
Happy Reading 😊
Keesokan paginya.
Kayla terjaga dari tidurnya dan spontan melihat ke arah sofa dimana biasanya Ricky tidur. Ia menunduk kecewa karena ternyata Ricky tidak pulang semalam. Ia memejamkan matanya mengingat kembali kata-kata Ricky walaupun yang dikatakannya adalah kebenaran tapi entah mengapa Kayla merasa sangat sedih dengan perkataannya
"Apa yang aku pikirkan kenapa aku harus sedih dengan semua ini yang terpenting Ricky masih bersikap baik di depan keluargaku. Masa bodoh apa yang dilakukan di luar yang terpenting adalah kesembuhan ayah." Ingat Kayla pada dirinya sendiri setelah sempat menitikkan air mata.
.
.
Sebelum berangkat kerja Kayla melihat keadaan ayahnya terlebih dahulu.
Kayla mencium tangan ayahnya setelah masuk ke kamar itu.
"Bagaimana keadaan Ayah?" Kayla duduk tepat di dekat Arman yang terbaring
"Ayah baik-baik saja Nak, kenapa wajahmu?" Arman mengusap wajah Kayla dan mempertanyakan mata Kayla yang terlihat sembab.
"Kay hanya kurang tidur Ayah, banyak pekerjaan di kantor membuat Kayla tidak bisa tidur nyenyak," kilah Kayla.
"Jangan membohongi Ayahmu ini karena itu tidak berguna. Apa kau bertengkar dengan suamimu, dari kemarin ayah belum melihatnya? Kay maafkan Ayah karena memaksamu menikah cepat." Arman merasa bersalah. Pria paruh baya itu bahkan menitikkan air mata karena merasa hanya membuat putrinya semakin menderita. Sudah sejak lama Ia hanya menyembunyikan sakitnya demi membuat Kayla tidak cemas namun kali ini Ia malah menekan Kayla dengan pernikahannya. Ia hanya ingin sebelum pergi bisa melihat Kayla menikah dan bahagia.
"Ayah jangan bicara seperti itu, Kay bahagia sangat bahagia. Memang itu yang Kay harapkan menikah dengan orang yang Kay cintai secepat mungkin." Kayla tersenyum lalu menyeka air mata ayahnya.
"Ayah hanya perlu fokus untuk kesembuhan Ayah jangan pikirkan yang lain lagi. Sebentar lagi cucu ayah pasti akan segera hadir, Kay janji," imbuh Kayla. Entah mengapa perkataan itu keluar begitu saja dari mulutnya karena tidak mungkin Ia dan Ricky akan memiliki anak terlebih pernikahan mereka yang hanya pura-pura. Semua demi kesembuhan ayahnya apapun akan Kayla lakukan meski harus berbohong sebesar itu pada ayah dan bundanya.
"Maaf karena Kay membohongi ayah karena yang Kay mau hanya kesembuhan Ayah," gumam Kayla.
Kondisi Arman pasca operasi yang belum memungkinkan apalagi resiko yang dapat terjadi pasca operasi itu membuat Kayla harus menjaga suasana hati Arman.
"Ayah tidak perlu lagi waktu lama karena melihat kau dan Keyla bahagia itu sudah cukup." Arman berucap dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah apa yang kau bicarakan, kau harus hidup lebih lama lagi karena kau harus menggendong anakku!" ucap Keyla dengan nada tinggi karena bagaimanapun juga ayahnya harus tetap hidup. Mendengar ucapan pesimis dari ayahnya membuat Kayla marah.
"Baiklah Ayah janji," sela Arman membuat Kayla yang tadinya cemberut kini tersenyum senang.
"Baiklah Ayah istirahatlah yang banyak, besok Kay akan antar Ayah ke rumah sakit untuk pemeriksaan." Kayla menyelimuti tubuh ayahnya lalu beranjak dari duduknya melangkah keluar dari kamar itu.
Jeni menarik tangan Kayla masuk ke kamar lain.
Setelah cukup lama saling menatap dalam diam akhirnya Jeni perlahan membuka pembicaraan.
"Apa kau benar-benar mencintai Ricky?" Jeni memegang bahu Kayla dengan pertanyaannya.
"Kenapa Bunda bertanya seperti itu, Kay sangat mencintai Ricky. Ricky hanya harus mengurus urusan penting bukan seperti yang Bunda pikirkan!" Kayla menjawab dengan ketus dengan ekspresi wajah menahan marah.
"Kenapa kau begitu sensitif Bunda hanya bertanya."
"Bunda sama saja tidak mempercayai aku dengan pertanyaan bodoh itu, Kay harus pergi!" Kayla yang masih marah pergi begitu saja sedangkan Jeni masih berdiri di tempatnya.
"Sebaiknya aku lupakan semua itu karena yang paling penting adalah kebahagiaan Kayla," gumam Jeni.
Begitu keluar dari pintu rumah, Ricky sudah menunggu di samping mobilnya. Keduanya saling menatap cukup lama dengan pemikiran masing-masing. Fi detik selanjutnya Kayla hendak masuk ke mobilnya namun dengan sigap tangannya ditarik Ricky.
"Lepaskan!" pekik Kayla sambil meronta.
"Sebaiknya kau ikut jika tidak ingin orang tuamu semakin curiga." Ricky kembali menarik tangan Kayla. Kali ini Kayla menurut saja.
Tanpa Kayla sadari, bundanya mengintip dari balik jendela dan Ricky menyadarinya.
Tidak ada obrolan yang terjadi saat perjalanan ke kantor itu hanya keheningan.
"Aku akan tetap bersikap seolah suamimu saat di depan keluargamu tapi untuk urusan pribadiku jangan pernah mencampuri!" tegas Ricky setelah mobil itu berhenti tepat di depan kantor Brawijaya.
"Baiklah, terima ...." Belum juga menyelesaikan ucapannya Ricky sudah lebih dulu turun dari mobil. Pria hangat itu tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Selama jam kantor Ricky juga membatasi pembicaraan atau pertemuan dengan Kayla. Hanya hal penting saja Ia akan bicara.
"Ricky kau temani aku ke peru-"
"Bu Kayla bisa pergi dengan Sekertaris Pinka karena saya masih ada tugas penting yang harus segera diselesaikan" tolak Ricky tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputernya.
Kayla sedikit kecewa karena biasanya Ricky tidak pernah sekalipun menolaknya walau sesibuk apapun tapi kini Ia menolak.
"Oh baiklah." Kayla akhirnya pasrah Ia melangkah pergi bersama Pinka yang mengekor dibelakangnya.