Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 123. Terluka Lagi



Happy Reading 😊


Sore hari Kayla baru kembali ke kantor setelah negosiasi yang ulet. Biasanya Ricky yang melakukannya namun kali ini Kayla haus menyelesaikan masalah ini seorang diri.


Kayla masuk ke ruangannya setelah melihat ke meja Ricky yang ternyata sudah kosong. Entah kemana dia pergi kali ini terlebih tanpa memberitahunya.


"Bagaimana aku pulang, jika aku pulang sendiri aku tidak punya lagi alasan, jika ayah dan bunda bertanya," gumam Kayla.


Kayla duduk termenung dengan semua yang terjadi. Bagaimanapun Ia tidak bisa memaksa Ricky sedangkan Ia juga tidak bisa terus-terusan seperti ini. Jika Ricky tidak pulang apa yang mereka pikirkan. Pikiran-pikiran itu memenuhi benak Kayla.


Tok ... tok.


Mendengar suara pintu diketuk spontan Kayla langsung berlari senang untuk membuka pintu karena Ricky akhirnya kembali.


"Ricky!" seru Kayla.


Kayla yang tadi nampak begitu bahagia wajahnya berubah masak ketika yang dilihatnya bukan Ricky melainkan Rendy. Ia buru-buru kembali masuk setelah sekian detik menatap wajah pria yang sangat dibencinya.


"Kay buka pintunya aku ingin mengatakan sesuatu yang penting, dengarkan aku!" Rendy berteriak dari balik pintu karena Kayla mengunci pintu dari dalam.


"Kay!" pekik Rendy namun tetap tidak digubris Kayla.


Kayla yang berdiri di balik pintu merosot ke lantai dengan air mata bercucuran. Dua tahun ini cukup membuat hidup susah setelah melewati semua itu kenapa kini harus kembali. Kehadiran Rendy hanya membuat luka di hati Kayla kembali ngilu setelah pergi begitu saja tanpa pamit.


"Seandainya kau tidak pergi mungkin semua ini tidak terjadi dan sejak lama ayahku pasti sudah sembuh, semua gara-gara kau!" geram Kayla dalam hati.


.


.


Ricky bangkit dari tempat tidur di ruangan khusus CEO. Karena semalam setelah berdebat dengan Kayla Ia tidak bisa tidur membuat Ricky sangat mengantuk. Ia memutuskan untuk tidur sebentar di ruangan itu namun siapa sangka jam 7 malam Ia baru terbangun.


Ricky melangkah keluar namun fokusnya terhenti saat menatap wanita yang tergeletak di lantai. Ricky menaruh kepala Kayla di pangkuannya sembari mengguncang tubuhnya.


"Ricky." Kayla membuka matanya namun tiba-tiba tubuhnya di dekap erat oleh Ricky. Pria itu begitu sangat cemas terlihat dari raut wajahnya yang tidak dapat menyembunyikannya.


"Aku hanya tertidur, kau tidak perlu mencemaskan aku." Kayla berusaha melepas dekapan Ricky namun belum juga Ricky sudah menjatuhkan tubuhnya di lantai.


"Aw," rintih Kayla karena kepalanya membentur lantai.


"Sudah malam kita pulang!" perintah Ricky dengan ekspresi datar. Sesaat lalu pria itu begitu lembut namun entah mengapa sekarang kembali menjadi dingin.


Ricky berjalan lebih dulu sedangkan Kayla mengekor di belakangnya.


"Kau ini manusia atau kura-kura lamban sekali!" ucap Ricky ketus setelah cukup lama menunggu Kayla. Kayla yang tadinya berada tepat dibelakang Ricky terpaksa harus ke toilet karena sudah tidak bisa menahan buang air kecil sehingga membuat Ricky menunggu lama.


"Aku hanya-" Belum selesai bicara tiba-tiba Ricky tancap gas membuat Kayla hilang keseimbangan kepalanya membentur ke depan.


"Arghh." Kayla memegangi kepalanya yang sedikit benjol tapi Ricky tetap acuh. Sebenarnya Kayla sudah sangat muak dengan sikap Ricky namun Ia tetap berusaha menahannya karena bagaimanapun juga Ia tidak ingin hubungannya memburuk.


Saat makan malam seperti biasa Ricky memperlakukan Kayla dengan sangat baik bahkan menyuapi Arman makan dan meminum obat sebelumnya.


"Ricky, Bunda benar-benar bahagia Kayla mendapat pria sebaik kamu. Maafkan Bunda dan ayah karena belum bisa mengadakan pesta pernikahan untuk kalian." Ucap Jeni di sela makan malam itu.


"Bunda bisa saja seharusnya Ricky yang berterima kasih karena telah melahirkan bidadari secantik ini." Ricky tersenyum melirik Kayla yang berada di sampingnya.


Deg


Jantung Kayla berdetak kencang ditatap oleh Ricky dengan tatapan penuh cinta dan puja seperti itu. Seperti mendapat sebuah keajaiban rasanya begitu senang namun sesaat karena ya lagi-lagi semua itu hanya akting bukan sungguhan.


"Sayang kau kenapa?" sentak Ricky karena Kayla tidak menyahut dan malah terus tertegun menatapnya.


"Kau lihat Ricky, wajah Kayla langsung memerah, benar-benar kalian mengingatkan masa muda Bunda dan ayah dulu. Teruskan makannya, Bunda sudah selesai." Jeni meninggalkan kursinya setelah melahap habis makanan di piringnya sementara piring milik Ricky dan Kayla masih ada membuatnya harus menghabiskannya dulu.