Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 131. Melanjutkan Hidup



Sejak pulang ke rumah Kayla terus mengurung diri membuat Ziva merasa bersalah. Ia tidak tahu jika sahabatnya itu sangat marah karena sengaja bekerja sama dengan Ricky untuk pertemuannya ini. Kayla bahkan tidak mau berbicara dengannya membuat Ziva semakin merasa bersalah.


"Mom, aunty kenapa tidak membuka pintu kamarnya, sejak tadi kakak dan aku mengetuk pintu?" Alexa dan Axel duduk lesu ketika keinginannya untuk bermain bersama Kayla tidak terwujud.


"Sebaiknya kalian main sama Daddy, Daddy punya sesuatu untuk kalian." Arsha langsung menggendong kedua buah hatinya menuju kamar bermain demi membuat Ziva merasa tenang. Ia tahu betul jika istrinya itu butuh ketenangan agar bisa berpikir jernih tentang kejadian siang tadi.


Setelah cukup tenang Ziva mengambil nasi beserta lauk pauk untuk Kayla. Ia tahu betul sejak siang sahabatnya itu belum makan.


Tok!


Tok!


"Kay buka pintunya, aku bawakan makan malam untukmu, aku tahu kau pasti lapar. Tentang kejadian siang tadi aku sungguh minta maaf." Bujuk Ziva dengan lembut.


Tidak ada reaksi apapun dari dalam kamar itu membuat Ziva semakin putus asa. Sahabatnya itu sudah mengalami banyak hal yang menyakitkan bagaimana mungkin Ia merencanakan sesuatu yang kembali membuatnya terluka. Sungguh ia merasa menyesali akan kejadian tadi siang.


Sementara di dalam kamar itu Kayla terus saja menangis. Ia telah kehilangan segalanya dari hidupnya, ayahnya dan bahkan janin dalam perutnya. Depresi berat membuat Kayla keguguran dan sejak saat itu Kayla berjanji untuk tidak memikirkan masa lalunya. Namun pertemuannya dengan Ricky membuat luka lamanya itu kembali menganga. Sungguh hanya tersisa keperihan yang kini menyelimuti relung hatinya.


"Jika kau terus seperti ini aku akan menunggumu di depan kamarmu sampai kau mau membuka pintu!" ancam Ziva karena Kayla terus saja Tidak beraksi dengan bujukannya.


"Kau tahu Kay selama ini aku begitu keras padamu hanya ingin kau bahagia. Keyla juga Tante Jeni menumpukan semua harapannya padaku. Kami semua menyayangimu dan berharap kau bahagia. Om Arman pasti juga berharap seperti itu jadi lanjutkan hidupmu demi kebahagiaanmu," tutur Ziva.


Tidak ada yang Ziva inginkan selain membuat sahabatnya itu mengerti.


"Kau membenciku itu hakmu tapi perutmu tidak berhak kelaparan-"


"Ih kau ini cerewet sekali mengganggu tidurku saja." Suara yang langsung terdengar begitu pintu terbuka.


Kayla akhirnya mau membuka pintu dan membiarkan sahabatnya itu masuk.


"Duduklah dulu aku akan mengambil makanan baru untukmu." Ziva mendudukkan Kayla di kursi kamarnya sementara Ia pergi beberapa saat.


Setelah lima menit akhirnya Ia kembali. Senyum sumringahnya membuat Kayla merasa aneh. Sebahagia itu sahabatnya itu membuatnya merasa bersalah karena bagaimanapun juga Ziva tidak ada niat buruk padanya.


"Ayo buka mulutmu!" perintah Ziva saat suapannya sudah berada di depan mulut Kayla. Segera Kayla membuka mulutnya lebar-lebar suapan penuh cinta langsung lumer di mulutnya. Sungguh keberuntungan yang tidak ternilai memiliki sahabat sebaik dan selembut Ziva.


Tiba-tiba buliran bening menetes di pipi Kayla, tanpa aba-aba Ia langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.


.....


"Dimana ini?" Kayla melihat sekeliling ruangan disana senyum hangat seorang pria menyambutnya. Senyum yang sangat ia rindukan kini terpampang jelas di depan matanya.


"Ayah aku selalu merindukan ayah dan seperti janji Ayah tidak akan meninggalkan aku, ajak aku kemana Ayah pergi." Kayla menatap harap wajah ayahnya.


"Kau sudah dewasa Nak hidupmu masih panjang jangan sia-siakan lagi, Ayah berharap kau bahagia. Ayah harus pergi." Arman bangkit dari duduknya membuat Kayla merasa sangat bersedih.


"Ayah jangan pergi bawa Kay kemana ayah pergi, jangan tinggalkan Kay sendiri," rengek Kayla sembari memegang erat lengan Arman.


"Kau harus melanjutkan hidupmu Nak, jangan menyesali apapun semua yang terjadi adalah takdir. Banyak orang-orang yang menyayangimu. Selamat tinggal Nak."


Tiba-tiba saja Arman hilang begitu saja dari pandangan Kayla.


"Ayah!" teriak Kayla.


"Hah huh." Kayla terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah disertai keringat yang membasahi wajahnya.


"Mimpi ini mimpi?" Kayla menyadari jika pertemuannya dengan ayahnya hanya sebuah mimpi namun mimpi itu sangat jelas.


"Mungkinkah ini keinginan ayah?" Masih setengah sadar Kayla mencerna mimpinya tadi.


Keesokan paginya.


Kayla menuruni tangga sembari mengangkat koper kecil yang ikut dibawanya turun.


"Kay ayo sarapan," tawar Ziva ketika melihat sahabatnya mendekat. Namun fokusnya berpindah saat melihat Kayla membawa koper bersamanya.


"Aunty mau kemana, apa mommy mengusir Aunty lagi?" Axel langsung mengarahkan tatapan menghujam ke arah mommy nya. Begitu juga dengan Alexa dan Arsha.


Mendapat tatapan intimidasi dari ketiganya Ziva memilih mengabaikannya dan langsung mendekat ke arah Kayla.


"Kay kau masih marah, maaf kan aku." Ziva memeluk tubuh Kayla sembari menangis terisak-isak.


"Hei jangan salah, dengerin semuanya. Mulai hari ini aku akan kembali ke Jakarta sudah cukup aku menyusahkan kalian." Kayla menatap Ziva lalu berpindah ke Arsha juga Twins.


"Tidak Aunty tidak boleh pergi." Axel dan Alexa langsung memeluk erat tubuh Kayla. Melihat kesedihan Twins, Kayla langsung menenangkan. Kayla mensejajarkan tingginya dengan tinggi Twins.


"Aunty akan sering-sering main jika tidak Twins ajak mommy sama daddy main ke tempat Aunty." Kayla memberi pengertian Twins dengan kelembutan sembari mengusap pipi bocah kembar identik itu. Twins langsung memeluk tubuh Kayla. Sungguh selama sebulan ini mereka habiskan dengan bersenang-senang membuat Kayla sesaat melupakan kesedihannya namun saatnya untuk kembali dan melanjutkan hidupnya.


"Terima kasih Twins," ucap Kayla sebelum akhirnya melaju dengan mobilnya.