
Kini keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing.Keyla memikirkan bagaimana Ia akan melakukan rencananya itu.
"Kenapa loe nggak tanya Medina?" sergah Kinara.
Medina yang seorang Dokter pasti mengetahui bagaimana cara ia bisa melaksanakan rencananya itu.
"Tumben loe pinter." Keyla tersenyum senang mengelus kepala sahabatnya itu yang seperti anak kecil yang tiba-tiba mendapatkan ide berlian.
Kinara tersenyum bangga dengan pujian Keyla.
.
.
Sepulang kerja Keyla dan Kinara bergegas pergi menemui Medina di cafe favorit mereka setelah membuat janji.Kebetulan sore itu Medina ada waktu karena ia akan shif malam di rumah sakit tempatnya bekerja.
Wanita cantik dengan hijab abu-abu itu kini sudah duduk menunggu."Hai." Medina melambaikan tangannya memberi tahu Keyla dan Kinara keberadaanya.
Keyla dan Medina langsung menuju meja Medina.Mereka berpelukan juga cipika-cipiki bergantian dengan Kinara.
"Cantik sekali Bu Dokter," puji Keyla sesaat setelah duduk.
Medina nampak merogoh tasnya mengambil sesuatu.2 lembar undangan di taruhannya di meja itu.Jelas tertulis nama Medina Nur Nazifah dan Arif Putra Ramadhan.
"Key lihat ini apa?" Kinara sedikit mewek melihat kenyataan di depan matanya.Medina jelas mendahuluinya dan Keyla.
"Gila loe diam-diam tancap gas," sambung Keyla.
Medina memang tidak pernah pacaran membuat kedua sahabatnya itu speechless dengan kabar yang dibawa sahabatnya itu.Medina hanya tersenyum menanggapi kedua sahabatnya itu.
"Cerita, pangeran mana yang akhirnya meluluhkan Dokter cantik kita ini?" Keyla menjepit wajah Medina dengan kedua telapak tangannya.
"Dia Dokter senior di rumah sakit tempat gue bekerja.Karena dia, gue banyak belajar," cerita Medina dengan senyum bahagianya.
"Uh so sweet, aku kapan?" Kinara meratapi nasibnya yang jones.
"Loe gimana Key, apa ada seseorang yang sedang dekat denganmu?" tanya Medina antusias.
Drt ... drt ... drt
Ponsel Keyla bergetar menandakan panggilan telepon masuk.Keyla tampak kesal menatap layar ponsel lalu menaruh kembali ponselnya di atas meja setelah menolak panggilan itu.
"Siapa?" Medina bergumam menatap Kinara.Saat itu Keyla terlihat kesal membuatnya penasaran siapa yang sedang menelepon sahabatnya itu.Kinara menaikkan bahunya tanda tidak mengetahui.
Drt ... drt ... drt
Kembali ponsel Keyla bergetar membuatnya mau tidak mau menjawab panggilan telepon itu.Keyla bangkit dan menjauh untuk menjawab panggilan telepon itu.
"Siapa, Keyla terlihat kesal sekali?" telisik Medina.
"Oh mungkin pangeran es," celetuk Kinara.
"Pangeran es siapa?" Medina menatap penuh tanya.
"Pria yang dijodohkan dengan-" Kinara memilih tidak meneruskan ucapannya karena Keyla telah kembali.
"Siapa Key?" telisik Medina.
"Orang iseng." Bohong Keyla.
Kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bertemu apalagi Medina dia yang paling sibuk diantara 4 sahabat itu.
"Gimana, siapa yang dekat dengan loe, Key?" Medina mengulangi pertanyaannya karena belum mendapat jawaban darinya.
"Gue-"
"Keyla dijodohkan dengan pangeran es," sergah Kinara.
"Pangeran es, maksudnya?" Medina menatap Kinara sesaat lalu berpindah ke Keyla.
"Sudah, jangan dengerin Kinara dia mulutnya ember.Sebenarnya gue ingin membicarakan sesuatu yang penting, Na." Keyla berbicara serius membuat Medina langsung fokus ke Keyla.
"Sebenarnya gue bertemu seseorang yang sangat mirip dengan gue." Keyla mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto wanita yang diceritakannya.
"Benar Key wanita ini sangat mirip dengan loe bahkan akan sulit di bedakan jika kalian berpenampilan sama." Komentar Medina juga menegaskan beberapa orang yang juga mengatakan hal yang sama.Keyla semakin yakin untuk melakukan tes DNA demi membuktikan kebenarannya.
