
Alvin melajukan mobilnya menuju tempat yang cukup sepi tempat ia sering menyendiri saat tidak bisa mengatasi ketidak berdayaannya.Di tanah lapang itu Alvin melempar kotak yang dibawanya.Matanya menatap nanar semua isi kotak yang berserakan.Perlahan tapi pasti, Alvin mengambil satu foto lalu menyulutkan api membuat perlahan api itu melahap foto juga semua barang yang mengingatkannya pada Ziva.
"Aku melepaskanmu dari hatiku, pergilah kau dari hidupku," gumamnya.
Air matanya menitik seiring api itu melahap habis barang-barang milik Ziva berubah menjadi abu.Ia berjanji air mata ini adalah air mata terakhirnya menangisi orang yang tidak bisa dimilikinya itu.
***
Beberapa hari berlalu Alvin perlahan bisa menata hidupnya.Hari-harinya dihabiskan dengan bekerja keras di kantornya.Sore hari Alvin hendak pulang namun saat melihat Kayla mendekati Sekretarisnya itu.Alvin berpikir untuk menebus kesalahannya karena beberapa tahun ini terus mengabaikan wanita yang dianggapnya sebagai sahabat itu. "Aku akan mengantarmu pulang," tawarnya.
Kayla tampak berpikir di hatinya begitu berbunga dengan tawaran itu namun ia sudah berjanji untuk tidak berhubungan dengan atasannya itu selain karena urusan pekerjaan.
"Aku bisa pulang sendiri." Kayla segera bergegas pergi namun Alvin menahan pergelangan tangannya.
"Kau ingin meninggalkan aku sebagai sahabatmu.Kau lupa kau berjanji pada Ziva untuk menjadi sahabatku seperti persahabatan kalian."
Kayla mengingat janjinya yang pernah ia ucapkan pada Ziva beberapa tahun silam.Saat itu Ia memang mengatakannya namun saat itu perasaannya dengan Alvin tidak seperti saat ini.Dulu Ia hanya menganggap Alvin sebagai sahabatnya karena permintaan Ziva.
Lambat laun perasaannya berubah karena sikap Alvin yang selalu membantunya setiap kali Ia mendapat masalah, benih-benih cinta itu tumbuh begitu saja.Terlebih karena Alvin juga Ia bisa menjadi seorang sekertaris di perusahaan besar seperti perusahaan Agung Handoyo.Ia sadar hanya lulusan S1, padahal pria itu bisa saja mencari sekertaris yang jauh lebih hebat di banding dirinya.
"Aku bosan temani aku hari ini!" Alvin menarik tangan Kayla membuatnya tak bisa menolak.
.
.
"Kenapa kita pergi ke tempat seperti ini?" Kayla tampak kesal karena Alvin mengajaknya untuk nonton film padahal ia tak suka.Alvin terus saja memaksa membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti kemauan pria itu.
Sssttt
Alvin memberikan kode untuk diam karena film akan segera dimulai membuat Kayla hanya menghembuskan nafas kasar.Kayla bahkan tertidur karena memang Ia tak menyukai hal yang dilakukannya saat ini.
Perlahan Kayla membuka matanya saat sudah terjaga dari tidurnya.Ia mengingat-ingat kembali apa yang dilakukannya, saat menyadari sedang berada di bioskop, Ia kembali mengingat sedang menonton film bersama Alvin.
Kayla melirik pria disampingnya itu, terlihat pria itu tengah tertidur.Ditatapnya wajah tampan Alvin sambil berusaha menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah pria tampan itu.
Deg
Jantung Kayla berdegup kencang menatap pria itu untuk waktu yang lama karena biasanya ia tidak berani menatap atasannya itu walaupun Alvin sudah mengetahui perasaanya.
Tiba-tiba Alvin bergerak lalu menggeliat membuat Kayla langsung mengalihkan pandangannya.
"Sudah selesai ya filmnya, maaf aku ketiduran." Alvin melihat ruangan itu sudah sepi hanya ada dia dan Kayla.
"Baru saja kok, ayo kita pulang." Kayla bangkit dari duduknya dan melangkah pergi diikuti Alvin yang mengekor di belakangnya.Keduanya berjalan menyusuri Mall itu.
