Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 48. Karma Berbohong



Buugghh


Keyla menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang setelah memasuki kamarnya. Air matanya kembali tumpah bercampur rasa kecewa dan kesedihan yang teramat sangat.


Bagaimana mungkin orang tua seperti Hendra itu bisa menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginannya.


"Kakek jahat!" Keyla melempar semua bantal juga boneka yang ada di ranjangnya. Ia melampiaskan kekesalannya.


Karena terus menangis Keyla akhirnya tertidur dengan air mata yang mengering.


Sementara Jeni tengah berbicara serius dengan Hendra.


"Ada apa Ayah, kenapa Keyla terlihat sangat marah?" Jeni yang sudah berada di rumahnya saat Keyla dan Hendra datang. Keyla yang pulang bersama Hendra langsung berlari naik ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun saat Jeni bertanya.


"Kau harus lebih keras dengan Keyla. Anak itu masih bersikap kekanak-kanakan. Sebaiknya pernikahan Keyla dan Alvin di percepat!" gerutu Hendra.


"Tapi Ayah, mereka berdua sepakat untuk menunggu beberapa bulan lagi."


"Kau diam lah, aku akan mengatur semuanya. Saat ini perusahaan butuh dana besar jadi jalan satu-satunya pernikahan ini dipercepat!" tegas Hendra penuh penekanan dalam ucapannya tidak ingin dibantah.


"Baik Ayah, Jen serahkan semua pada Ayah."


Walaupun Jeni tidak menyetujui keinginan Ayahnya itu namun Jeni tidak bisa berbuat apa-apa. Perintah Ayahnya adalah mutlak.


Hendra pria keras kepala. Semenjak Bunda Jeni meninggal, Ayahnya semakin semena-mena karena hanya Bunda Jeni lah yang bisa mengendalikan Ayahnya.


***


Beberapa hari kemudian.


Sejak saat itu Keyla tidak lagi ke rumah sakit atau menemui Ayah dan saudaranya karena kemana Ia pergi Keyla dijaga pengawal.


Sepulang kerja Keyla langsung pulang.Sejak diikuti pengawal Keyla tidak merasa nyaman hingga Ia memilih untuk langsung pulang daripada kemana-mana dibuntuti sungguh memuakan pikir Keyla.


Saat Keyla hendak mengambil minum Ia melihat kedatangan Papa dan Mama Alvin tengah mengobrol bersama Kakek juga Bundanya.


"Ada apa ini, kenapa mereka datang?" monolog Keyla merasa tidak enak dengan kedatangan kedua orang penting itu. Keyla langsung kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia menghubungi Alvin untuk menanyakan perihal itu.


Alvin sendiri tidak tahu. Ia langsung bergegas pergi ke rumah Keyla setelah Keyla memberitahunya. Alvin ingin menanyakan perihal kedatangan orang tuanya secara langsung.


Dua puluh menit Alvin sampai di rumah Keyla. Ia langsung bergegas menuju daun pintu. Alvin menghentikan langkahnya saat suara tawa cukup keras terdengar dari dalam.


"Kami setuju acaranya harus meriah kalau perlu kita adakan pesta selama tujuh hari tujuh malam," ucap Handoyo.


Lagi suara tertawa keras terdengar.


Tok ... tok.


Alvin mengetuk pintu. Ia maju beberapa langkah memberitahu kedatangannya.


"Lihat siapa yang datang," ucap Hendra.


"Calon pengantin." Handoyo bangkit memegang kedua bahu Alvin yang mendekat. Handoyo tersenyum menatap putranya yang sebentar lagi akan menikah.


Keyla pun terlihat menuruni tangga mendekat ke Alvin.


"Lihat mereka kompak sekali belum juga diberitahu pangerannya datang sudah merasa," sahut Soraya.


"Mereka sudah tidak sabar, Seminggu lagi Keyla Alvin," tambah Jeni.


Keempat orang tua itu sangat bahagia namun Keyla dan Alvin, mereka masih bingung dengan pembicaraan itu.


"Ini ada apa Ma, Pa?" Alvin menatap kedua orang tuanya.


Jeni dan Soraya bangkit menarik Keyla dan Alvin untuk duduk. Setelah keduanya duduk perlahan Soraya berbicara.


"Kalian ini bukannya sudah ditawari menikah secepatnya kalian menolak lalu apa kalian malah bermalam bersama," ungkap Soraya.


"Bermalam bersama, maksud Mama?"


"Bukannya kemarin malam kau izin sama Bunda Jeni kalau Keyla menginap di mansion," jelas Soraya.


