
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, waktunya untuk istirahat makan siang.Kayla menunggu Alvin keluar dari ruangannya namun pria itu tak kunjung keluar.Lima belas menit menunggu namun tetap Alvin tidak keluar dari ruangannya sedangkan Ziva sudah memberitahunya sudah berada di restoran dekat kantornya.
"Apa aku ajak saja Alvin makan siang?" gumam Kayla.Ia melangkah menuju ruangan Alvin namun saat berada di depan pintu ia kembali berpikir. "Sebaiknya aku tak mengatakan apapun menyangkut Ziva, Alvin sudah cukup menderita.Aku tidak ingin pria itu semakin menderita," pikir Kayla.
Kayla pun melangkah pergi menuju tempat janjian dengan Ziva.
.
.
Setengah jam berlalu Kayla kembali ke kantornya setelah makan siang dengan Ziva.Kayla menatap ruangan Alvin membuatnya bernapas lega karena atasannya itu masih di dalam sana tidak mengetahui jika Ia bertemu Ziva.
Baru lima menit duduk, Alvin tampak keluar dari ruangannya.
"Pak Alvin, anda mau kemana?" Kayla berbicara resmi jika ada karyawan lain.
"Aku akan keluar sebentar, aku akan segera kembali," jelas Alvin.Alvin menyadari satu jam lagi akan ada pertemuan dengan beberapa investor.
Saat hendak keluar dari area kantornya Alvin menghentikan mobilnya saat tidak sengaja melihat mobil yang lewat di depannya, didalam mobil itu ada Ziva dan suaminya.Alvin tertegun melihat kebahagiaan yang terlihat beberapa detik itu membuatnya serasa sesak.Alvin sampai memejamkan matanya saat Ia tak bisa menahan sakit dihatinya.
Beep .... Beep ....
Suara klakson mobil membuyarkan keheningannya.Mobil Alvin segera keluar dari tempatnya berhenti dan kembali masuk lewat area masuk.Pria itu mengurungkan niatnya untuk ke kantor Keyla.
Langkahnya gontai kembali memasuki lobby kantornya lalu kembali naik menuju ruangannya.Saat ini Kayla mengamati Alvin yang baru sepuluh menit lalu pergi dan kini sudah kembali.Kayla mengurungkan niatnya untuk bertanya kerena terlihat aura dingin dari wajah pria itu.
.
.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore.Alvin bersiap-siap pulang namun Ia akan menjemput Keyla terlebih dulu.Pria itu keluar dari ruangannya.
"Alvin tunggu!" pekik Kayla mendekat.
"Maaf Kay, aku tidak bisa mengantarmu pulang karena-" Alvin mengehentikan ucapannya karena mungkin perkataannya akan membuat Kayla tidak senang.
"Aku tahu, aku bukan ingin memintamu untuk mengantarku tapi aku ingin bicara-"
"Sudah kita bicara besok saja karena aku harus pergi sekarang," potong Alvin.Pria itu melihat jam di pergelangan tangannya sepertinya terburu-buru.
"Baiklah, kau pergi sana," sahut Kayla.
Kayla sedikit kecewa dengan sikap Alvin, semenjak ada Keyla bahkan Alvin tak memberinya waktu bicara walaupun hanya sebatas teman.
"Kau sudah melupakan aku, Alvin," keluh Kayla dalam hati.
"Sudahlah, apa hak ku kau seorang CEO.Berteman denganku sangat tidak cocok denganmu," gumamnya lagi.Ia bergejolak dengan pikirannya sendiri antara sedih juga kecewa yang bercampur menjadi satu.
.
.
Alvin sudah berada di kantor Keyla.Keyla juga tampak bersiap-siap pulang.
"Alvin kau pulang sendiri saja, aku ada perlu dengan seseorang, iya kan, Ra." Keyla menatap Kinara sekilas lalu berpindah ke Alvin.
Melihat gelagat aneh dari Keyla juga Kinara Alvin bisa menebak dua serangkai itu pergi kemana.
"Apa aku tidak bisa ikut?" Alvin menatap Keyla lalu Kinara berharap mereka akan mengizinkan.
Keyla menjadi bingung harus bicara apa.
"Tidak boleh karena kita harus membeli perlengkapan wanita," sahut Kinara dengan ekspresi jengahnya.
"Ok, aku akan pulang." Pria itu bangkit dari duduknya lalu melangkahkan keluar.
