Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 108. Kapan Menikah? (BTS 2)



Happy Reading 😊


Hari menjelang gelap namun Kayla masih disibukkan dengan pekerjaannya. Ya itulah yang dilakukannya untuk mengisi waktunya sebagai seorang yang masih sendiri. Paling tidak Ia bisa menggunakan waktunya sesuka hati tanpa ada yang menggerutu padanya.


Drt ... drt.


Ponsel Kayla bergetar mengalihkan fokusnya. "Bunda," gumamnya dalam hati. Menatap layar ponselnya lalu meletakkannya kembali mengabaikan panggilan telepon itu.


Drt ...drt.


Entah berapa kali teleponnya terus bergetar.


Tok ... tok.


"Bu Kayla hari sudah gelap Ibu tidak ingin pulang?" Ricky yang sudah menenteng tas kerjanya bersiap pulang namun saat melihat atasannya masih berkutat di meja kerjanya Ia menghampirinya.


"Aku akan pulang nanti setelah makan malam berakhir," jelas Kayla.


Ya itulah alasan yang selalu dikemukakan Kayla saat tidak ingin pulang. Ricky tahu betul alasan atasannya itu karena sejak awal Kayla sudah menceritakan semuanya.


"Aku bersedia menemani Ibu jika Bu Kayla perintah kan," ucap Ricky tiba-tiba.


Saat itu juga Kayla langsung tertuju pada pria didepannya itu.


"Kau tahu apa yang kau katakan Ricky, jika aku membawamu pulang itu artinya ...." Kayla tidak bisa meneruskan kata-katanya. "Aku memang atasanmu tapi tidak seharusnya aku memerintahmu untuk urusan pribadi," imbuh Kayla.


"Sebelum pikiran kita ngelantur kemana-mana sebaiknya kita pulang." Kayla membereskan beberapa berkas lalu menyambar tasnya bersiap pulang.


Selama ini Ricky selalu membantunya dalam segala hal bahkan Ricky melakukan semua pekerjaan yang bukan seharusnya menjadi pekerjaannya.


"Silahkan tuan Putri." Ricky mempersilahkan Kayla naik mobil setelah membuka pintunya.


"Kau ini." Mendapat perlakuan manis itu Kayla merasa tersanjung. Selama ini Ricky memang memperlakukannya sangat baik Kayla bahkan menganggapnya seperti adiknya karena usianya yang lebih muda 5 tahun.


"Ibu jika tidak keberatan saya bersedia menikahi Ibu tapi saya bukanlah pria kaya," ucap Ricky di sela mengemudi.


"Kau ini jangan keterlaluan bercanda." Reflek Kayla menepuk bahu Ricky sambil menahan taw. Demi menghiburnya, asistennya itu mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.


"Baiklah Ricky, terima kasih sudah mengantarku." Kayla turun dari mobil sesaat mobil terhenti tepat di depan gerbang rumah Kayla. Kayla melangkah masuk ke halaman sementara Ricky terus menatapnya hingga hilang dibalik pagar.


"Aunty." Kayla disambut kedua keponakannya sesaat masuk ke dalam rumahnya.


"Kak kau berusaha menghindar lagi." Protes Keyla karena lagi-lagi kakaknya itu menghindarinya saat makan malam bersama.


"Siapa bilang, Kakak sibuk harus memeriksa laporan karena besok pagi akan ada rapat evaluasi," kilah Kayla.


Bagaimana mungkin Ia harus menuruti keinginan adiknya itu jika selalu saja keluarga memojokkannya.


Kapan menikah?


Mana calonmu?


Kau sudah berumur sudah seharusnya menikah.


Kata-kata itu yang selalu terdengar di meja makan saat makan malam keluarga yang diadakan setiap malam Minggu dirumahnya.


"Kau bohong Kak, rapat apanya besok itu kantor libur!" bantah Keyla.


"Aku sangat bodoh karena Ricky terus mengangguku aku sampai lupa menyiapkan alasan mengapa aku pulang terlambat," gumam Kayla.


"Hehehe maksud Kakak untuk hari Senin." Kayla kelabakan menutupi kebohongan sendiri.


Sementara dua orang yang sejak tadi mendengar percakapan kakak beradik itu mendekat.


"Kay bunda sudah putuskan untuk menjodohkan kamu dengan putra sahabat Bunda," tegas Jeni tidak ingin dibantah.


"Kay nggak mau Bunda, Kay udah punya calonnya!" sahut Kayla tidak setuju.


"Siapa kenapa tidak cepat dikenalkan sama Ayah dan Bunda, Bunda tidak ingin main-main lagi!"


Jeni mengingat terakhir kali Kayla membohonginya sudah menunggu berjam-jam di sebuah restoran namun calon Kayla itu tidak datang.


Kejadian beberapa bulan itu entah kenapa pria yang berjanji untuk datang sebagai calon Kayla namun tiba-tiba membatalkan juga langsung memutus hubungan dengan Kayla. Selalu saja seperti itu membuat Kayla frustasi akhirnya melakukan kencan buta namun hasilnya tetap sama semua pria itu seperti ketakutan melihatnya dan bahkan memberikan alasan yang tidak masuk akal.


"Kay janji jika kali ini gagal Kay bersedia dijodohkan dengan anak teman Bunda." Kayla berucap penuh keyakinan.


"Ok."


Terakhir kali Jeni akan memberikan kesempatan pada Kayla untuk memilih jodohnya sendiri karena bagaimanapun Jeni menginginkan kebahagiaan Kayla. Entah siapa pria itu asalkan bisa membahagiakan Kayla Jeni tidak masalah dengan statusnya. Itu lah yang ditegaskan Jeni selama ini.