
HAPPY READING 😊
"Lalu kenapa ayah dan bunda tidak bersatu padahal jalan bersama sudah terbuka lebar?" telisik Alvin.
"Bunda dan ayah malah saling menyalahkan sikap masing-masing dan ternyata ayah sudah sembuh dari amnesia."
Seketika Alvin tertegun mendengar penuturan Keyla. Lalu untuk apa Arman menutupi kesembuhannya dan masih terus berpura-pura amnesia, itulah yang bikin memenuhi pikiran Alvin.
"Terkadang apa yang kita harapkan belum tentu terbaik untuk mereka. Sadarlah kau sudah terlalu berbuat jauh, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri." Alvin mengusap kepala Keyla berusaha memberi pengertian pada istrinya namu sebenarnya Ia memberikan pengertian pada dirinya sendiri jika sudah cukup Ia bercampur tangan.
***
Keesokan paginya.
Keyla melihat keadaan bundanya setelah semalaman tidak membuka mulut untuk bicara mungkin pagi ini bundanya jauh lebih baik.
"Bagaimana kondisi bunda, Bik?" tanya Keyla saat berpapasan dengan ART nya yang baru saja keluar dari kamar bundanya.
"Seperti semalam Non, Nyonya besar tidak berbicara apapun. Saya permisi Nona." ART nya melangkah pergi.
Keyla perlahan memasuki kamar bundanya terlihat bundanya hanya duduk dengan tatapan kosong.
"Bunda, kenapa jadi seperti ini? bicara lah padaku bunda jika perlu aku akan seret ayah kemari," bujuk Keyla. Namun lagi-lagi tidak ada respon.
Tok ... tok.
Mendengar pintu di ketuk Keyla segera membuka pintu kamar itu.
"Ada apa Bik?"
"Di bawah Tuan Antoni mencari Nyonya besar, Nona."
"Baiklah aku akan temui. Bik urus bunda bujuk bunda makan." perintah Keyla.
Setelah itu Keyla melangkah menuruni tangga.
"Nona, dimana Nyonya." Antoni mencari keberadaan Jeni karena yang di carinya Jeni bukan Keyla.
"Bunda sakit pak An, untuk sementara kantor aku yang akan handle tapi aku butuh bantuanmu."
"Pasti Nona." .
.
.
"Ternyata menjadi pimpinan tidak mudah."
"Lama-lama Anda akan terbiasa Nona, seharusnya dari dulu anda menjadi pimpinan yang bijaksana seperti ini pasti nyonya Jeni senang." Antoni berusaha memotivasi pimpinan baru nya.
Keyla kembali mengingat semua yang dilakukannya hanya sekedar bermain-main kini Ia sadar Ia tidak boleh main-main lagi dalam memimpin perusahaannya apalagi setelah Alvin menaikkan kembali perusahaan Manyang hampir bangkrut. Ia tidak boleh menyia-nyiakan bantuan Alvin begitu saja.
Drt ... drt.
Ponsel Keyla bergetar tertulis nama Alvin di layar ponselnya.
"Kau pasti di kantor."~ Alvin.
"Kau tahu padahal aku belum mengatakan apapun."~ Keyla.
"Tentu saja kau akan mengendalikan perusahaan siapa lagi?"~ Alvin.
Secara tidak langsung ucapan Alvin membuka pikiran Keyla karena Ia melupakan seseorang yang berhak memimpin perusahaan selain dirinya. Ya Kayla, dia juga berhak.
"Aku akan ke kantormu."~Keyla.
"Maaf Nona sepertinya tidak bisa karena sebentar lagi ada rapat presentasi, mengingat ini sangat penting sebaiknya anda tetap berada di kantor," sela Antoni di sela pembicaraan Keyla di telepon.
"Oh iya aku lupa tidak bisa lagi pergi sesukaku."
"Kau harus belajar bertanggung jawab. Pulang kerja aku akan menjemputmu."~Alvin.
"Baiklah."~Keyla.
Tut ... tut. Panggilan berakhir.
Sementara di tempat lain Kayla keluar masuk perusahaan melamar pekerjaan.
"Semoga kali ini kantor ini membutuhkan karyawan sehingga aku bisa di terima." Kayla berhenti sesaat di depan pintu masuk lalu melangkah masuk penuh keyakinan.
.
.
"Tolong periksa lagi mungkin Mbaknya melewatkannya tadi," pinta Kayla. Ya walaupun Security sudah memberitahu tidak ada lowongan Sekertaris di kantor itu namun Kayla tetap kukuh masuk dan bertanya langsung pada Resepsionis.
Resepsionis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak ada membuat Kayla kecewa namun sesaat karena di detik selanjutnya Ia mengatakan ingin menjadi Cleaning Service. Hanya lowongan itu yang tersedia hingga Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan demi menyambung hidup. Selagi Ia bekerja menjadi cleaning service Ia akan berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik.