Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 78



Happy Reading 😊


Tok ... tok.


Suara pintu diketuk membuat fokus keduanya berpindah.


"Den, Non, makan malam sudah siap. Sudah ditunggu sama nyonya dan tuan besar." Suara Art memberitahu.


"Ya kami akan segera turun," pekik Alvin.


Kembali Ia fokus pada wajah cantik di depannya. "Tidak apa-apa kan makan semeja bareng kak Nay?"


"Tentu saja tidak, kau lupa aku ini siapa. Meski kak Nay itu seperti gunung tinggi aku pasti akan mendakinya dan jika seperti lautan aku akan selami seberapa dalamnya." Keyla berucap penuh keyakinan. Ya Alvin yakin Keyla mampu mengatasi ketidaksukaan kakaknya dengan baik karena itu lah yang membuatnya mencair begitu saja. Keyla pribadi ceria yang mempu membuat hati beku siapapun mencair dengan mudah.


Keduanya berjalan bergandengan keluar dari kamar menuruni tangga menuju ruang makan. Keduanya disambut senyum sumringah papa Handoyo dan mama Soraya.


"Duduklah, Papa senang melihat kemesraan kalian mengingatkan Papa dan Mama dulu, iya kan Ma?" Handoyo menatap pasangan pengantin baru itu lalu berpindah ke Soraya yang berada disamping depannya.


"Ah Papa bisa aja jangan membuat Mama malu di depan anak-anak." Soraya menunduk menahan malu karena langsung menjadi pusat perhatian.


"Kalian ini mau makan atau mau terus bicara!" ketus Kanaya. Ia langsung mengambil makanan lebih dulu mengabaikan lainnya.


Keluarga itu makan bersama hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar selama acara makan malam itu berlangsung.


.


.


Mengingat waktu sudah malam dan jarak antara apartemen milik Alvin dan mansion Handoyo cukup jauh, Handoyo meminta keduanya menginap.


"Kenapa masih belum tidur dari tadi?" Alvin yang masih bekerja di depan layar laptopnya melihat Keyla masih belum tidur. Ia malah terlihat miring kanan kiri seperti sedang gelisah.


"Aku tidak bisa tidur, kau masih lama?" resah Keyla. Mendengar pertanyaan yang begitu resah Alvin meninggalkan pekerjaannya lalu mendekat ke arah ranjang.


"Tidur lah, apa yang kau pikirkan hingga sulit tidur?" Alvin membelai lembut wajah Keyla. Tampak jelas raut wajah kegelisahan dari wajah cantik istrinya itu.


"Aku tidak apa-apa." Keyla mencoba tersenyum menyembunyikan kerisauannya saat ini. Ia menutup matanya mencoba untuk tidur walau sebenarnya tidak mengantuk sama sekali.


***


Drt ... drt.


Satu panggilan tidak terjawab hingga berkali-kali tidak terangkat. Keyla yang tidak bisa tidur semalaman membuatnya sangat mengantuk hingga tidak mendengar beberapa panggilan begitu juga Alvin karena lembur Ia juga sangat mengantuk.


Satu jam kemudian.


"Oh My God, jam berapa ini." Alvin berdecak kaget saat terbangun. Pagi ini akan ada rapat penting dengan beberapa pengembang membuatnya harus segera bersiap.


Setelah selesai mandi, Alvin langsung memakai pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Keyla. Tidak lupa Keyla segera membantu memasangkan dasi.


"Maaf Alvin, aku memang istri tidak berguna." Keyla merasa bersalah karena tidak membangunkan Alvin lebih awal.


"Sudah lah, aku tahu semalam kau pura-pura tidur kan?" Alvin mencubit gemas hidung Keyla sesaat setelah selesai memasang dasi di lehernya.


"Beri aku sarapan pagi yang enak pagi ini." Alvin berusaha mendekatkan wajahnya pada wajah Keyla.


"Ayo masih keburu sarapan dulu." Menarik tubuh Alvin namun beberapa langkah berhenti. Ya, Keyla sadar ia bahkan belum mandi apalagi mencuci muka sementara ini di mansion milik mertuanya.


"Kau ini begitu polos atau pura polos," kesal Alvin dalam hati. Keinginannya bukan sarapan pada umumnya namun sebuah kecupan lembut yang mampu membangkitkan semangatnya namun menguar begitu saja karena sikap konyol Keyla.


"Sepertinya kau harus sarapan sendiri, aku belum mandi." Keyla berucap dengan ekspresi konyolnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Aku akan sarapan di kantor." Alvin mengusap lalu mengecup sekilas kening Keyla lalu melangkah pergi.


"Sebaiknya aku cepat mandi." Monolog Keyla. Ia melangkah menuju kamar mandi namun tiba-tiba berhenti ketika ponsel di nakas bergetar.


Keyla langsung mendekat ke arah ponselnya. Nomer rumahnya yang tertera di layar ponselnya.


"Iya Bik."~Keyla.


"Non, Nyonya. Nyonya ...."~Art.


"Bunda, kenapa?" sentak Keyla saat Art nya berkata berbelit.


"Itu nyonya tidak ada kamarnya."Art.


"Apa! Apa sudah dicari ke seluruh rumah mungkin Bunda di taman belakang."~ Keyla.


"Sudah Non tapi tidak ada."~Art.


"Ya sudah aku akan pulang sekarang."~ Keyla.


Keyla langsung mematikan sambungan teleponnya lalu menyambar tasnya yang berada di nakas. Ia bergegas pergi tanpa memperdulikan yang lainnya karena yang terpenting saat ini adalah keberadaan Bundanya.


"Kau ini bahkan belum mencuci muka sudah berkeliaran!" ketus Kanaya menghadang langkah Keyla.


"Aku ada masalah penting Kak, sebaiknya Kakak menyingkir!" balas Keyla tak kalah ketus.


"Wanita ini sudah mulai berani melawanku pasti gara-gara Alvin di pihaknya, segera aku harus membuat mereka berpisah karena aku benar-benar muak melihat mukanya," gumam Kanaya dalam hati.


"Pergilah Nak, jangan hiraukan kakakmu." Soraya tiba-tiba menarik tubuh Kanaya yang berusaha menghalang-halangi membuat jalan Keyla terbuka.


"Terima kasih Mama, maaf Keyla harus pergi." Keyla langsung mencium punggung tangan Soraya sebelum akhirnya pergi.