"Loe bisa bantu gue nggak untuk melakukan tes DNA," sambung Keyla dengan ucapan penuh permohonan.
"Kebetulan sekali Kak Arif adalah Dokter Forensik di rumah sakit Kasih Ibu, jadi kita bisa minta batuan dia.Aku akan menghubungi loe setelah mengonfirmasi dengannya," jelas Medina.
Mendengar itu Keyla merasa lega karena tidak lama lagi Ia akan menemukan jawaban dari pertanyaannya.
Seorang pria nampak mengamati Keyla dari kejauhan.Pria itu langsung menarik tangannya.
"Ngapain loe kesini!" pekik Keyla berusaha melepas cekalan tangan Alvin.
Medina dan Kinara nampak ingin membantu Keyla namun Keyla memberi kode agar tidak ikut campur.Keyla akhirnya mengikuti Alvin.
"Loe nggak tahu, gue udah janji sama nyokap loe mau nganter loe pulang sampai nyokap loe nelpon gue.Dia pikir gue ngajak loe pergi!" kesal Alvin.
Keyla benar-benar lupa untuk mengabari Bundanya kalau sepulang kerja akan bertemu dengan Medina.
"Ok.Maaf gue lupa tapi bisakah loe pergi, gue akan telpon Bunda setelah ini." Keyla berucap penuh permohonan.
"Nggak bisa loe harus pulang bareng gue!" Alvin kekeh dengan ucapannya.
"Ck, loe nyebelin banget loe lihat sendiri gue masih sama temen gue!" Keyla tidak kalah kekeh.Ia meninggalkan Alvin begitu saja.
"Dimana Medina?" Keyla mencari keberadaan Medina yang saat itu hanya ada Kinara di meja mereka.
"Medina ia pergi setelah mendapat telepon dari ruma sakit seperti penting makanya langsung pergi," jelas Kinara.
"Ayo!" Alvin yang mengekor di belakang Keyla kembali menarik tangannya.
"Tunggu!" Keyla mengambil tas juga mengambil beberapa lembar uang diberikannya kepada Kinara. "Loe balik sendiri ya," pekik Keyla setengah berteriak karena Alvin terus menarik tangannya tidak memberinya kesempatan bicara.Kinataoun membuat tanda o sebagai tanda ok.
Saat di perjalanan Keyla diam sementara Alvin fokus mengendarai mobilnya.
Saat itu Keyla larut dalam pikirannya.Keyla tidak habis pikir dengan sifat Alvin yang begitu kekanak-kanakan bagaimana tidak Ia selalu bersikap semaunya sendiri tanpa memperdulikan perasaannya.
Disaat Ia tengah bersama sahabat-sahabatnya menarik paksa begitu saja tanpa memikirkan bagaimana malunya dia dengan sikap konyolnya.Belum juga menjadi suami tapi sudah seenaknya.Bagaimana kelak jika benar pria seperti Alvin menjadi suaminya, bisa-bisa Ia akan dikurung dalam kamar seumur hidupnya.Keyla sampai menggelengkan kepalanya dengan pemikirannya saat ini.
"Kenapa loe?" Alvin merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkan oleh Keyla.
"Woi pangeran es, gue benar-benar nggak mau kita di jodohkan jadi loe harus menolak permintaan orang tua loe dan gue nolak permintaan nyokap gue!" tegas Keyla.
"Kenapa gue harus nurut sama loe!" Alvin menjawab sama tegasnya dengan Keyla.
"Kalau loe nggak mau, gue janji seumur hidup gue nggak menganggap loe suami, ngerti!" ancam Keyla.
"Terserah," jawab Alvin enteng.
Keyla semakin dibuat kesal, membuang muka dengan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil itu.
Sementara Alvin tersenyum puas.Entah kenapa membuat wanita disampingnya itu marah menjadi hobinya saat ini tanpa disadarinya perlahan senyumnya yang sudah lama kaku itu melemas dengan sendirinya.Saat-saat bersama Keyla pun sangat ditunggunya karena ingin membuat wanita itu marah hingga Ia merasa terhibur.
Keyla langsung turun dari mobil begitu mobil Alvin terhenti.
"Besok gue jemput!"
Entah tawaran atau perintah yang kini diucapkannya namun seorang Alvin harus mendapatkan apapun kemauannya walaupun dengan cara memaksa.