
Alvin termenung di tengah waktu bekerjanya.Ia kembali memikirkan ucapan Ziva terakhir kali bertemu.Selama ini dia memang mengabaikan kehidupannya karena kesedihan yang selalu mengurung hatinya.
Tok ... tok ... tok.
Sekretarisnya memasuki ruangannya dengan membawa berkas. "Tolong tanda tangani, Pak Alvin." Kayla menyodorkan laporan ke meja Alvin dan langsung ditanda tangani atasannya itu.
"Anda terlihat pucat, apa anda sakit?" Kayla menatap wajah Alvin, pria itu memang terlihat lesu.
"Aku baik-baik saja," jelasnya.
"Apa kau merindukannya, kemarin aku lupa memberitahumu.Dia datang ke Jakarta selama 2 hari untuk urusan pekerjaan tapi kemarin sore dia sudah kembali.Maaf Al, aku baru memberitahu mu sekarang." Kayla menatap penuh rasa bersalah karena tidak memberitahu kedatangan Ziva, seharusnya ia memberitahu agar pria di depannya itu bisa bertemu.
"Aku sudah tahu," jawab Alvin dengan ekspresi datar.
"Keluarlah!" timpalnya masih dengan ekspresi yang sama.
Melihat wajah Alvin yang begitu dingin Kayla akhirnya keluar dari ruangan itu karena tidak ingin atasannya itu semakin marah.
"Seharusnya, aku tidak mengatakan apapun tadi.Bodoh sekali aku," gumamnya.Kayla menyesali semua yang telah ia katakan karena bukannya membantu Alvin, pria itu malah semakin terlihat marah.
"Bodoh, bodoh!" umpatnya, mengatai dirinya sendiri sambil melangkah kembali ke meja kerjanya.
Sesaat ia duduk, Alvin terlihat keluar dari ruangannya dengan buru-buru.
"Apa dia akan menemui Ziva, dasar pria bodoh!" umpat Kayla mengatai atasannya itu.Disisi lain Kayla juga merasa cemburu dengan Ziva, sahabatnya itu begitu dicintai pria yang dicintainya.Namun Kayla kembali tersadar ucapan Ayahnya untuk tidak berhubungan dengan atasannya itu karena jelas derajat mereka berbeda.Hanya akan ada luka dan itulah kenyataan yang Kayla dapat walaupun belum mendapatkan cinta CEOnya itu.
Alvin bergegas pergi ke mansion orang tuanya.Alvin memang memilih tinggal di apartemen sejak 4 tahun terakhir karena Ia lebih nyaman tinggal sendiri.Kehilangan Ziva membuatnya menjadi pria tertutup dan lebih suka menyendiri berbanding terbalik dengan Alvin yang dulu seorang pria manja juga playboy.
Alvin memasuki mansion orang tuanya dengan langkah terburu-buru, menaiki tangga menuju kamar Ayahnya.Langkahnya terhenti saat kepala pelayan di mansion itu berkata, "Tuan besar ada di taman belakang, Tuan Muda."
Kedatangan Alvin yang sangat jarang membuat kepala pelayan itu tahu, Alvin mencari Tuan besarnya.
Alvin segera bergegas ke taman belakang dimana Papanya berada.Pria itu langsung duduk bersama Mama dan Papanya yang tengah bersantai.Kedua orang tua Alvin menatap satu sama lain melihat kedatangan putranya yang tiba-tiba.Pria itu hanya datang saat urusan pekerjaan atau saat Soraya mama Alvin meneleponnya untuk datang.
"Lihat kau begitu kurus tak terawat, kenapa kau tidak tinggal disini sama Mama dan Papa?" Keluhan juga pertanyaan dilontarkan Soraya sekaligus.
"Biarkan saja, seorang pria memang harus seperti itu, mandiri dan berkarisma." Bangga Handoyo.
Handoyo bahkan senang melihat perubahan putranya beberapa tahun terakhir ini.Dulu Ia sempat berpikir, bagaimana nasib perusahaannya di tangan putranya yang manja itu namun sekarang Ia bisa berbangga diri.Ditangan Alvin bahkan perusahaannya berkembang pesat.Handoyo pantas membanggakan putranya itu yang berubah menjadi pria yang jauh lebih hebat dari angan-angannya.
"Apa yang kau lakukan disini, apa kau ada perlu dengan Papa?" Handoyo menatap lekat wajah putranya itu.
"Mengenai tawaran Papa terakhir kali, Al menyetujuinya."
Seketika pernyataan Alvin membuat kedua orang tuanya tersenyum lebar.Akhirnya setelah sekian lama pria itu menyetujui keinginan keduanya.
"Papa akan segera mengurus semuanya, kalian hanya perlu saling mengenal dulu.Kalau kalian cocok kalian bisa langsung menikah," pungkas Handoyo.
.
.
Sepulang dari mansion orang tuanya, Alvin masih terus memikirkan keputusan yang diambilnya itu.Ia sebenarnya tidak yakin dengan keputusannya itu namun Ia akan mulai mencoba menerima gadis pilihan orang tuanya itu.Akankah keputusannya itu bisa membuatnya melupakan wanita yang beberapa tahun bertahta di hatinya itu?
Mobilnya terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat yang selalu membuatnya tenang.
Pria itu mengambil kotak besar dari lemari sesaat tiba di apartemen nya.Apartemen dimana Ziva pernah tinggal disana.
Ditatapnya kotak yang berisi barang-barang milik Ziva yang ditinggalkannya juga puluhan foto-foto Ziva yang di langsung oleh orang suruhannya tanpa sepengetahuan Ziva.Matanya menatap nanar foto Ziva hingga akhirnya air matanya menitik di foto itu.
Pria malang itu terjebak dengan cintanya yang sampai kapanpun tidak akan berbalas.Salahnya mencintai istri orang.Kini ia harus menanggungnya, bertahun-tahun terbelenggu dalam perasaannya sendiri.Amat terlalu sayang jika ia harus merusak kebahagiaan orang yang dicintainya.Ia memilih dirinya yang tersiksa daripada harus memaksa untuk bersamanya karena sampai kapanpun cintanya tak akan berbalas.
'Biarlah derai air mata ini menjadi saksi akan kepedihan hatiku yang teramat sangat.Biarlah cinta ini tetap suci di hatiku hingga saatnya aku sanggup melepaskan beban ini perlahan.' Tulis Alvin pada secarik kertas yang ikut dimasukkannya ke dalam kotak itu.
Pria itu bangkit dari duduknya dan langsung membawa kotak itu pergi bersamanya.