
Keyla membuka matanya saat terpaan cahaya matahari masuk ke jendela kaca dan menyilaukan matanya.Dilihatnya Kayla namun wanita itu sudah tidak berada di sampingnya.Ia segera beranjak bangun, disusurinya rumah sederhana itu hingga sampai di dapur.Terlihat Kayla tengah sibuk memasak, lagi-lagi dibantu sang Ayah.
Mata Arman tersadar saat sepasang mata sedang mengamati dirinya dan Kayla.
"Kau sudah bangun, Keyla?" Keyla tersentak karena entah apa yang dipikirkannya saat Arman menyapanya.
"Iya Om, Keyla cari kamar mandi?" tanyanya celingak-celinguk mencari kamar mandi.
"Ada di belakang, maaf ya rumahnya jelek tidak seperti rumahmu."
Kayla menatap Ayahnya dengan tatapan aneh karena Ia tidak pernah menceritakan tentang Keyla tapi Ayahnya mengetahui rumah Keyla lebih bagus daripada rumahannya.
"Ayah, darimana Ayah tahu rumah si ular itu lebih bagus daripada rumah kita?" selidik Kayla.
Arman tersentak dengan pertanyaaan putrinya itu, ia tidak sadar apa yang dikatakannya tadi sehingga keluar begitu saja dari mulutnya.
"Ayah!" Kayla semakin menatap curiga karena Ayahnya tidak segera menjawabnya, malah terlihat berpikir.
"Mm ... Ayah hanya lihat pakaiannya itu bagus seperti orang kaya tapi Ayah juga tidak tahu.Memang dia benar orang kaya?" sangkal Arman.
"Dia calon CEO, Ayah," ucapnya.
Kayla jelas melihat kebohongan di mata Ayahnya, apa mungkin kecurigaannya benar?
"Tatapan Ayah saat melihat aneh, seperti ada sesuatu yang Ayah sembunyikan," gumam Kayla.
"Apa mungkin dia saudara kembarku, Ayah?" celetuk Kayla.
Seketika Arman merasa sesak dengan pertanyaan Kayla, ia tidak menyangka putrinya akan bertanya demikian.
Mata Kayla menatapnya penuh tuntutan membuatnya harus segera menjawab jika tidak ingin membekas rasa penasaran pada putrinya itu.
"Bicara apa kau!" Arman memekik dengan sorot mata tajam ke arah Kayla.
"Kok Ayah marah kan Kayla cuma nanya.Bukan hanya aku Ayah tapi seluruh orang yang mengenal kami mengatakan hal yang sama.Apa mungkin di dunia ini ada orang yang semirip kami berdua, walaupun jelas hidup kami berbeda." Terkadang hati Kayla menyatakan keyakinan tapi terkadang ia ragu karena jika saudara kembar harusnya tidak terpisah seperti mereka.
Arman semakin sesak dengan ucapan Kayla, batinnya seperti dipukul-pukul dengan keras karena ketakutannya selama bertahun-tahun kini menjadi nyata.Kenyataan yang selama bertahun-tahun ia kubur akhirnya perlahan mulai terbongkar namun ia tidak akan membiarkan itu terjadi karena akan membuat Kayla terluka jika mengetahui semuanya.Lebih baik Ia hanya tahu hanya Ayah yang dimilikinya.
"Sudah cepat selesaikan masakanmu , kita harus cepat berangkat kerja!" perintah Arman.
Sepasang mata berdiri di samping pintu mendengar semua pembicaraan keduanya tanpa mereka sadari.Keyla yang sudah keluar dari kamar mandi tidak sengaja mendengar pertanyaan Kayla yang merasa curiga akan kemiripannya dengan dirinya.
Keyla sadar selama ini beberapa orang yang mengenalnya dan Kayla selalu mengatakan jika kemungkinan kembar bahkan Ziva memintanya untuk melakukan tes DNA.Ia menganggap semua itu hanya sebuah candaan belaka.Namun tidak ada salahnya ia membuktikan kecurigaan Kayla itu dari wajah juga nama membuatnya juga menaruh curiga.
Keyla bahkan tidak mengenal sosok Ayahnya karena sejak kecil Bundanya mengatakan Ayah pergi bekerja namun tidak pernah kembali sampai saat ini.Pernah suatu kali Ia bertanya, namun Bundanya menjawab dengan sebuah tangisan membuatnya berpikir Ayahnya meninggalkannya hingga hanya kepahitan yang dirasakan Bundanya saat mempertanyakan hal itu.Sejak saat itu Keyla tidak pernah lagi mengungkit Ayahnya siapa dan dimana.
