
Satu Bulan Kemudian
Srek ... srek.
Cahaya matahari langsung memasuki kamar itu begitu tirainya dibuka.
"Huh, kau ini menganggu saja Va!" kesal Kayla. Ia melempar bantal yang tadinya menyangga kepalanya ke arah Ziva.
Ya sudah sebulan ini Kayla tinggal di rumah Ziva. Setelah seminggu kepergiannya ke Singapura bersama bundanya, Kayla memilih kembali namun bukan ke Jakarta melainkan di kota sahabatnya tinggal, Bandung.
"Mau sampai kapan kau terus menumpang di rumahku, kau pikir rumahku panti asuhan atau hotel!" Tak kalah kesal, Ziva ikut meluapkan kekesalannya karena sahabat itu tidak beritikad baik untuk pergi dari rumahnya sedangkan sudah sebulan ini Ia tinggal.
"Sudah aku katakan aku akan membayar bahkan sepuluh kali lipat," tawarnya sembari menaikkan kedua alisnya.
"Aunty." Duo A, Axel dan Alexa langsung memeluk Kayla. Kedekatan ketiganya sudah seperti amplop dan perangko dimana ada Kayla disitu ada duo A. Biasanya duo A selalu tidur bersama Kayla namun semalam Ziva melarang karena sejak kedatangan Kayla bahkan twins tidak ingin tidur dengannya.
"Aunty kenapa cemberut?" Axel yang memperhatikan wajah Kayla merasa tidak nyaman melihat raut cemberut sahabat kesayangannya itu. Ya hubungan ketiganya seperti seorang sahabat dua A selalu menjaga dan memperhatikan Kayla begitu juga Kayla membuat ketiganya semakin hari semakin bertambah akrab.
"Mommy kalian itu mengusir Aunty." Kayla menunjuk ke arah Ziva sembari menunjukkan wajah memelasnya.
"Mommy nggak boleh ngusir aunty, jika Mommy ngusir aunty Aku sama Lexa ikut aunty!" ancam Axel.
"Betul kata Kakak," imbuh Alexa tak kalah garang.
Kakak beradik kembar itu bahkan memeluk tubuh kayla dengan erat seperti tidak ingin dipisahkan.
Ya di tempat inilah Kayla merasakan kebahagiaan dengan keberadaan Twins yang selalu bisa menghiburnya.
"Baiklah Mommy mengalah tapi bisakah aunty pergi bersama Mommy hari ini?" tawar Ziva menatap penuh harap Twins.
Mendengar permintaan dari mommynya, twins Salang menatap satu sama lain sementara Kayla masih menatap ragu sahabatnya itu.
"Mau kemana apa ini hanya alasan untuk-"
"Tidak. Ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu," potong Ziva dengan cepat sebelum Kayla menyelesaikan ucapannya.
"Kita bisa membicarakan disini kenapa harus keluar?" Kayla masih mempertanyakan keinginan Ziva yang menurutnya aneh.
"Tapi Mommy janji nggak akan ngusir aunty." Axel menyetujui keinginan mommy nya namun juga memberikan syarat.
Ziva mengangkat kedua jarinya ke atas sebagai tanda Ia berjanji pada Twins.
.
.
.
Mobil melaju sedang di jalanan yang cukup lengang di siang itu. Ya keduanya pergi saat jam makan siang sesaat Kayla mengunjungi kantor Ziva.
"Sebenarnya kau ingin membawaku kemana Va?" Kayla akhirnya mempertanyakan tujuan dari sahabat itu karena mobil melaju hampir tiga puluh menit namun belum juga sampai.
"Ada seorang penggemar ingin bertemu denganku," jelas Ziva tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Aku tidak menyangka kau berubah sekarang. Ternyata waktu bisa mengubah seseorang," imbuh Kayla.
"Sudah ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku maupun kak Arsha kau hanya perlu ikut!" Ziva yang sudah mulai gerah karena Kayla malah membahas masalah pribadinya yang sebenarnya semua dilakukannya demi Kayla.
Lima menit kemudian mobil berhenti tepat di sebuah villa yang cukup mewah di perbukitan. Suasana asri dan menyejukkan langsung menyambut keduanya.
"Ayo." Ziva membantu Kayla turun dari mobil. Keduanya melangkah perlahan.
Tiba-tiba seorang pria tampan yang tidak lain Arshaka menyambut.
"Kau sudah datang." Arsha langsung memeluk juga mencium pipi kanan kiri Ziva.
Kayla yang merasa dibohongi merasa kesal karena ternyata penggemar yang Ziva katakan adalah suaminya sendiri.
"Uh, kalian ini kenapa berkencan tapi membawaku ikut!" geram Kayla dengan tangan mengepal.
Melihat ekspresi kesal Kayla, Ziva dan Arsha hanya tersenyum karena ini baru saja akan dimulai. Sementara dari kejauhan seorang pria menatap haru wanitanya yang begitu dirindukannya.
"Sayang tunggu di mobil, aku antar dia dulu!" perintah Ziva pada suaminya.
Setelah itu Ziva menggandeng tangan Kayla masuk ke dalam lalu mendudukkan di meja khusus yang disekelilingnya di kelilingi bunga- bunga dan dihias sedemikian cantik.
"VA ini rumah siapa dan kenapa?" Kayla yang merasa aneh mempertanyakan.
"Tunggu sebentar aku pergi ke toilet sebentar." Pamit Ziva meninggalkan Kayla seorang diri.
Kayla masih merasa baik-baik saja setelah beberapa saat Ziva pergi namun setelah hampir lima menit sahabatnya itu tidak kembali membuat merasa aneh.
Kayla langsung bangkit hendak pergi namun dengan cepat tangan seseorang mendekap tubuhnya dari belakang.
Deg ... deg.
Jantung Kayla berdetak dengan cepat membuat tubuhnya seperti membeku beberapa hingga menerima begitu saja dekapan dari seseorang yang entah Ia tidak ketahui siapa. Namun perasaan ini Ia tahu dengan siapa.
"Ricky," ucapnya lirih.
"Aku merindukanmu, aku tidak ingin lagi kehilanganmu untuk kedua kalinya." Ucapan yang begitu menyayat hati langsung terlontar dari pria itu.
"Benar ini kau," gumam Kayla
Kayla yang tadinya hanya menerima dekapan Ricky langsung menghempas pria itu membuatnya lepas dari dekapannya.
"Aku tidak ingin lagi melihatmu, kenapa kau kembali muncul!" geram Kayla. Perlahan air matanya menitik menatap pria di depannya itu karena saat melihat wajah Ricky membuatnya teringat akan mendiang ayahnya.
"Kay kau salah paham semua ya g aku lakukan karena sejak awal aku mencintaimu tapi aku ..."
"Ya itu lah kau hanyalah seorang pengecut, kau hanya membohongiku sampai-sampai aku kehilangan ayahku. Kau ingat sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu!" potong Kayla penuh emosi melupakan kemarahannya. Ia langsung melangkah pergi meninggalkan Ricky sementara Ricky tidak bisa berkata-kata lagi.
Segala perjuangan telah Ia lakukan bahkan melupakan hidupnya sendiri demi wanita yang dicintainya itu namun memang itulah akibat yang harus diterimanya.
.....