Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 62. Hari Pernikahan.



HAPPY READING 😊


...----------------...


Sejak pagi Keyla sudah dirias oleh MUA. Gaun pengantin sudah melekat di tubuhnya juga mahkota sudah bertengger di kepalanya. Gadis tomboi nitu berubah 360 derajat menjadi gadis yang sangat cantik dan memukau.


"Kau cantik sekali sayang, benar-benar Bunda sampai tidak mengenalimu." Jeni berdecak kagum menatap kecantikan sang putri.


Namun bukan raut kebahagiaan yang terpancar di wajah Keyla karena saat itu Ia tampak gelisah.


"Ada apa sayang?" Jeni menatap raut kegelisahan itu dan mencoba mempertanyakan.


"Key ..."


Saat itu Medina badan Nara memasuki ruangan itu membuat Keyla yang ingin mengatakan sesuatu langsung terfokus pada kedua sahabatnya.


"Oh Medina, Kinara." Jeni mengulurkan tangannya saat kedua sahabat putrinya itu ingin menjabat tangannya.


"Untung kalian datang, temani Keyla ya Tante mau menyambut tamu yang datang." Lega Jeni.


"Iya Tante," jawab Medina.


"Tenang Tante ada Kinara pasti rebes e beres maksudnya," timpal Kinara yang langsung di tepuk Medina karena masih saja bertingkah di depan Bunda Keyla.


"Terima kasih ya." Jeni menepuk bahu kedua sahabat putrinya itu lalu beranjak pergi.


Sepeninggalan Jeni baik Medina maupun Nara fokus ke Keyla.


"Wah wah cantik banget sahabat aku." gemas Kinara menatap seksama wajah sahabatnya itu dengan menahan kepalanya hingga tidak bergerak.


Namun bukannya kesal Keyla malah menitikkan air matanya. Sedari tadi Ia begitu gelisah akhirnya kini air matanya yang memberikan isyarat akan hatinya yang gundah itu.


"Kinara, kau lihat pengantin kita jadi sedih karena perbuatan elo." Medina mendorong tubuh Kinara menjauh, Ia segera menyambar tisu di meja rias itu lalu menghapus air mata Keyla sebelum merusak riasannya.


"Na, bawa gue kabur." Keyla mencengkram kedua bahu Medina dengan kuat.


"Kabur gimana bukannya ini yang elo harapkan, ada apa?" Medina menarik kursi duduk tepat di hadapan Keyla.


"Kayla, gue tidak boleh memikirkan perasaan gue sendiri," ungkapnya kembali menitikkan air mata. Segera Medina menghapus air mata Keyla.


"Sudah jangan menangis lagi, cepat Ra telepon Ziva." Medina melirik Kinara yang berada disampingnya.


Tanpa menunggu lama-lama Kinara langsung menghubungi Ziva sementara Medina merapikan riasan Keyla yang sedikit berantakan.


"Kau jahat, aku tidak ma menikah jika kau tidak datang!" kesal Keyla meluapkan amarahnya.


"Aku yang akan menyeretmu ke hadapan Alvin jika itu sampai kau lakukan!" Sahut seseorang di samping Ziva yang ternyata adalah Kayla.


"Kayla kau." Kembali air mata Keyla berkaca-kaca melihat saudara kembarnya.


"Ayah kita." Kayla mengarahkan ponselnya ke arah sampingnya.


"Ayah." Lagi Keyla tidak berhenti mengeluarkan air mata bahagia dengan keberadaan dua orang yang begitu Ia pikirkan sejak tadi.


"Kau cepat siap-siap sebentar lagi pangeranmu datang, sudah ya cepat hapus air matamu."~Kayla.


Tut ... tut.


Telepon langsung di putus Kayla karena saat itu rombongan mobil itu sudah masuk ke parkiran hotel tempat acara di gelar.


Penumpang mobil itu segera turun saat mobil terhenti. Kayla yang turun dari mobil langsung disambut seorang pria yang tak lain Rendy.


"Silahkan Tuan Putri." Rendy membantu Kayla turun dengan hati-hati sebelumnya Arman sudah turun terlebih dulu.


"Terima kasih Kak." Kayla tersenyum senang dengan perlakuan manis Rendy.


"Kalian." Ziva yang menyadari kedekatan keduanya tersenyum senang berbeda dengan Arsha yang baru saja turun dari mobil merasa tidak senang dengan keberadaan Rendy yang menatap Ziva masih dengan tatapan yang sama seperti tujuh tahun silam.


Rombongan itu akhirnya masuk mengikuti mempelai pria yang sudah masuk lebih dulu.


Kayla mendadak bergetar saat selangkah demi langkah memasuki hotel itu. Kali pertama Ia dan ayahnya akan bertemu dengan bundanya. Bagaimana reaksi Jeni ketika melihat keberadaan Kayla dan Arman?


Kedatangan rombongan itu langsung disambut oleh Hendra juga Jeni. Hendra yang menyadari adanya Arman menatap kesal. Walaupun Ia tidak menginginkan pria itu hadir di acara ini namun Ia tidak punya pilihan lain karena semua sesuai keinginan Alvin.


Deg.


Jantung Jeni berdetak dengan cepat setelah sekian lama Ia bertemu langsung dan menjabat tangan Arman. Kakinya bergetar hebat bibirnya kelu hingga menampakkan wajah pucat basi. Berbeda dengan Arman yang terlihat biasa. Ya, mnesia Arman yang belum sembuh membuatnya melewatkan begitu saja wanita di depannya itu.


"Bunda." Kayla langsung memeluk erat tubuh Jeni. Ia tidak memperdulikan pandangan orang yang terfokus padanya. Jeni menatap Hendra yang tampak acuh dan memilih kembali duduk bersama calon Besannya.


Jeni tersenyum mengusap lembut wajah putri yang sangat di rindukannya itu sekilas lalu meninggalkan Kayla.


"Kita duduk." Ajak Ziva menuju sebuah tempat duduk diikuti Twins dan suaminya. Kayla juga Ayahnya serta Arief suami Medina ikut bergabung.


Ballroom itu tampak riuh dipenuhi banyaknya tamu undangan.