Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 90



Happy Reading 😊


Beberapa hari ini Keyla terus tidak menerima panggilan telepon Alvin bahkan juga tidak membalas pesan singkatnya. Sementara Kayla yang seperti menghindar dari Keyla membuat Keyla semakin yakin dugaannya benar. Saat di kantor pun Kayla juga terus menghindar dengan alasan sibuk.


Seperti pagi ini Kayla juga sudah berangkat pagi-pagi dan biasanya pulangnya pun juga larut malam setelah Keyla sudah tertidur membuat hubungan saudara kembar itu semakin renggang.


"Kay." Sapa Keyla memasuki ruangan Kakaknya.


"Maaf aku harus pergi." Kayla buru-buru pergi setelah kedatangannya.


"Aku tahu kau menghindari ku tapi izinkan aku untuk bicara." Keyla mencekal tangan Kayla berusaha menghentikannya.


"Kau ini bicara apa, aku benar-benar harus pergi." Kayla meronta dari cekalan tangan Keyla lalu bergegas pergi.


Semakin lama Keyla merasa sangat bersalah. Keputusannya untuk menerima Alvin adalah salah. Jika waktu bisa diputar kembali Ia lebih memilih kabur daripada harus kehilangan saudara kembarnya hanya karena seorang pria. Bagaimana pun juga ikatan keduanya lebih kuat daripada hubungannya dengan Alvin.


"Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki keadaan ini?" gumam Keyla.


Keyla merasa sangat frustasi tapi Ia juga tidak ingin orang tuanya tahu terlebih baru beberapa hari bunda dan ayahnya mereguk manisnya persatuan kembali. Ia tidak ingin masalahnya dan Kayla membuat bunda dan ayahnya cemas.


Seseorang memasukinya ruangan itu tanpa Keyla sadari karena terlalu hanyut dalam pikirannya sendiri.


"Kau membuatku gila." Pria yang tidak lain alvin memeluk dengan erat. Alvin sangat mengkhawatirkan Keyla hingga tidak bisa berpikir lagi kecuali buru-buru menyelesaikan pekerjaannya untuk segera kembali.


Kayla yang terkejut spontan mendorong tubuh Alvin menjauh.


"Alvin." Keyla yang sadar orang yang memeluknya adalah Alvin tertegun menatapnya.


"Ada apa, kenapa tidak mengangkat juga membalas pesanku, apa aku melakukan kesalahan? maaf jika aku pergi mendadak tanpa memberitahumu lebih dulu." Alvin merasa bersalah dan berpikir kepergiannya yang tiba-tiba menjadi penyebab istrinya itu marah.


Keyla hanya terdiam menatap pria yang beberapa hari tidak ditemui itu ada perasaan rindu yang teramat. Namun semua menguar begitu saja menjadi kekesalan ketika Ia mengingat kembali tulisan di buku harian Kayla.


"Kau ini pria macam apa bisa-bisanya kau mengabaikan perasaan wanita yang bertahun-tahun bertahan di sisimu bahkan melakukan apapun yang membuatmu bahagia tapi membuatnya sakit," cerca Keyla.


"Apa yang kau bicarakan, aku hanya pergi beberapa hari kenapa kau semarah ini?" Alvin mencengkram kedua bahu Keyla yang saat itu menatapnya dengan tatapan menghujam.


"Aku marah karena kau itu bodoh, kenapa kau malah menikahi aku bukannya Kayla. Kau tahu dia itu kakakku, rasa sakitnya aku juga merasakan sakit. Kau gila, kau berusaha meyakinkan aku jika semua baik-baik saja." Keyla kembali meluap-luap dengan amarahnya dan menyalakan apa yang dialaminya kini adalah kesalahan Alvin. Jika saja pria di depannya ini memilih Kayla semua pasti akan baik-baik saja.


"Kau ini bicara omong kosong apalagi bukannya Kayla sendiri yang memintamu menerimaku lalu apa yang mau kau lakukan!" Alvin yang marah mendorong Keyla hingga terjatuh ke sofa.


Alvin benar-benar kecewa karena beberapa hari Ia terus terpikirkan Keyla hingga cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan namun bukan sambutan hangat yang ia dapatkan setelah kembali malah cercaan.


Alvin bahkan langsung bergegas menemui Keyla sepulang dari Bandara karena yang paling dikhawatirkannya adalah wanita itu. Kekhawatirannya yang berpikir jika sesuatu yang buruk terjadi pada Keyla mengalahkan segalanya namun balasannya sungguh menyakitkan.


Ucapan Keyla seakan begitu menyesali tentang pernikahannya dan mempermainkan cintanya yang begitu besar. Cinta memang terkadang tidak bisa memilih dan diminta. Jika hati sudah berkata iya maka cinta itu perlahan tumbuh tanpa memandang karena cinta sejatinya tentang perasaan suka yang alami tanpa bisa direkayasa.


"Sudahlah sebaiknya aku pulang, kau mungkin lelah begitu juga aku." Alvin melangkah pergi dengan perasaan kecewa sementara Keyla hanya menatap kepergian pria itu dengan tatapan bingung. Ya sesaat Ia begitu marah hingga apapun keluar begitu saja dari mulutnya tanpa berpikir tapi ada juga penyesalan.


"Dia sangat marah, apa aku sudah keterlaluan?" Keyla hanya bisa menghela nafasnya dengan apa yang baru saja terjadi tapi inilah yang diharapkannya membuat Alvin membencinya. Disaat itu Ia akan membuat Kayla dan Alvin bersatu.


Alvin dalam perjalanan menuju kantornya. Wajahnya nampak lesu ditambah dengan beban pikirannya serta jiwanya yang sangat lelah. Rasa kecewa dan marah, ya lagi-lagi cintanya tidak diterima dengan baik seakan cintanya itu selalu salah jalan.


"Hans, apa aku ini pria yang bodoh?" tanya Alvin.


Pertanyaan Alvin terdengar begitu frustasi membuat Hans yang tidak tahu apa yang terjadi menjadi bingung. Bingung harus menjawab apa karena takut salah bicara.


"Hans!" sentak Alvin karena pertanyaannya tidak segera dijawab Asistennya itu yang sedang fokus mengemudi. Alvin menganggap Hans tidak hanya Asisten namun juga sebagai sahabat.


"Anda pria paling bijaksana yang pernah saya kenal Tuan," jawab Hans.


"Kau tahu Hans setiap wanita yang aku cintai berpikir cintaku ini salah, cintaku ini bodoh," ungkap Alvin penuh keputusasaan.


Alvin memang bersinar di karirnya namun tidak dengan cintanya. Pria malang itu bahkan butuh beberapa tahun untuk move on dari rasa cintanya yang salah. Perasaan cinta yang suci namun sayangnya tidak seharusnya tumbuh pada wanita bersuami. Cintanya harus berakhir dengan kekalahan demi melihat wanita yang dicintainya bahagia. Bagi Alvin mencintai tidak hanya memiliki namun juga melepaskan.


Setelah sekian tahun Ia perlahan membuka hatinya kembali untuk seorang wanita kini cintanya masih dijudge salah. Mungkinkah rasa cinta dan kebahagiaan itu tidak pantas bagi seorang Alvin hingga kesendirian adalah hal yang pantas untuknya.