
Happy Reading 😊
Keesokan paginya.
Keyla tengah makan pagi bersama ayah dan bundanya. Lagi-lagi Kayla sudah berangkat.
"Bunda sebenarnya apa yang kak Kayla kerjakan kenapa dia sangat sibuk dan bahkan lebih banyak kesibukannya di luar kantor?" Basa-basi Keyla. Ya karena tidak bertanya pun Ia sudah tahu alasannya Kayla mencoba menghindarinya.
"Kayla dia sibuk-"
"Sudah lah Bun, Keyla sudah tahu jangan bahas Kayla lagi." Keyla memotong penjelasan Jeni yang sebenarnya ingin memberitahu tentang kesibukan Kakaknya namun raut wajah Keyla terlihat tidak senang juga langsung memotong ucapannya membuat Jeni akhirnya diam tidak membahas tentang Kayla lagi.
"Bukannya suamimu sudah pulang lalu kenapa dia tidak menjemputmu?" telisik Arman. Akhir-akhir ini Keyla terlihat murung membuat Arman merasa ada yang tidak beres dengan putrinya itu.
Keyla hanya diam saja tidak merespon pertanyaan ayahnya membuat Arman dan Jeni saling menatap dengan kemurungan Keyla.
"Key!" sentak Jeni memegang bahu putrinya.
"Ah." Keyla tersentak menatap Jeni dengan ekspresi yang tidak dapat diartikan. Keyla yang hanyut dalam pikirannya bahkan tidak mendengar pertanyaan ayahnya tadi.
"Ada apa Nak, jelaskan apa kau ada masalah dengan suamimu!" cecer Jeni dengan gelagat aneh Keyla. Sangat terlihat wajah tertekan ditambah murung yang jelas itu bukan seperti Keyla yang biasanya yang selalu terlihat ceria.
"Keyla sudah selesai Bunda, Yah. Key berangkat dulu." Keyla bangkit dari duduknya mencium tangan ayah dan bundanya bergantian.
"Sebaiknya kau cari tahu apa yang terjadi pada Keyla, beberapa hari ini dia terlihat murung." Saran Arman.
Jeni mengangguk karena sebenarnya Ia juga ingin berbicara pada menantunya itu.
Beberapa kali Keyla menghembuskan nafasnya sembari mengendarai mobilnya menuju kantor. Tapi entah mengapa bukan arah ke kantornya tujuannya namun kantor milik Alvin.
"Kenapa aku malah kemari?" Keyla berdecak bingung dengan hati dan jiwanya yang tidak sejalan. Disisi lain ia begitu merindukan suaminya itu tapi disisi lain Ia menolak untuk tidak melihatnya.
"Aku akan melihatnya sebentar lalu aku akan pergi." Keyla meyakinkan dirinya untuk melihat sekilas sebelum pergi. Langkahnya mengayun menaiki lift menuju lantai dimana ruangan suaminya.
Breekkkkk.
Keyla mendorong pintu itu dengan keras karena sudah terlalu emosi. Sementara Zeva yang sempat melihat Keyla saat diluar ruangan tadi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ditahannya kepala Alvin membuatnya posisi keduanya begitu dekat dan lebih terlihat seperti sedang ciuman.
"Keyla." Spontan Alvin mendorong tubuh Zeva menjauhi tubuhnya.
"Bagus ya, baru sehari kita bertengkar dan kau sudah mencari wanita sebagai pelampiasan. Aku tidak yakin kau itu bertahan beberapa tahun hanya karena sulit melupakan Ziva karena nyatanya kau pria yang gatal!" cerca Keyla dengan senyuman sinis.
"Dan kau wanita murahan, kau sadar pria yang kau goda itu pria beristri!" umpat Keyla mendorong Zeva hingga membuat tersungkur nke lantai. Ia benar-benar marah dengan kelakuan Alvin dibelakangnya karena baru kali ini Ia melihat sisi berbeda pada diri Alvin.
"Apa yang kau bicarakan, kau seharusnya sadar sebagai seorang istri kewajibanmu mengurus suamimu tapi kau. Zeva berbaik hati memasang kan dasi untukku." Alvin menatap kesal Keyla lalu segera membantu Zeva bangkit.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alvin.
"Saya baik-baik saja Pak. Maafkan saya Pak karena saya anda dan istri anda jadi bertengkar." Zeva benar-benar total berakting seperti teraniaya padahal jelas-jelas Ia membuat Keyla salah paham demi membuat pasangan itu semakin saling membenci.
"Kau tidak salah keluar lah!" perintah Kevin dengan lembut. Zeva menurut dengan melangkah pergi.
"Aku tekankan lebih baik segera ceraikan aku jika kau ingin wanita ****** yang berusaha menjadi Ziva itu dekat-dekat denganmu. Tapi sayang ****** itu bukan Ziva hanya serupa saja," sindir Keyla dengan sinis.
"Kau sejak kemarin bicara yang tidak-tidak atau jangan-jangan kau yang sebenarnya menyimpan pria lain," tukas Alvin balik menuduh. Bagaimana tidak karena sebelumnya mereka tidak memiliki masalah namun Keyla seakan mencari masalah dan malah balik menudingnya yang bersalah dengan semua masalah yang dibuatnya.
"Kau memang payah seharusnya aku berpikir seribu kali untuk menikah denganmu dulu!" Lagi-lagi Keyla mengucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan bagi Alvin. Kata-kata penyesalan dan bahkan hinaan.
"Kau keterlaluan!" Alvin yang meradang dengan semua hinaan untuknya mencengkram bahu Keyla dengan tatapan menghujam.
"Cepat kau talak aku cepat," gumam Keyla dalam hati. Ya, Keyla sengaja memancing emosi Alvin untuk mengatakan ucapan itu.
"Kau jangan berharap aku akan menceraikanmu, sampai mati aku tidak akan menceraikanmu!" tegas Alvin. Ia menghempas tubuh Keyla lalu melangkah beberapa langkah dan memalingkan tubuhnya menghindari menatap Keyla. Dengan cara seperti itu Ia menahan emosinya karena jika tidak bisa saja melakukan perbuatan kasar pada Keyla karena begitu emosi dengan perkataannya.