
Arman keluar menuju teras bergabung dengan Keyla dan Alvin. "Lebih baik kalian cepat pergi karena Om akan pergi bekerja." Usir Arman sopan.
Arman menatap Keyla penuh saat itu ia sangat ingin memeluknya namun Ia berusaha menahan karena tidak mungkin hal itu ia lakukan walaupun sebenarnya ia sangat berhak.
"Om terima kasih ya sudah menolong Keyla kemarin, Keyla benar-benar tidak bisa membalas kebaikan Om." Keyla langsung memeluk Arman membuat Arman menahan senyum bahagianya padahal hatinya begitu senang sampai ingin meluap kalau saja ia tidak ingat siapa dirinya hanya orang lain bagi Keyla.Pertama kalinya Ia dipeluk putri yang sangat dirindukannya itu.
"Dimana Kayla, Om?" Keyla yang sudah mengurai pelukannya melihat arah dalam rumah itu namun tidak melihat Kayla.
"Kayla mungkin-"
"Ayo," sergah Alvin memotong ucapan Arman.Pria itu langsung menarik tangan Keyla pergi setelah melempar senyum sambil menunduk sebagai tanda pamit kepada Arman.Mobil pun melaju pergi meninggalkan Arman yang masih terpaku di tempatnya.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Kayla sesaat mobil itu pergi.
Arman menatap wajah putrinya itu yang masih terlihat jealous dengan kebersamaan Alvin dan Keyla.
"Kenapa mereka sepertinya menyukai pria yang sama, kenapa harus pria yang sama?" gumam Arman.Arman berpikir bukan hal baik bagi mereka berdua menyukai pria yang sama karena pasti ada salah satu diantara mereka yang terluka jika Alvin memilih satu diantaranya.
***
Keyla langsung turun dari mobil Alvin begitu mobil terhenti tepat di halaman rumahnya.Saat itu Alvin hendak memacu mobilnya pergi namun dari arah teras seorang wanita yang tak lain Jeni memanggilnya hingga Ia langsung turun dari mobilnya.
"Kok buru-buru Nak Alvin, masuk dulu." Jeni menarik tangan Alvin masuk ke dalam rumahnya sementara Keyla berlaku saja naik ke lantai dua mengabaikannya.
"Pasti kau buru-buru ke kantor, tunggu Keyla dia masih mandi." Jeni terus tersenyum menatapnya membuat Alvin terlihat canggung ditatap dengan waktu yang lama.
"Alvin, Tante dengar perusahaanmu semakin berkembang pesat ya, kau pasti sangat berbakat memimpin perusahaan.Tolong bantu Keyla, anak itu lama sekali belajar tidak seperti dirimu," puji Jeni dengan senyumnya.
Jeni benar-benar menatap Alvin penuh puja karena diusianya baru 24 tahun, pria itu sudah memimpin perusahaannya menjadi perusahaan nomer satu di negeri ini.
Mendengar pujian dari Jeni, Alvin hanya tersenyum sesaat.Pria itu memang tak bisa mengekspresikan dirinya karena seorang Alvin adalah pria yang selalu berekspresi datar dengan aura dinginnya.
Sementara Keyla langsung menuju kamar mandi setelah memasuki kamarnya.Selesai mandi Keyla langsung berganti pakaian dan merapikan penampilannya di depan cermin.Namun saat melihat pantulannya di cermin kembali ia mengingat ucapan Kayla tadi pagi.
"Sebaiknya aku melakukan semua rencanaku, aku ingin memastikan ucapan Kayla tidak benar.Keyla sangat yakin mereka hanya mirip saja karena memang di dunia ini ada orang yang benar-benar mirip namun tidak ada hubungan darah.
Keyla menuruni tangga setelah rapi dengan pakaian kerjanya.Fokus Keyla tertuju pada Alvin yang masih berada di rumahnya.Ia melangkah acuh melewati mereka.
"Key sini, Nak," panggil Jeni.
"Key mau ke kantor Bunda."
"Kamu bisa pergi nanti dengan Alvin." Jeni bangkit dari duduknya, menarik tangan Keyla untuk duduk.
Saat itu Alvin tengah memandangi foto album yang sedikit lusuh.
"Lihat kalian berdua, dari kecil kalian memang sudah serasi." Jeni menunjuk foto anak perempuan dan laki-laki berumur sekitar tiga dan empat tahun.Di detik berikutnya Jeni meninggalkan keduanya ketika ponselnya berdering.
Keduanya memang sangat menggemaskan di foto itu.Alvin sampai menahan tawa ketika menatap foto itu.
"Kau pasti menertawakan aku!" pekik Keyla dengan ekspresi kesalnya mendengus ke Alvin yang duduk tepat disampingnya.
Hahaha ....
