Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 26. Penyesalan Keyla



Pukul delapan pagi Keyla sudah bersiap pergi.Seperti biasa Ia kan membawakan bekal makan siang untuk Alvin.Keyla yang akan masuk ke dalam mobilnya dihentikan oleh Jeni yang berteriak memanggilnya. "Key."


Keyla pun mendekat. "Ada apa, Bunda?"


"Alvin dia tidak menjemputmu?Bunda lihat beberapa hari Alvin tidak kesini, apa kalian sedang bertengkar?" telisik Jeni.


Beberapa hari ini Alvin memang tidak menjemput Keyla membuat Jeni merasa curiga ada permasalahan diantara keduanya.


"Nggak ada apa-apa Bunda, Alvin cuma sibuk saja dengan proyek barunya.l," jelas Keyla.


"Keyla berangkat dulu, Key mau ke kantor Alvin sebentar." Keyla melangkah pergi menuju mobilnya.


Jeni pun senang dengan penjelasan Keyla yang perhatian pada Alvin membuat pikirannya yang tadi sempat


curiga kini menguar begitu saja.


Sesampainya di kantor Alvin ternyata Alvin belum datang membuatnya harus menunggu.Keyla yang menunggu di ruangan Alvin merasa bosan.Ia pun berjalan-jalan keluar ruangan itu untuk melihat-lihat kantor Alvin walaupun sering berkunjung Keyla belum pernah melihat kantor Alvin secara keseluruhan.


Fokusnya berpindah ke Kayla yang sibuk di meja kerjanya.


"Apa yang elo lakuin?" Keyla mendekat.


"Loe nggak lihat gue sedang kerja!" ketus Kayla.


"Kok elo ketus gitu kan gue tanya baik-baik, apa kita tidak bisa bersahabat jelas-jelas kau dan aku sahabat Ziva."


"Lalu." Kayla menatap intens wajah Keyla.


"Lalu-" Fokus Keyla berpindah ke pintu ruangan Alvin hingga tak meneruskan kata-katanya.Beberapa detik lalu Alvin terlihat masuk ke ruangannya.


"Lalu apa?" Kayla menepuk bahu Keyla yang masih fokus menatap arah lain.


"Lalu.Seharusnya kita bersahabat," jawab Keyla dengan cepat.Ia pun langsung melangkah pergi ke ruangan Alvin meninggalkan Kayla yang masih mencerna ucapan Keyla.


Sementara Alvin tengah duduk di kursi kebesarannya saat Keyla memasuki ruangannya.Alvin nampa cuek dengan kedatangannya.


"Woi Udang kutub!" umpat Keyla.


Hampir sepuluh menit Ia duduk namun tidak mendapat respon baik dari pria itu.


Alvin tetap saja fokus dengan pekerjaannya membuat Keyla menggeram kesal.


"Masih marah?" Keyla langsung merebut berkas yang ada di depan Alvin membuat pria itu menatap tajam ke arahnya.Alvin terus berupaya merebut berkas itu dari tangan Keyla namun wanita itu dengan sigap mengalihkan berkas itu berpindah-pindah dari tangan kanan ke tangan kiri.Alvin terus mendekat membuat Keyla hilang keseimbangan.


Brukkkk


Keduanya jatuh ke lantai dengan posisi Keyla dibawah tubuh Alvin.Manik mata keduanya saling menatap kerena saat itu keduanya begitu dekat.


Spontan Keyla mendorong tubuh Alvin menjauhinya namun tanpa ia sadari pipinya memerah sejak tadi.


"Kau sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan," tukas Keyla.Ia langsung mengembalikan berkas itu ke meja kerja Alvin.


Alvin tersenyum sinis. "Bukannya kau yang sengaja."Alvin balik menukas.Ia kembali duduk ke kursinya setelah membersihkan pakaiannya.


"Loe pikir, aku debu sampai elo!"geram Keyla melihat apa yang dilakukan pria itu.


"Terserah lebih baik gue pergi!" balasnya ketus.Dengan cepat Keyla mengambil tas nya di sofa lalu melangkahkan pergi.


Kayla yang melihat Keyla pergi terburu-buru ditambah raut mukanya yang tampak kesal, bisa pastikan keduanya sedang tidak baik-baik.Kayla pun tersenyum penuh kemenangan karena Ia yang lebih dulu mengenal Alvin bahkan sangat dekat hubungan keduanya tidak mampu membuat pria itu melabuhkan hati padanya.