Keyla menuju kamar untuk berbicara dengan Kayla, selesai memasak Kayla terlihat ke kamarnya.
Tok ... tok ...
Kayla yang sibuk di meja riasnya menoleh pintu.
Kayla melempar ponselnya ke tas ranjang lalu kembali fokus ke cermin.Mereka berdua memang tidak pernah akur hingga kedatangan Keyla yang tidak di sengaja itu membuat Kayla bersikap sinis kepada Keyla.
"Terima kasih Kay." Keyla mengambil ponsel itu lalu membawanya ke teras.Cukuo lama Ia berbicara dengan Antoni karena lagi-lagi asisten Bundanya itu selaku bersikap protektif padanya dengan memberondongnya dengan semua pertanyaannya karena kemarin malam Bundanya begitu cemas tentang keberadaannya.
Ketiganya kini sudah duduk di meja makan, sarapan bersama.
"Bagaimana keadaan kakimu, Nak?" Arman melirik Keyla sekilas lalu kembali fokus makanannya di piring.
"Keyla sudah baikan Om.Terima kasih sudah membantu Keyla kemarin dan mengizinkan Keyla menginap disini." Keyla berucap dengan sopan sambil tersenyum menatap pria setengah baya itu juga Kayla namun Kayla membuang muka saat itu.Keyla sadar keberadaannya sangat tidak disukai Kayla.
"Hanya itu yang bisa Om lakukan, pasti kamu merasa tidak nyaman semalam berada dirumah reyot ini."
"Tidak Om, Keyla senang karena kedekatan Om dan Kayla membuat Keyla sadar.Selama ini aku dan Bunda selalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga melupakan kebersamaan," ungkap Keyla.
Ucapan Arman seketika mengingatkan masa lalunya dengan Jeni karena wanita yang dicintainya itu lebih memilih harta daripada dirinya dan Kayla dan itu juga yang ditanamkan pada buah hati mereka Keyla.Tapi Arman bangga walaupun hidup bergelimang harta Keyla tumbuh menjadi gadis yang sopan santun.
Beep ... beep
Terdengar klakson mobil.
"Itu pasti Pak An." Keyla yang sudah menghabiskan makanannya bergegas ke depan untuk menemui Antoni namun Ia salah bukan Antoni melainkan Alvin.
"Ngapain loe pasti jemput Kayla ya?" ketusnya.
"Kay ada Alvin cari loe?" pekik Keyla.
Keyla melangkah ke dalam rumah namun beberapa langkah pergelangan tangannya ditahan Alvin.
"Lepaskan!" pekik Keyla dengan tatapan tajamnya.
"Aku kesini ingin menjemputmu, maafkan kemarin meninggalkanku begitu saja."
"Maafmu tidak gue terima, lebih baik loe pergi!" ketus Keyla.Ia benar-benar marah aka sikap pria itu yang semena-mena terhadapnya, ia bahkan tida tahu apa jadinya jika tidak ada Ayah Kayla yang menolongnya.
"Loe nggak tahu berapa kali aku melewati jalan itu untuk mencarimu.Semalaman aku bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan keberadaanmu yang entah dimana dan ternyata loe enak-enakan disini!" Alvin ikut emosi karena sikap Keyla yang kekanak-kanakan.
Perdebatan keduanya menjadi tontonan Kayla dan menyadari Alvin lah yang meninggalkan Keyla di jalan begitu saja.
"Ada hubungan apa mereka, kenapa mereka pergi bersama dan Alvin menjemputnya kesini.Apa mungkin orang yang ditelepon Keyla adalah Alvin?" gumam Kayla.
"Kay." Arman menepuk bahu Kayla yang sedang mengintip dari balik jendela membuatnya sedikit tersentak.
"Siapa?" Arman ikut mengintip.
"Suruh mereka cepat pergi Ayah, aku nggak mau mereka berdebat di teras rumah kita nanti apa kata tetangga." Keyla terlihat jealous saat mengatakannya membuat Arman mengerti.
"Apa mereka ada hubungan?" tanya Arman lagi.
"Tahu ah, Ayah banyak nanya!" ketusnya masuk ke kamarnya.