Alvin tertawa lebar melihat ekspresi Keyla karena ekspresinya itu sama persis dengan ekspresi di foto itu.
"Kau itu seperti udang cacingan," umpat Alvin.
Keyla mengeratkan tangannya di dada."Kau sendiri seperti udang masuk angin di kutub utara!" Keyla tak mau kalah.Kali ini ia merasa menang karena pria itu tak membalas ucapannya.
"Sebaiknya loe kerokan dulu sana daripada tambah-"
"Kalian ini dari dulu sama walaupun begitu kalian tetap mencari satu sama lain," potong Jeni.
"Apa an sih Bunda, siapa yang mencari pria kutub seperti dia!" pekik Keyla.
"Kau wanita jadi-jadian," balas Alvin.
Jeni semakin terbahak-bahak menyaksikan Tom and Jerry di dunia nyata itu.
"Key berangkat, Bunda." Keyla mencium Bundanya lalu melangkahkan pergi sementara Alvin mengekor di belakangnya.
Saat di perjalanan Keyla tampak termenung membuat Alvin merasa aneh karena biasanya wanita itu selalu ngoceh tanpa henti seperti kereta cepat Shinkansen.
"Ada apa, ada masalah?" Alvin memberanikan diri untuk bertanya.
"Mm." Keyla tersentak dengan pertanyaan Alvin.
"Bukan urusan loe, lebih baik loe nyetir yang benar biar mobilmu yang seperti kura-kura ini cepat sampai."
Mendengar ucapan Keyla yang secara tidak langsung menghina mobilnya itu langsung tancap gas.Mobil Alvin melaju dengan kecepatan melebihi batas.
"Alvin hentikan mobilnya, Alvin ...!"
Keyla menjerit-jerit karena jantungnya seperti mau lepas namun pria itu semakin menambah kecepatan laju mobilnya, batinnya begitu puas saat Keyla menjerit-jerit.
"Alvin ...!" Keyla menjerit semakin keras sampai ia menutup mata.
Cit ... cit ....
Mobil Alvin mendecit dengan keras saat pria itu berusaha mengehentikan laju mobilnya dengan susah payah dengan menginjak rem.
"Kau ingin membuatku mati karena serangan jantung!" Keyla mendelik kesal ke arah Alvin.Pria itu malah menahan tawa dengan amarah Keyla.
"Kau!" Keyla kembali mendelik kesal lalu melangkah keluar dari mobil itu.
"Aku akan menjemputmu nanti sore," sergah Alvin.Tidak ada respon dari Keyla namun dibalasnya dengan menutup pintu mobil dengan keras membuat Alvin benar-benar sakit perut akan tingkah konyol wanita itu.
.
Keyla menggebrak mejanya saat sudah berada di ruangannya.Kinara yang mengekor di belakangnya menjadi ketakutan akan luapan amarah atasannya itu, Kinara melangkah mundur.
"Tunggu!" Keyla menghentikan Kinara.
Kinara melangkah maju dengan sangat lambat membuat Keyla semakin kesal.
"Woi kura-kura bisa lebih cepat nggak!" umpat Keyla.
"Kenapa sih pagi-pagi sudah gabut gitu?" Kinara berdiri di sebelah atasan juga sahabatnya itu dan langsung beraksi mengeluarkan jurus pendingin amarah ke bahu sahabatnya itu.
"Ahh, enak sekali." Keyla menikmati jurus andalan Kinara itu membuatnya sedikit rileks sampai memejamkan mata.
"Dua ratus juta masuk tabungan!" seru Keyla.
"What?" Seketika Keyla terbelalak dengan ucapan sahabatnya itu."Sejak kapan loe jadi Rentenir?"
"Sejak gue kerja sama sahabat sekaligus bos gue yang kaya raya." Kinara berucap sambil nyengir.
Di detik selanjutnya ekspresi Keyla berubah membuat Kinara bingung. "Ada apa?"
"Loe masih ingat nggak sama Kayla, wanita yang mirip sama gue?"
Kinara mengangguk.
"Gue merasa kemiripan kita itu bukan kebetulan saja.Kemarin malam gue nginep dirumahnya gara-gara Alvin be** itu ninggalin gue ditengah jalan," sambung Keyla.
"Terus apa hubungannya?"Kinara masih belum mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Bukan hanya gue yang curiga tapi Kayla pun berpikir kalau kita kembar."
"Jadi?" Kinara semakin tidak mengerti.Otaknya yang super lemot itu harus dijelaskan lebih detail agar mengerti.
Keyla sampai berkali-kali menghela nafas dengan sikap absurd Kinara.
"Jadi gue pikir gue pengen memastikan Kinara dengan cara melakukan tes DNA, loe ngerti!" pekik Keyla.
"Loe nggak usah berteriak, gue ngerti." Kinara sampai menutup telinganya karena Keyla berteriak di telinganya.