Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 10. Kedatangan Ziva



Keyla langsung melahap makanan yang itu karena memang sangat lapar juga tubuhnya lemah membuatnya harus segera mengisi tenaganya.


"Aku sudah selesai." Keyla berdiri di dekat Alvin saat sudah berganti pakaian.Alvin langsung mencuci dan mengeringkannya saat keyla belum siuman hingga kini ia bisa langsung memakainya kembali.Keyla juga membawa paper bag ditangannya.


"Terima kasih untuk makanannya dan bajumu akan aku cuci dulu lalu aku kembalikan." Keyla melangkah lebih dulu lalu disusul Alvin.


Saat diperjalanan Alvin terus saja fokus mengendarai mobilnya membuat Keyla bosan.


"Kenapa kau mengurungku tadi?" Pertanyaan Keyla memecah keheningan di dalam mobil itu.


Pria itu tak menjawab dan terus fokus mengendarai.Pria itu masih berpikir untuk berhati-hati karena ia takut dugaannya benar wanita disampingnya itu adalah mata-mata yang dikirim musuhnya namun ia tidak begitu yakin karena wanita itu begitu dekat dengan Ziva jadi tidak ada salahnya untuk sedikit berteman, pikir Alvin.


"Kau dan Ziva berteman sejak kapan?" Alvin malah melontarkan pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan pertanyaannya tadi.


"Mungkin aku bisa menggali sesuatu tentang pria ini, agar aku bisa merebut hatinya," gumam Keyla.


Alvin menatapnya sesat karena tida segera menjawab pertanyaannya.


"Aku dan Ziva bersahabat sejak masuk SMP, dia adalah satu-satunya orang yang terpenting dalam hidupku setelah keluargaku," jelas Keyla.


"Kau sedekat itu dengan Ziva atau kau hanya mengarang cerita karena setahuku sahabat baiknya adalah Kayla," sangkal Alvin.


"Kau tahu apa tentang aku dan Ziva!jadi wanita itu maksudku Sekretarismu itu adalah sahabat Ziva?" Keyla sedikit emosi dengan ucapan Alvin karena tidak mempercayainya dan menganggap ucapannya hanya bualan.


Ziva memang tidak pernah menceritakan masalahnya ataupun hidupnya sejak ia pindah ke Amerika bahkan tentang Alvin pun ia tidak pernah cerita membuatnya seolah-olah orang lain yang hanya mengaku-ngaku sebagai sahabat baiknya saja.


Mobil Alvin berhenti tepat di depan gerbang kediamannya.Keyla langsung keluar karena ia begitu kesal dengan pria itu menutup mobilnya dengan kasar.Langkahnya langsung mengayun memasuki gerbang yang menjulang tinggi itu tanpa mengatakan sepatah kata pun.Alvin langsung tancap gas kembali ke apartemennya.


Keyla memasuki rumahnya dengan langkah lesunya.


"Dari mana saja kamu seharian ini?" Suara lantang langsung menyambut kedatangannya.


Keyla hampir saja melupakan kejadian tadi saat ia dikurung karena terlalu fokus dengan pria bernama Alvin yang jelas-jelas sudah mengurungnya.


"Aku harus memberinya pelajaran." Keyla terlihat mengepalkan tangannya mengingat pria itu.


"Keyla, kau sudah berani sama Bunda." Jeni terlihat sangat marah karena bukannya menjawab pertanyaannya, putrinya itu malah terlihat emosi mengepalkan tangan saat ia bicara.


"Keyla bunda belum selesai bicara!" pekik Jeni.


Keyla terus saja berlalu tanpa memperdulikan Bundanya.Keyla melempar tas juga paper bag itu ke ranjangnya setelah berada di dalam kamarnya.


"Ah ... aku masih lemas." Keyla langsung duduk di ranjangnya karena tiba-tiba kepalanya terasa pening.


"Pria itu!" Keyla kembali mendesis kesal mengingat Alvin namun ia kembali mengingat sesuatu yaitu membuat perhitungan dengan sahabatnya itu.Gara-gara dia, Ia dianggap pembual saat membicarakan persahabatan mereka.


Keyla mengambil ponselnya di dalam tasnya.Terlihat banyak sekali panggilan masuk dari Bundanya berkali, Kinara dan yang terakhir Ziva.Keyla langsung menghubungi balik Ziva.Dua kali berdengung akhirnya suara nan nyaring menyapanya.


"Halo."~Ziva.


Rasanya emosi Keyla langsung ingin meledak namun suara itu selalu membuatnya tenang.


"Aku merindukanmu, bisakah kau datang kesini?"~ Keyla.


"Sekarang?"~Ziva.


"Iya, kau tahu aku bisa mati karena merindukanmu."~Keyla.


"Aku akan segera ke rumahmu."~Ziva.


"Pasti aku sedang bermimpi."~Keyla.


"Kau tidak bermimpi, sayang.saat ini aku di Jakarta karena ada urusan untuk beberapa hari.Tadi aku meneleponmu untuk memberitahu tapi kau tidak angkat teleponku."~Ziva.


Keyla langsung berjingkrak senang mendengar kabar bahagia itu.


"Setelah aku menyelesaikan pekerjaanku besok, aku akan ke kantormu."~Ziva.


"Ok." ~Keyla.


Panggilan telepon itu terputus.