
Keyla berjalan santai memasuki rumahnya sepulang dari kantor Alvin lalu duduk lesu di sofa.
"Dari mana kamu?" Jeni menatap putrinya itu dengan tatapan penuh intimidasi.
Bukannya menjawab Keyla malah tersenyum nyengir karena sebelumnya dia kabur dari bundanya itu.
"Maaf Bunda, Keyla tadi ada urusan mendadak." Keyla sengaja berbohong agar bundanya itu tidak marah.
Jeni mengamati Keyla dari ujung kaki hingga kepala membuatnya menatap curiga karena penampilan Keyla nampak sedikit berbeda dari biasanya.Sepatu hak tinggi, rok mini juga anting yang biasanya Keyla tidak pernah memakainya karena Keyla sering berpenampilan tomboi.
"Kau punya pacar?" tanya Jeni.
Keyla seperti sedang diintimidasi dengan pertanyaan bundanya itu karena belum juga menjawab Jeni sudah menatap tajam kearahnya.
"Mana ada bunda, Key hanya-"
"Kau tidak boleh pacaran Keyla!kau harus fokus ke perusahaan, Bunda sudah lelah jadi kau harus belajar cepat agar bisa memegang perusahaan sendiri!" tegas Jeni.
Keyla hanya bisa menghela nafas panjang karena mau tidak mau harus menuruti perintah bundanya.
"Betul apa kata Bundamu, Key.Kau harus segera belajar karena kau satu-satunya pewaris Brawijaya Grup," sahut pria yang kini berusia tujuh puluh lima tahun yang tak lain kakek Keyla.
"Ayah!" bentak Jeni dengan raut wajah menahan amarah.Jeni langsung menuju kamarnya meninggalkan Keyla dan pria tua itu.
"Ada apa Kek, kenapa Bunda tiba-tiba marah?" Keyla nampak bingung dengan kemarahan yang ditampilkan Bundanya itu.Pria tua itu hanya tersenyum namun senyumnya itu menyimpan sesuatu yang membuat Jeni berpikir dirinya orang tua yang kejam.
Keyla yang tidak mendapat jawaban dari kakeknya langsung menuju kamarnya.
***
Keesokan paginya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Pintu kamar Keyla diketuk beberapa kali membuatnya langsung menutup telinganya dengan bantal namun sesaat karena tiba-tiba selimutnya ditarik menjauhi tubuhnya.
"Bunda!Key masih ngantuk, 10 menit lagi."
Keyla kembali memejamkan matanya setelah sempat terbuka.
"Keyla Angelina!" Jeni emosi menarik tubuh Keyla membuatnya jatuh ke lantai.
"Aw, sakit bunda!" keluhnya kesal.
"Cepat bersiaplah, Bunda tunggu dibawah!" perintah Jeni.
20 menit kemudian Keyla turun ke lantai bawah dengan setelan pantsuit yang membuat penampilannya seperti orang kantoran.Mulai hari ini Keyla akan belajar di kantor milik keluarganya.Brawijaya Grup yang didirikan oleh kakek buyut Jeni lalu turun temurun ke anak cucunya.
"Sempurna," puji Jeni sambil tersenyum melihat penampilan Keyla menggunakan setelan kerja untuk pertama kali.Keyla hanya mengerucutkan bibirnya kesal karena dipaksa pergi ke kantor padahal baru beberapa hari dia pulang ke Indonesia.
Sesampainya di kantor Keyla disibukkan dengan ocehan Antoni yang ditugaskan Bundanya untuk membuatnya memahami pekerjaannya di kantor.
"Pak An bisakah kau berhenti bicara," keluh Keyla.Sedari tadi Antoni terus berbicara membuat kepalanya pusing.
"Tapi Non maksud saya Ibu Keyla-"
"Ibu!" Potong Keyla dengan mata tajamnya menghunus Antoni.
"Itu perintah," sambung Antoni.
"Ini juga perintah, Nona." Keyla menekan ucapan nona agar Antoni menuruti perintahnya.Pria itu hanya bisa menunduk sebagai tanda patuhnya.
Keyla yang belum terbiasa dengan rutinitas barunya malah ketiduran ketika Antoni meninggalkan ruangannya sesaat membuat Jeni yang sekedar ingin melihat putrinya itu saat bekerja hanya bisa menghela napas.
"Keyla bangun!" sentak Jeni dengan suara keras membuat Keyla terkejut spontan langsung berdiri.
"Siap," ucapnya memberi tanda hormat.
Keyla kembali mempelajari setumpuk berkas di meja kerjanya setelah Jeni keluar dari ruangannya.
.
.
Keyla bangkit dari duduknya setelah seharian duduk disana sambil menggeliat menarik tubuhnya yang kaku.Keyla merasa sangat lelah karena tingkahnya yang biasa bar-bar menjadi anak manis yang hanya duduk di tempat.Mulai hari ini ia harus membiasakan diri dengan rutinitas barunya.
Antoni memasuki ruangannya."Saya akan mengantar anda pulang," tawar Antoni.
Keyla menyadari, mulai hari ini pria tua itu akan mengikutinya kemana-mana.Antoni baru berusia 35 tahun namun diusianya itu belum juga menikah membuat Keyla menyebutnya pria tua.
"Pak An, boleh aku usul?"
Antoni menatap wajah Keyla dengan perasaan tidak baiknya karena Nonanya itu selalu membuat ulah.
Bekerja dengan keluarganya Brawijaya sejak masa kuliah membuatnya mengenal betul Nonanya itu.Karena kebaikan hatinya menolong Jeni membuat hidupnya berubah.Atas permintaan Jeni, Antoni bisa berkuliah dan bekerja di perusahaan milik keluarganya Jeni.Jeni bahkan menjadikannya sebagai orang kepercayaannya karena alasan itulah Antoni mengabdikan dirinya pada keluarga Jeni.
Antoni ternganga setelah mendengar permintaan Nonanya itu. "Sekertaris anda sudah dipersiapkan, Nona."
"Aku tidak peduli karena aku mau hanya Kinara yang jadi sekertarisku!" tegas Keyla.
Beberapa hari lalu sahabat SMA nya Nara meneleponnya dan meminta dicarikan pekerjaan namun karena waktu itu dirinya belum berencana bekerja Keyla belum terpikirkan.Keyla berpikir adanya Nara akan menghilangkan kebosanannya di kantor.