Keyla dan Kinara pun bernapas lega karena akhirnya mereka bisa bertemu Ziva tanpa diketahui Alvin.Keyla sengaja bersekongkol dengan Kinara karena Ia tidak ingin mengingatkan sesuatu tentang Ziva pada Alvin.Ia tahu betul menatap Ziva saja sudah membuatnya merasa kesakitan.
.
.
"Hai twins," sapa Keyla sesaat datang.
Twins pun bersembunyi di belakang Mommy nya, entah mengapa twins masih saja ketakutan ketika melihatnya.
"Sayang Aunty Key sayang sama kalian, ayo salim," tegas Ziva namun dengan nada yang lembut.
Perlahan twins pun keluar dari persembunyiannya lalu mencium tangan Keyla juga Kinara.
Keyla langsung mendekap keduanya gemas karena sejak pertemuan pertamanya twins selalu saja takut padahal Ia sangat gemas dengan keduanya.Twins pun sedikit mulai akrab dengan kedua sahabat Mommy- nya.
Keduanya melangkah bersama Keyla menggandeng Axel, Kinara dengan Alexa serta Ziva dengan suaminya.
Kebersamaan mereka diamati dari jauh oleh seorang pria yang tak lain adalah Alvin.Alvin sengaja mengikuti kemana Keyla pergi.Sesuai dengan dugaannya, Keyla bertemu dengan Ziva.Namum Alvin menjadi berpikir, kenapa Keyla membohonginya.
.
.
Setelah membelikan baju juag mainan untuk twins, rombongan itu menuju ke kediaman Keyla.
Kedatangan mereka disambut Jeni yang begitu bahagia melihat kelucuan Axel dan Alexa.
"Lucu sekali cucu-cucu Oma." Jeni memeluk dan mencium twins.Twins pun langsung fokus ke mainan baru yang di belikan Keyla.
Jeni memeluk Ziva. "Terima kasih ya Ziva sudah mau datang ke rumah Tante."
"Sama-sama Tante, ziva juga berterima kasih Tante repot-repot membelikan twins baju juga mainan." Ziva mengurai pelukannya.
Setelah cukup lama berbincang-bincang lalu melanjutkan acara makan malam.
.
.
Waktu terus berlalu hingga twins sudah tidur di pangkuan mommy dan daddy-nya.Arsha meminta izin untuk pulang.
"Kenapa tidak menginap disini saja," ucap Jeni.
"Sebenarnya kami sangat ingin Tante, namun pagi- pagi harus kembali ke Bandung," tolak Arsha dengan sopan.
"Baiklah Tante nggak bisa memaksa, hati-hati ya." Jeni kembali memeluk Ziva sebagai tanda perpisahan.
Keyla pun nampak berkaca-kaca karena kebersamaan mereka akan segera berakhir.Entah kapan lagi mereka akan bertemu.
"Kau bisa main ke Bandung kan, kenapa melow gitu." Ziva mencubit gemas pipi sahabatnya itu.Keyla langsung memeluk Ziva begitu juga dengan Kinara.Sebelum pergi Kinara dan Keyla mencium twins yang tertidur lelap dalam gendongan mommy dan daddynya.
Mobil Arsha pun melaju pergi meninggalkan kediaman Keyla.
***
Keyla yang bersiap tidur di ranjangnya memeriksa ponselnya sesaat karena terlalu asyik dengan twins Ia melupakan ponselnya.
Beberapa notifikasi masuk dari Alvin, beberapa kali Alvin menghubunginya.Keyla pun langsung menghubungi balik Alvin.
"Maaf Alvin, gue sibuk tadi sampai tidak mendengar telepon elo."~Keyla.
Saat itu tidak ada respon dari Alvin.
"Alvin, elo dengerin gue nggak sih?"~Keyla.
"Kenapa loe bohongi gue, nyatanya loe tadi bertemu Ziva kan?"~Alvin.
"Gue ... maaf Alvin, gue cuma tidak ingin elo sedih lagi."
Tut ... tut. Telepon sengaja diputus oleh Alvin membuat Keyla menghela nafas panjang.
Keyla benar-benar dibuat bingung bagaimana harus bersikap di sisi lain Ziva adalah sahabatnya namun Alvin Ia juga sahabatnya.Keyla menganggap Alvin sahabatnya sejak mereka akrab apalagi kelak Alvin akan menjadi pendamping hidupnya.