Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 70. Keputusan Kayla



HAPPY READING 😊


...----------------...


Kayla turun baru angkutan umum setelah sampai di depan kantor Handoyo Group tempatnya bekerja beberapa tahun terakhir. Kayla kembali menatap surat pengunduran dirinya yang berada di tangannya.


"Aku harus melakukan ini, ya keputusanku sudah bulat." Kayla meyakinkan keputusannya. Ia melangkah lebih keyakinan memasuki gedung itu.


.


.


"Kay kau sudah kembali kerja," sambut Hans saat melihat kedatangan rekan kerjanya yang kembali bekerja.


"Tidak Hans aku datang bukan untuk bekerja tapi ...." Kayoa tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menggenggam erat amplop ditangannya.


"Jangan katakan kau mengundurkan diri." Tebak Hans. Hans tahu betul bagaimana perasaan Kayla selama ini dan hubungan apa yang terjadi pada CEO Nya dan Kayla. Selama ini Ia diam bukan karena tidak tahu tapi Ia menghargai perasaan rekan kerjanya itu.


"Baiklah aku mengerti, semua keputusanmu pasti kau sudah memikirkan masak-masak. Semoga kau bisa bekerja di tempat yang lebih baik." Hans memegang bahu Kayla sebagai bentuk dukungannya.


"Terima kasih, aku akan masuk dulu." Kayla melangkah menuju ke ruangan Alvin.


"Masuk," jawab Alvin dari dalam ruangan itu setelah sebelumnya terdengar ketukan pintu. Kayla tertegun menatap Alvin saat pria yang kini berstatus saudara iparnya itu tidak mengalihkan dari layar komputernya.


"Wajah itu wajah yang selalu aku lihat setiap hari tapi kini aku harus melupakannya. Tidak pantas lagi bagiku untuk memikirkan pria itu karena sekarang dia adik iparku," gumam Kayla.


Alvin yang menyadari di tatap Kayla sesaat Ia membiarkan wanita itu dengan pemikirannya.


"Ah maafkan aku." Kayla yang tersadar Alvin sudah menyadari keberadaannya melangkah mendekat. Ia menyerahkan surat pengunduran dirinya ke meja Alvin.


"Kenapa kau ingin mengundurkan diri, apa kau ingin naik gaji atau kau sudah menemukan perusahaan yang lebih baik dari pada perusahaanku?" telisik Alvin.


"Lebih baik kita tidak sering bertemu, kau sekarang saudara iparku." Kayla menunduk dengan penjelasannya. Sungguh Ia tidak bisa melihat pria itu lebih jauh karena jelas air matanya akan menitik.


"Saat di pernikahannya aku bahkan tidak sesedih ini tapi entah mengapa saat ini air mataku serasa tidak mampu aku tahan. Rasanya aku ingin tenggelam di dasar lautan dari pada harus menatapnya," gumam Kayla dalam hati. Walaupun tidak pernah sekalipun perasaannya diterima pria itu namun kebersamaanya selama beberapa tahun jelas terukir di ingatannya.


"Aku berharap anda memahami keinginan saya, sebagai bawahan saya mengucap terima kasih atas semua bimbingan anda dan saya juga meminta maaf. Permisi." Kayla menunduk lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi.


"Kayla tunggu," pekik Hans saat melihat Kayla keluar dari ruangan itu.


"Maaf Hans lain kali kita bicara aku ad urusan penting." Kayla bergegas pergi. Ia setengah berlari agar rekan kerjanya itu tidak mengejarnya.


Kayla melangkah dengan cepat Ia benar-benar harus segera keluar dari gedung itu.


Hiks ... hiks.


Kayla menyeka air matanya yang terus saja keluar walaupun Ia sudah mati-matian menahannya.


"Ternyata sesakit ini, lebih sakit daripada ditolak. Kau harus kuat Kayla semua yang kamu lakukan sudah benar." Kayla melangkah terhuyung sambil terus menyeka air matanya. Kehilangan Alvin ketika menikah Ia tidak begitu sedih namun perpisahan yang Ia bangun bertahun-tahun rasanya jauh lebih sakit.


Hiks ... hiks.


Tiba-tiba seseorang memberinya tissue yang langsung diletakkan ndi telapak tangannya.


"Kak Rendy." Kayla tertegun menatap pria di depannya. Ia mengambil tissue dari tangannya dan langsung mengusap mata dan pipinya yang basah.