"Kau bawa Keyla kemana, ke apartemen mu?" timpal Soraya.


"Itu Ma, Alvin-"


Keyla termangu dengan keadaan yang dibuatnya sendiri. Kebohongannya berakhir karma. Kini Ia harus menanggung semua kebohongannya dengan menikah secepatnya karena Ia tidak mungkin mengatakan kebenarannya.


"Oh my God, apalagi ini," gumam Keyla dengan nasib sialnya.


Alvin sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Keyla menginjak kakinya saat ingin menjelaskan semua.


Akhirnya setelah disetujui keduanya, pernikahan akan diadakan minggu depan tepat di hari Minggu.


.


.


Sepeninggalan Alvin dan keluarganya, Keyla kembali ke kamarnya.Keyla duduk termangu dengan nasibnya yang hanya menuruti perintah tanpa bertanya Ia menyetujui atau tidak. Ia malah termakan dengan kebohongannya sendiri hingga tidak bisa mengelak lagi. Keyla mencari cara agar bisa melakukan sesuatu untuk menyatukan keluarga namun bukan melalui tangannya.


"Alvin, dia pasti bisa membantuku. Besok aku akan bicara dengannya," monolog Keyla.


***


Keesokan paginya.


Seperti biasa Alvin menjemput Keyla.


Mobil Alvin sudah melaju membelah jalanan padat di pagi itu.


"Kau cantik Keyla," puji Alvin.Keyla menggunakan setelan baju kerja yang di beli Alvin untuknya.


Penampilan Keyla berubah dari yang tomboi kini Ia terlihat seperti wanita pada umumnya feminim. Sejak hari masih gelap Jeni sudah menceramahinya habis-habisan tentang penampilannya. Jeni berpikir, Keyla harus menjaga image baik dari Alvin dengan berpenampilan seperti wanita berkelas.Tidak lama lagi Ia akan menjadi nyonya Alvin Handoyo pengusaha besar yang namanya di perhitungkan di dunia bisnis.Alvin sering keluar masuk majalah bisnis dengan semua prestasi yang ditorehkan nya


"Terima kasih Alvin," ucap Keyla dengan manis.


Jeni juga menceramahi cara bicara Keyla agar tidak terkesan anak gaul yang menurut Bundanya urakan.


Mendengar itu Alvin tersenyum, Keyla yang biasanya selalu bawel berubah manis seperti tanaman putri malu.


"Ada apa, apa terjadi sesuatu?apa kau ingin membatalkan pernikahan kita?" Alvin merasa perubahan Keyla adalah karena paksaan pernikahan mereka.


"Aku tidak punya kuasa untuk menolak permintaan Bunda dan Kakek," pasrah Keyla.


"Tapi aku punya hak, aku bisa saja menundanya."


"Tidak," singkat Keyla.


Alvin merasa perubahan besar pada diri Keyla. Akhir-akhir ini wanitanya sering melamun, setiap hari diikuti pengawal yang menurut Alvin cukup aneh. Saat itu mobil Alvin pun diikuti pengawal Keyla yang melaju di belakang mobilnya.


"Apa ada sesuatu, katakan!" Alvin mencurigai sesuatu yang terjadi pada Keyla karena sejak menghilang dari rumah sakit Ia tidak pernah lagi kesana padahal sebelumnya Keyla tidak pernah absen.


"Alvin gue, maksudnya aku ingin meminta tolong," ucap Keyla setengah ragu-ragu.


"Apapun itu, katakan!" Alvin melirik Keyla yang tampak bingung.


"Katakan!" menggenggam tangan Keyla sekilas.


Keyla menunduk. Perlahan Ia menceritakan semuanya masalahnya dari kondisi keluarganya di masa serta ancaman Kakeknya beberapa hari lalu.


"Kakekmu sangat keterlaluan bagaimana mungkin orang tua membuat anaknya sendiri menderita!" gerutu Alvin setelah mendengar cerita Keyla.


"Kau tenang, aku Alvin Handoyo pastikan Ayah dan Bundamu akan bersatu sebelum acara pernikahan kita!" tegas Alvin penuh keyakinan.


"Kau yakin?"


"Kau bisa pegang ucapanku tapi ada syaratnya," seringai Alvin.


Keyla yang sempat tersenyum dengan keyakinan Alvin berubah menatap pria itu kecut.


"Haruskah aku menyetujui mu?" Keyla tampak kecewa.


"Harus! mulai sekarang jangan panggil aku Alvin tapi ...."


"Tapi apa, pria Kutub atau pria Mali?" tawar Keyla.


Alvin menggeleng.


"Sa-sayang." Alvin berucap cepat.