan misi pertama kita waktu kita tidak banyak!" titah Alvin.


"Siap Tuan." Hans menunduk sekilas lalu bergegas keluar menjalankan perintah atasannya itu.


***


Keyla keluar dari ruangannya setelah jam di kantornya usai. Langkahnya mengayun menuju mobilnya.


"Key." panggil seseorang dari arah belakang. Keyla memutar tubuhnya dan ternyata Kinara yang memanggilnya.


"Elo sibuk banget sih, pulang kerja pasti langsung balik."


"Elo lihat kan gue selalu dibuntuti," keluh Keyla.


Saat itu Dua orang pria mengikuti langkahnya di belakang.


"Lagian kenapa sih elo pake bodyguard segala?"


"Bukan gue Nara tapi Kakek tua itu."


"Kakak elo maksudnya?"


"Siapa lagi."


"Ra, elo bisa bantu gue nggak?" sambung Keyla dengan permintaannya.


"Apa Nona Keyla?"


Keyla mengambil sebuah amplop surat dari tasnya.


"Pergi ke rumah sakit ********* cari pasien bernama Arman nanti kalau elo ketemu putrinya namanya Kayla, elo kasih surat ini ke dia," jelas Keyla.


"Hari gini masih surat-suratan telepon aja ngapa?"


"Sudah jangan banyak tanya, lakuin semua sesuai perintahku. Ini misi rahasia ok." Keyla langsung memasukan surat itu ke tas Nara sebelum dua pengawalnya curiga karena semua gerak-gerik juga kemana dan dengan siapa, Keyla akan dilaporkan ke Kakeknya.


Nara pun mengangguk. Keduanya berpisah Keyla menuju mobilnya sementara Nara naik taxi. Keyla tertegun saat sudah duduk di dalam mobilnya. Ia begitu merindukan Kayla juga Ayahnya. Seminggu sudah Kayla tidak bertemu dan juga tidak tahu bagaimana keadaan Ayahnya.


"Ayah semoga keadaan Ayah jauh lebih baik sekarang," gumam Keyla dengan air mata menitik.


Tring


Ponselnya Keyla berbunyi menandakan notifikasi masuk. Keyla langsung fokus ke ponselnya. Senyumnya langsung mengembang ketika menatap layar ponselnya. Foto-foto Ayahnya memenuhi layar ponselnya. Foto itu memperlihatkan Arman sedang makan disuapi Kayla. Raut wajah Ayahnya yang juga terlihat lebih baik. Di akhir foto-foto itu ada caption yang ditulis Alvin.


(Semoga foto ini bisa sedikit mengobati kerinduanmu sampai saatnya kau bisa berkumpul dengan saudara kembarmu dan Ayahmu).


Tidak terasa air mata Keyla menitik namun bukan air mata kesedihan namun air mata kebahagiaan. Walau tidak dapat bersama tapi Ia sudah merasa senang juga lega kondisi Ayahnya sudah lebih baik.


"Apa Keyla baik-baik saja?" tanya Kayla saat Alvin mendekat ke arahnya. Kayla duduk disisi kanan ranjang Arman.


"Keyla baik-baik saja hanya saja aku tidak memberi tahu kondisi Om yang amnesia. Aku tidak ingin Keyla cemas berlebih."


Alvin memang sangat perhatian dengan Keyla membuat Kayla ikut senang kembarannya akan menikahi pria sebaik Alvin. Namun terkadang rasa iri muncul dalam dirinya sebagai wanita yang juga mencintai Alvin.


"Kau sangat mencintai Keyla?" tatap nanar Kayla ke Alvin.


"Keyla yang mampu membuatku melupakan masa laluku hingga yang tersisa di hatiku hanya namanya."


"Aku janji Kay, aku akan membawamu dan Ayahmu kembali ke tempatmu. Om Arman juga harus menjadi wali Keyla. Posisinya tidak bisa di gantikan dengan siapapun," sambung Alvin.


Keduanya menatap Arman yang terlihat tatapan kosong dari wajah pria paruh baya itu.


"Om, ingat saya?" Alvin mengusap punggung Arman membuat Arman menatap pria muda di sebelahnya.


Arman menggeleng.


"Siapa saya?" ucap Arman lagi ketika ditanyakan perihal siapa orang di depannya. Jangankan mengenal orang lain, Ia saja tidak mengingat siapa dirinya.


"Arghhh." Arman memegangi kepalanya yang terasa sakit jika terus dipaksakan mengingat sesuatu.


"Ayah. Dokter, Dokter!" Kayla menatap cemas Ayahnya sekilas lalu menatap pintu ruangan itu sambil berteriak-teriak.


Dokter juga seorang perawat masuk ke ruangan itu sesaat teriak Kayla.


"Tenang Pak." Dokter itu memberikan suntikan setelah Arman Arman terlihat tenang.


Arman kembali berbaring lalu tertidur setelah diberikan suntikan itu.


"Jangan paksa Pak Arman untuk mengingat masa lalunya karena semakin dipaksa rasa sakit di kepalanya akan kembali menyerangnya. Berikan waktu agar Pak Arman pulih dulu setelah itu kita bisa lakukan tetapi psikologi juga hipnotis," jelas Dokter itu.


"Baik Dokter."


Dokter meninggalkan ruangan itu meninggalkan Kayla juga Alvin dengan pemikiran masing-masing. Kayla keluar dari ruangan itu agar Ayahnya bisa beristirahat. Alvin pun mengekor di belakang Kayla.


"Pulanglah Alvin, sudah cukup malam."


Saat itu waktu menunjukkan pukul delapan malam.


Tiba-tiba dari kejauhan nampak seorang wanita berjalan ke arah Kayla dan Alvin yang masih berdiri di depan ruang rawat Arman.


"Kinara, ngapain kesini?" Alvin menatap heran Kinara yang saat itu tersenyum menatapnya.


"Kebetulan ketemu dengan Kak Alvin disini, pas bener." Kinara merogoh tas nya membuat Kayla dan Alvin saling menatap tidak mengerti.


"Ini dia," seru Kinara saat amplop yang di carinya ketemu.


"Kau, Kayla kan?"


"Iya aku Kayla. Ada apa, kau bukannya teman Keyla?" Kayla balik bertanya.


"Yap betul, kedatangan gue kesini sesuai permintaan Keyla untuk menyerahkan surat ini." Kinara menyodorkan amplop berisi surat ke tangan Kayla.


Kayla langsung membaca surat dari Keyla yang menjelaskan kenapa Ia tidak lagi ke rumah sakit juga permintaan maafnya karena akan menikah dengan Alvin. Keyla juga memberi pilihan jika Ia tidak setuju, Ia akan menolak Alvin.


"Kau pasti dalam masalah besar Keyla kenapa masih memikirkan aku dan Ayah," gumam Kayla saat sudah selesai membaca surat itu.


Saat Kayla ingin kembali memasukkan surat itu tiba-tiba selembar kertas jatuh ke lantai. Kayla memungut kertas itu dan ternyata sejumlah uang yang tertulis di dalam sebuah cek.


"Keyla." Mata Kayla nanar dengan perhatian Keyla padanya dan Ayahnya. Seminggu di rumah sakit, uang juga tabungan Kayla untuk kuliah habis.


Belum lagi terapi-terapi yang akan dijalani Ayahnya pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit namun saat ini Kayla merasa lega dengan pemberian uang dari Keyla.