
HAPPY READING 😊
...----------------...
"Kenapa pagi-pagi sudah membuang air matamu yang berharga. Apa kau pikir pria seperti itu pantas kau tangisi, pria yang tidak pernah menghargai perasaanmu dan lebih memilih saudara kembarmu." Rendy mengusap dengan lembut.
"Bagaimana kau tahu Kak?" Kayla menatap pria di depannya penuh tanya.
"Itu tidak penting, kau mau kemana?"
"Aku mau pulang."
"Kau bisa menungguku sebentar, aku akan mengantarmu pulang tapi aku harus menemui Alvin sebentar untuk urusan pekerjaan." Rendy menatap penuh harap.
"Bagaimana aku ...."
"Aku anggap kau menyetujui karena kau tidak mengatakan alasanmu, tunggu sebentar di mobilku." Rendy menarik tangan Kayla sementara Kayla pasrah.
.
.
Tiga puluh menit berlalu tapi belum ada tanda-tanda Rendy keluar dari gedung itu.
"Sebaiknya aku pergi, aku ingin melihat ayah." Putus Kayla saat tiba-tiba teringat ayahnya karena sejak kemarin Ia tidak mengetahui keadaan ayahnya.
Kayla menghentikan taxi. Taxi melaju membawanya pergi. Saat di perjalanan Kayla menulis pesan singkat pada Rendy untuk memberi tahu Ia akan berbicara lain kali karena ada urusan mendadak.
Setelah dua puluh menit akhirnya Kayla sampai di apartemen mewah itu. Kayla berharap Keyla berada di rumahnya.
Kayla berhenti tepat di depan pintu apartemen milik Keyla terdengar suara yang cukup keras dari dalam rumah itu.
"Bunda ada di dalam," lirik Kayla. Ia langsung menekan bel agar ada yang membuka pintu untuknya.
"Oh ayolah." Kayla berdecak tidak sabar karena berkali-kali memencet bel tapi tidak ada yang membuka pintu. Andai Ia punya kekuatan saat itu juga Ia akan mendobrak pintu itu.
Saat itu Jeni tengah berdebat dengan Arman.
"Sebaiknya kau menjauhi hidupku dan Kayla, kau tahu perbuatanmu ini hanya melukai kedua putri kita!" Sentak Arman dengan keras.
"Ternyata waktu puluhan tahun tidak merubahmu menjadi pria yang tangguh, kau bahkan tidak bisa membawaku kembali dan Keyla. Kau benar-benar pria yang payah." Jeni tersenyum sinis melampiaskan kekecewaannya dengan sikap Arman yang tidak pernah berubah walaupun sudah puluhan tahun.
"Kau lihat Key kenapa Bunda tidak pernah ingin membahas ayahmu, Bunda tahu hilang ingatannya itu hanya tameng untuk bersembunyi," imbuh Jeni meremehkan pria di depannya itu.
Saat itu Arman hanya terdiam menahan emosinya yang sebenarnya ingi di ledakannya. Bertahun-tahun Ia diam bukan karena menerima semuanya namun Ia hanya ingin melindunginya Kayla.
"Seharusnya kau tidak usa muncul jika hanya ini yang kau tunjukkan padaku!" imbuh Jeni semakin meluapkan kekecewaannya.
"Diam!" Arman berkata dengan lantang dengan tangan terkepal.
"Jika kalian terus-terusan seperti ini sebaiknya aku dan Kayla tenggelam di dasar lautan. Waktu yang terbuang bertahun-tahun tidak membuat kalian sadar telah melewatkan semua dengan sia-sia hanya karena ego kalian masing-masing!" Keyla yang sedari diam melupakan kekesalannya dengan perdebatan kedua orang tuanya. Ia benar-benar tidak menyangka semua yang dilakukannya sia-sia karena keegoisan kedua orang tuanya.
"Ayo Kay." Keyla menarik tangan Kayla melangkah pergi dengan rasa kekecewaan yang begitu besar.
Seketika Arman dan Jeni merasa bersalah karena berdebat di depan kedua putrinya.
"Kay, Key tunggu kalian tidak boleh meninggalkan Bunda." Jeni menghadang jalan kedua putrinya.
Alvin yang merasa tidak enak dengan perasaannya bergegas pulang dan benar saja kekacauan yang sudah ditunggunya selama ini terjawab sudah.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka, aku akan mengurus sisanya," gumam Alvin melangkah pergi.
"Tuan, anda mengabaikan keributan di dalam sana begitu saja?"
"Biarkan saja sekarang antar aku ke Perusahaan Handoyo Group!" titah Alvin di sela langkahnya yang tergesa-gesa.
"Baik Tuan."
Keduanya melangkah pergi.