"Apa kau mau makan?" tawar Alvin.
Kayla merasa pria di sampingnya itu sudah berubah biasanya ia selalu bersikap dingin namun kali ini Ia bersikap hangat.
Kayla mengangguk.Keduanya masuk ke sebuah restoran.
"Kau mau makan apa?"
"Terserah, aku makan apa yang kamu pesan," ucap Kayla.
Alvin segera memesan makanan.Sekitar 10 menit makanan telah tersaji di meja mereka.Kayla dan Alvin segera melahap makanan di depan mereka.
Seorang wanita menatap keduanya intens.Keyla menajamkan penglihatannya melihat kedua sosok itu.Disaat yang sama Keyla dan Kinara makan di tempat yang sama.
"Siapa, kau kenal mereka?" tanya Kinara.
"Itu pangeran es yang aku ceritakan dan itu sekretarisnya," jelas Keyla.
Kinara kembali menatap kedua orang yang tengah dibicarakan Keyla.
"Pangeran es itu tampan sekali." Kinara menatap penuh puja namun fokusnya langsung berpindah ke wanita yang bersama pangeran es itu. "Wanita itu, aku seperti pernah melihatnya, sepertinya tidak asing." Kinara mengingat-ingat.
"Jangan katakan, dia mirip denganku," tukas Keyla.
Kinara kemudian menatap Keyla sekilas lalu berpindah ke Kayla."Betul, wanita itu sangat mirip denganmu hanya saja penampilan yang membedakan kalian.Wanita itu cantik sekali dengan rambut panjang dan bajunya membuat penampilannya semakin manis." Kinara berbicara panjang lebar namun jelas Ia sedang membandingkannya keduanya.
"Kau!" pekik Keyla.
Seketika Kinara tersenyum geli melihat emosi yang nampak dari wajah sahabatnya itu.Perkataan Kinara memang sesuai, Keyla memang terlihat tomboi daripada Kayla yang feminim.
"Ini tak bisa dibiarkan," geram Keyla bangkit dari duduknya melihat Alvin mengelap bibir Kayla dengan tisu.
"Kau mau kemana?"
Keyla tak menjawab dan terus melangkah mendekati Alvin dan Kayla.
"Hai Alvin," sapanya.
Kayla membuang muka saat melihat wajah Keyla yang berpura-pura sok akrab dengan Alvin.
"Kau suka makan disini juga?" timpalnya dengan senyum manisnya.
Namun Alvin tak bergeming dengan sapaan juga pertanyaannya.
"Hei kau, setelah mengurungku di gudang sampai mau mati, sekarang kau pura-pura tidak mengenalku!" bentak Keyla terlihat kesal karena keberadaannya tidak dianggap.
"Kau sebaiknya pergi karena kau menganggu acara makan kita," usir Kayla dengan tatapan tajamnya.
"Cih." Keyla menatap kesal Alvin sekilas lalu bangkit dari duduknya,melangkah pergi.
.
.
Setelah mengantar Kinara, Keyla bergegas tancap gas menuju kediamannya.Saat di perjalanan Keyla kembali mengingat bagaimana Alvin begitu dingin memperlakukannya hingga membuatnya malu di depan Kayla.
"Pria itu!Aku janji akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku dan setelah itu akan ku injak-injak kau sampai jadi keripik!" geramnya.
Keyla melangkah masuk saat sudah berada di halaman rumahnya namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara ketawa seseorang yang cukup keras.Jelas itu suara Bundanya dan satu wanita yang ia tidak tahu siapa.
Keyla perlahan melangkah masuk ditatapnya kedua orang yang tengah asik berbincang di ruang tamu rumahnya itu.
"Sudah pulang, Nak.Sini." Jeni melambaikan tangannya meminta Keyla mendekat.Keyla pun mendekat.
"Salim Key sama Bunda Raya!"
Keyla langsung menjabat tangan teman Bundanya itu setelah itu ia ikut duduk.
"Anak baik pasti lelah ya, istirahatlah Nak." Wanita itu mengusap bahu Keyla.
Keyla pun akhirnya naik ke kamarnya karena ia juga tidak ingin ngerumpi bareng emak-emak itu.