
HAPPY READING 😊
Keduanya selesai mandi setelah satu jam berada di dalam kamar mandi. Ya Alvin mempergunakan kesempatan mandi bersama itu tidak hanya aktivitas membersihkan diri namun juga sebagai salah satu cara meluapkan fantasi *** nya selain di ranjang.
"Sepertinya kita harus selalu mandi bersama." Alvin berdecak senang dengan kepuasan yang baru di dapatnya.
"Kau ini bukankah aku sudah bilang jangan lakukan, kau tahu ini di rumah bunda." Keyla berdecak kesal merespon ucapan Alvin.
Alvin merasa heran dengan ucapan istrinya itu karena jelas-jelas Ia begitu menikmatinya tadi bahkan terus saja melenguh membuatnya semakin bersemangat. Tapi itulah uniknya istrinya karena mulut juga badannya merespon lain.
"Baiklah aku tidak akan melakukannya lagi, apa kau puas?"
"Bu- kan itu maksudku, aku bukan tidak memperbolehkan tapi- " Keyla tidak melanjutkan ucapannya karena Ia sendiri bingung dengan keinginannya.
"Baiklah apapun mau mu terserah tapi aku sekarang sangat lapar bisakah kita pulang dan makan?" bujuk Alvin.
"Sepertinya aku tidak akan pulang malam ini karena aku tidak bisa meninggalkan bunda. Kau pulang lah tapi sebaiknya makan dulu." Keyla menarik tangan suaminya bangkit dari duduknya.
Karena terlalu merindukan Keyla apalagi setelah Keyla berusaha menggodanya saat berbicara di telepon, Alvin sampai melupakan yang terjadi setelah Ia memutuskan pergi dari apartemen tadi. Alvin berpikir jika keluarga dari Keyla sudah bersatu apalagi Ia sudah menyingkirkan Hendra agar tidak ada lagi yang menghalangi kebersamaan keluarga yang lama terpecah itu.
"Aku ingin makan disini sembari mendengarkan ceritamu, apa bisa kau ambilkan aku makan dulu?" pinta Alvin.
"Aku tunggu di balkon," imbuhnya lagi menunjuk balkon kamar itu.
"Baiklah." Keyla melangkah pergi sementara Alvin melangkah menuju balkon.
Ditatapnya pemandangan malam dari atas balkon itu namun pikirannya melayang kemana-mana. Semua sudah dilakukannya namun rasanya belum cukup memperbaiki keadaan. Setelah mendengar cerita lengkap dari Keyla Ia bisa mengambil tindakan selanjutnya.
"Kau sudah makan?" tanya Alvin sesaat duduk di kursi berhadapan dengan Keyla.
"Aku tidak makan karena bunda juga tidak mau makan," jelasnya.
"Kau harus makan, bagaimana bisa melayani aku di ranjang jika tenaga saja kau tidak punya." Alvin mengarah sendok yang berisi makanan ke mulut Keyla.
"Tidak aku tidak mau!" tolak Keyla memalingkan wajahnya dari suapan Alvin membuat Alvin kesal lalu menyuapkan makanannya ke mulutnya sendiri.
"Buka mulutmu!" perintah Alvin sesaat makanan masuk ke mulutnya.
"Untuk apa?"
"Memindahkan nasi dari mulutku ke mulutmu."
"Kau gila!"
"Ya aku memang akan gila jika tidak bisa menyalurkan hasratku padamu. Cepat buka!" kesal Kevin mencekal dagu Keyla.
"Tidak jangan!baiklah aku akan makan." Keyla buru-buru menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Ia benar-benar tidak mau Alvin menyuapinya dengan cara menjijikkan seperti itu. Alvin tersenyum senang karena akhirnya caranya itu cukup ampuh membuat Keyla mau makan.
"Lain kali tidak boleh melakukan hal itu bukannya kau harus menjaga bunda agar tetap kuat tapi bagaimana jika kamu sakit," tutur Alvin penuh perhatian.
"Selama ini ayah dan bunda sudah cukup menderita namun kenapa ketika jalan bersama itu sudah di depan mata namun tidak bisa bersatu dengan ego masing-masing. Dan kau tahu entah mengapa tiba-tiba kakek pergi ke pulau pribadinya dengan alasan ingin menghabiskan sisa umurnya. Kenapa semua begitu kebetulan seakan-akan jalan terkunci itu terbuka dengan sendirinya," cerita Keyla panjang lebar.
Alvin memang berharap Keyla tidak mengetahui semua yang dilakukannya di belakang Keyla karena Ia tidak ingin Keyla berpikir Ia terlalu jauh ikut campur namun Ia juga tidak bisa hanya berpangku tangan. Hendra sendiri berpikir tidak mau masa lalunya diketahui cucu dan putrinya hingga memilih untuk mengatakan alasan lain di balik keputusannya.