
Happy Reading 😊
Baik Keyla maupun Alvin sama-sama termenung setelah pertengkaran tadi. Ya Keyla memilih pergi setelah Alvin memilih menghindar setelah menghempasnya tadi.
"Tidak disangka aku sudah sejauh ini, aku yakin Alvin pasti sangat membenciku sekarang. Oh my God apa yang sudah aku lakukan tadi tapi bukankah ini yang aku inginkan semakin pria itu menjauh dari kehidupanku juga Kayla semakin baik. Pria itu hanya membawa luka untuk kami berdua," gumam Keyla dalam hati.
Disisi lain Keyla menyesal dan disisi lain Ia merasa lega. Namun bukan tujuan awalnya yang ingin menyatukan dengan Kayla, Ia lebih memilih tidak ingin berhubungan dengan pria itu lagi. Alvin sangat marah hingga mengatakan tidak akan menceraikannya tapi Keyla yakin semakin lama kebencian Alvin akan membuatnya melepaskannya.
Sementara Alvin yang tidak fokus bekerja setelah pertengkaran dengan Keyla tadi beberapa kali melupakan kemarahannya dengan meninju meja. Rasa sesak juga sakit di dadanya mengalahkan segalanya membuatnya tidak merasakan perihnya punggung tangannya yang terluka dan berdarah.
Zeva yang sejak tadi memperhatikan Alvin dari luar ruangannya memberanikan diri masuk.
"Pak Alvin." Panggil Zeva sesaat memasuki ruangan itu.
"Ziva, kau." Alvin bangkit dengan air mata yang menitik. Alvin yang tadi sempat meminum alkohol membuatnya kini sedikit berhalusinasi. Zeva yang masuk terlihat olehnya seperti Ziva.
"Pak." Zeva terperangah dengan sikap atasannya yang memeluknya dengan erat sambil menangis. Sungguh Ia tidak sanggup melihat kesedihan dan kerapuhan pria itu.
"Kenapa, kenapa kau dan Keyla harus menanam luka di hatiku. Apa kau sengaja berkomplot dengannya untuk menyakitiku. Daripada kalian terus menyakiti aku lebih baik lenyapkan saja aku." Alvin mengurai pelukannya, menarik tangan Zeva mengarahkannya pada lehernya untuk mencengkram lehernya.
"Pak Alvin apa yang ada lakukan sadar Pak!" pekik Zeva.
"Kenapa jadi seperti ini," panik Zeva karena Alvin tidak melepaskan tangannya membuat pria itu bisa kehilangan nafasnya.
"Hans. Hans. Hans!" teriak Zeva beberapa dengan keras. Hans yang samar-samar mendengar teriakan Zeva bergegas masuk.
"Zeva apa yang kau lakukan?" panik Hans dengan apa yang ada didepan matanya.
"Jangan banyak bicara cepat bantu aku!" sentak Zeva.
Dengan susah payah dan bujukan serta tarikan dari Hans akhirnya Alvin melepaskan tangan Zeva dari lehernya seketika pria itu jatuh tidak sadarkan diri.
.
.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Telisik Hans setelah membantu tuannya beristirahat di ruangan khusus CEO.
"Sebenarnya tadi pagi saat kau pergi, istri Pak Alvin kemari dan keduanya ribut. Setelah kejadian tadi aku tidak tau apa yang terjadi tapi kau lihat sendiri Pak Alvin mabuk. Aku yang ingin menenangkannya tadi malah dikira Zi siapa tadi aku lupa."
"Ziva maksudmu?" sergah Hans.
"Iya Ziva."
Hans tertegun setelah mendengar penjelasan Zeva karena jika menyangkut wanita itu pasti ada kesakitan.
"Sebenarnya apa yang terjadi Hans benarkah Bu Keyla itu jahat hanya memperalat Pak Alvin?"
Pertanyaan Zeva membuat Hans tersentak dari pikirannya namun kenapa Zeva yang baru dua hari bekerja bisa mengatakan Keyla jahat.
"Kau bicara apa mereka menikah karena saling mencintai dan Nona Keyla adalah wanita baik-baik," tegas Hans.
"Apa?" Zeva tertegun dengan penjelasan Hans.
"Kenapa kau terkejut sekali?" Hans merasa aneh dengan ekspresi terkejutnya Zeva. Bagaimana tidak karena penjelasan yang baru Zeva dengarkan berbeda jauh dari penjelasan Kanaya yang mengatakan Keyla menjeratnya dan hanya memanfaatkan Alvin yang patah hati hingga mau tidak mau menerimanya.
"Tidak aku hanya. Aku akan meminta penjelasan Kanaya, wanita itu tidak berubah." Kalimat terakhir Zeva ucapkan dalam hati.
"Hanya apa?" desak Hans.
"Hanya .... Maksudku aku juga berpikir demikian," kilah Zeva berusaha menyembunyikan alasan keterkejutannya tadi.
.
.
Sepulang kerja Zeva meminta bertemu dengan Kanaya di sebuah restoran. Cukup lama Zeva menunggu karena sudah lewat 10 menit dari waktu janjian Kanaya belum tiba.
"Maaf aku terlambat." Kanaya yang menghampiri Zeva menepuk bahu Zeva merasa bersalah.
"Duduklah!" perintah Zeva tanpa ekspresi.
"Kenapa tiba-tiba meminta bertemu, apa ada kabar baik tentang Alvin?" Kanaya tersenyum senang menyambut kabar baik yang mungkin akan disampaikan Zeva.
"Apa kau tahu Alvin hampir saja mengakhiri hidupnya melalui tanganku," ungkap Zeva. Lagi-lagi tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu kau mau melenyapkan adikku?" Kanaya yang terkejut langsung bangkit dari duduknya menatap tajam Zeva.
"Bukan aku yang mau melenyapkan tapi kau!" sentak Zeva ikut bangkit dari duduknya menunjuk wanita di depannya itu.
"Jangan gila, aku sangat menyayangi adikku." Kanaya tersenyum sinis dengan tudingan Zeva. Ia kembali duduk begitu juga Zeva.
"Mau sampai kapan kau memanfaatkan orang lain untuk memenuhi keinginanmu, kau memintaku berpakaian seperti ini hanya untuk merusak rumah tangga adikmu yang jelas saling mencintai. Kau waras, kau membohongi aku!" sentak Zeva penuh emosi.
Kanaya yang sadar akal bulusnya sudah diketahui Zeva hanya tersenyum.
"Iya aku memang gila, aku gila karena dendam. Jika kau tidak ingin membantuku ya sudah tapi jangan mengatakan hal buruk mengenaiku!" Kanaya menggebrak meja dengan ucapannya.
"Aku bukan wanita sepertimu paling tidak aku tidak membongkar kebusukanmu di depan adikmu. Sebaiknya segera meminta maaf pada adikmu sebelum kau menyesali segalanya!" tegas Zeva. Ia bangkit melempar segepok uang yang pernah Kanaya berikan padanya lalu beranjak pergi.