"Kau pasti akan lelah sendiri, Keyla," gumam Kayla menatap punggung Keyla hingga hilang dari pandangannya.


***


Keyla mengendarai mobilnya sambil terus mengumpat selama perjalanan.Niatnya yang akan mulai berbaik hati dengan pria itu malah di respon buruk membuatnya menyesal.


"Seharusnya sedari awal kau itu berpendirian teguh Keyla, tidak salah Ziva memilih Arsha dari pada pria kutub itu!" umpatnya.


"Tidak pantas kau mengasihani pria kutub itu karena pria itu pantas menderita seumur hidupnya!" Kembali ia menggeram kesal karena saking marahnya ia langsung membanting setirnya menepi.Keyla langsung turun, menendang pembatas jalan dengan kakinya beberapa kali sambil menginjak-injak tempatnya berpijak, melupakan amarahnya.


"Dasar Breng*sek!" Keyla kembali meluapkan kekesalannya dengan nafas naik turun.


"Sabar Keyla, sabar," monolog Keyla mengingatkan diri sendiri.Ia pun menghembuskan nafasnya kasar.Perlahan tingkat kemarahannya turun ke level rendah dari sebelumnya mencapai level tertinggi.Keyla kembali masuk ke mobilnya melanjutkan perjalanannya menuju kantor.


Sesampainya di kantor Keyla langsung menuju ke ruangannya.Disandarkannya kepala juga tubuhnya ke kursi ternyamannya sambil memejamkan matanya.Saat bersamaan terdengar pintu ruangannya dibuka.


"Loe mendingan pergi.please jangan ganggu gue," usir Keyla dengan nada rendah.Setelah mengumpat selama perjalanan kini tenaganya habis membuatnya tidak ingin berdebat apalagi melayani Kinara yang pasti membuatnya semakin pusing.


"Kau kenapa Keyla?" Suara yang berbeda yang jelas bukan suara Kinara membuat Keyla terhenyak dari kenyamanannya.


"Bunda." Keyla terbelalak karena bukan Kinara seperti yang dipikirkannya namun Bundanya yang kini di depannya.


"Kau kenapa, sepertinya kau sedang-"


"Keyla baik-baik saja Bunda," potong Keyla dengan senyum termanisnya alias senyum yang dibuat-buat untuk menghindari Bundanya bertanya lebih jauh.Jeni menautkan kedua alisnya dengan sikap konyol putrinya yang berubah-ubah.Jeni tahu betul Keyla memang selalu bersikap konyol seperti saat ini.


"Dasar kau!" Jeni memutar mata malas menatapnya lalu berlalu pergi.


"Gara-gara pria kutub itu aku jadi nggak mood seharian ini," monolog Keyla sambil menatap berkas yang menumpuk di mejanya.


.


.


Keyla bersiap pulang setelah jam kantornya sudah selesai.Saat itu Antoni asisten Jeni memasuki ruangannya.Alvin menunduk saat Keyla menatapnya.


"Ada apa?"


"Sesuai perintah Nyonya Jeni anda ditugaskan untuk ke Surabaya memantau langsung proyek disana Nona," ucap Antoni.


Saat Jeni ke ruangannya tadi sebenarnya ingin menyampaikan perintah itu langsung kepada Keyla namun karena tingkah Keyla dengan kekonyolannya hingga membuatnya lupa.


"Ke Surabaya, kenapa nggak Pak An saja sendiri," keluh Keyla dengan perintah Bundanya.


"Ini perintah Nyonya Jeni, Nona."


Perintah Jeni adalah hak mutlak bagi Antoni juga Keyla.Jeni sengaja mengirim Keyla untuk menyelesaikan masalah di cabang perusahaan di Surabaya dengan maksud agar Keyla mulai terbiasa segala sesuatu yang menyangkut perusahaannya.Semua dilakukan ya sesuai dengan cara orang tuanya dulu yang melakukan hal sama kepadanya.


Seperti Jeni, Keyla pun dididik menjadi seorang pemimpin yang kelak akan memegang perusahaan Brawijaya di bawah pimpinannya.Walaupun seorang wanita yang bisa dibilang lemah namun tidak dengan wanita di keluarganya Brawijaya karena mereka dituntut tangguh, keras kepala dalam hal tidak mudah menyerah, juga berambisi hingga mampu mengalahkan pesaing dan musuh yang ingin meluluhkan lantakan perusahaannya.