Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 36. Bukan Wanita Penggoda ( Keyla )



Arman kebablasan hingga tanpa disadari tangannya menampar pipi Kayla.Ini kali pertama Arman melakukannya, entah karena ucapan Kayla yang keterlaluan atau tidak suka putrinya yang lain di cap seperti wanita penggoda di luar sana hanya Arman yang tahu.


"Maafkan Kayla, Key." Arman menundukkan kepalanya sebagai permintaan maafnya atas kelancangan mulut Kayla.


"Tidak Om, Key yang salah.Sebaiknya Key pergi." Keyla memegang bahu Arman sekilas lalu melangkah pergi.Belum juga makanan dalam piringnya habis namun suasana sudah tidak mendukung.Arman membiarkan Keyla pergi begitu saja karena Ia terlalu malu dengan ucapan Kayla.Sebagai seorang Ayah, Arman merasa gagal mendidik Kayla dengan baik.


Keyla memacu mobilnya di jalanan pagi yang cukup lengang, mengingat hari ini libur.


Keyla sedikit kecewa karena niatnya ingin menghabiskan waktu akhir pekannya dengan Ayah dan saudara kembarnya pupus sudah.Semua cara sudah dilakukannya namun tetap saja Kayla tidak percaya.Semakin Ia mendekat semakin Kayla berpikir tuduhannya benar.Mungkin hanya Bunda lah yang bisa mencairkan hati beku Kayla.


Mobil Keyla terus memacu, entah mengapa tujuannya malah ke tempat Arka.Ia baru menyadari saat sudah berada di halaman rumah Arka.


Arka yang saat itu tengah duduk di teras bermain-main dengan kucingnya langsung terfokus mobil yang berhenti di halaman rumahnya itu.


Keyla turun namun tidak seperti dirinya yang ceria, Keyla terlihat murung dengan langkah beratnya.


Kucing Arka yang bernama Leo itu terlihat menyambut kedatangan Keyla dengan berguling-guling di depan langkahnya membuat Keyla langsung tersenyum.


"Kau menggemaskan sekali." Keyla menggendong kucing berbulu abu-abu itu sambil mengelus bulunya yang tebal.Dipastikan kucing jantan ras Persia itu menyukai Keyla.


"Dasar kau Leo tidak bisa lihat wanita cantik," decak Arka dengan kelakuan Kucingnya yang bernama Leo.


"Sebelas dua belas seperti kelakuan majikannya," celetuk Keyla membuat Arka menaikkan sudut bibirnya.


"Loe kesini cari gue, secepat itu elo ingin pedekate dengan gue?gue belum siap," seloroh Arka dengan nada bicaranya yang dibuat-buat.Pria itu selalu saja membuat gemas dengan selorohnya yang terkesan garing bagi Keyla namun berhasil mencairkan suasana.


Sesaat Keyla terlihat bahagia namun kembali murung setelah Leo turun dari pangkuannya berlari ke masuk ke dalam rumah.


"Kenapa elo, jadi murung gitu?" selidik Arka.


Arka yang kemarin malam ikut mendengar percakapan Bundanya dan Keyla, secara garis besar mengetahui masalah sahabatnya itu.Meski terkesan pecicilan namun Arka pria yang sangat perhatian dan peka pada wanita.


"Gue bingung, menghadapi kembaran gue.Semua sudah gue lakuin namun Ia tetap saja berpikir gue sengaja melakukannya untuk mendekati Ayahnya yang jelas-jelas juga Ayahku," cerita Keyla.


"Mungkin saudara kembar elo butuh waktu atau mungkin dalam pikirannya orang kaya seperti elo bisa melakukan apapun termasuk memanipulasi hasil tes DNA yang elo berikan."


Secara tidak langsung perkataan Arka ada benarnya.Kayla bahkan selalu tersinggung dengan kebaikannya yang tulus sebagai sebuah hinaan.


"Elo ada benarnya, Ka.Apa elo punya ide bagaimana cara agar kembaran gue bisa percaya?"


"Loe lakukan tes ulang, ajak kembaran elo ikut serta hingga dia yakin elo tidak memanipulasi hasilnya," saran Arka.


Keyla tersenyum dengan ide Arka, entah mengapa hari ini pria absurd itu begitu pintar berbicara.


"Elo udah sarapan, Ka?"


Arka menggeleng dengan pertanyaan Keyla.


"Makan apa loe? tanya Keyla lagi.


"Makan angin."


"Banyak-banyak elo makan angin biar makin pinter," seloroh Keyla dengan pujiannya.


"Kembung gue entar," balas Arka.


Keduanya tertawa, menertawakan kekonyolan mereka sendiri membuat Devi yang keluar membawa minuman dan beberapa toples cemilan menggeleng dengan pasangan absurd itu.


Bagaimana tidak Arka dan Keyla saat di bangku SMA, dua orang yang membuat suasana kelas selalu ramai dengan ulah keduanya.Kini dipertemukan lagi seperti mengulang masa lalu.


"Kau mencari Tante atau Arka, Keyla?" tanya Devi.


"Keyla cuma mampir Tante, tadi Keyla ke rumah Ayah namun ada sedikit masalah , entah kenapa Keyla bukannya pulang malak kesini," jelas Keyla.


"Elo itu pasti merindukan gue makannya dalam pikiran elo cuma Arka, Arka dan Arka," sela Arka.Arka menyunggingkan senyum bangganya.


"Kau itu, suka banget ya sama Keyla." Devi mencubit gemas pipi Arka.


"Aw sakit Bun, Keyla tu yang tergila-gila sama Arka."


Seketika Keyla mendengus kesal akan bicara Arka yang bar-bar sementara Arka hanya tersenyum nyengir.


Drt ... drt.Ponsel di tas Keyla bergetar membuat fokus ketiganya berpindah.Arka dan Bundanya terdiam saat Keyla berbicara di telepon karena tidak ingin menganggu Keyla.Setelah selesai berbicara di telepon, Keyla bangkit dari duduknya.


"Tante, Keyla harus pergi," pamit Keyla mencium tangan Devi namun melewatkan tangan Arka yang ikut diulurkan meminta dicium Keyla."Elo dosa nggak nyium tangan calon suami." Arka menarik tangannya yang diabaikan namun secepat kilat ditarik Keyla, langsung diciumnya.


"Puas, loe." Dihempas dengan kasar setelah itu.


Devi tersenyum dengan ulah konyol keduanya sementara Arka berdebar-debar candaannya ditanggapi serius Keyla walaupun setelahnya tangannya dihempas kasar.


Keyla pun melaju pergi dengan mobilnya meninggalkan Arka yang masih tertegun membuat Bundanya mengerti akan sikap Arka.


"Kau menyukai Keyla, Ka?" telisik Devi.


"Arka." Devi menepuk bahu putranya karena tidak menyahut pertanyaannya malah terlihat tersenyum sendiri.


"Apa Bun?" Arka terperangah dengan tepukan tangan Bundanya.


"Tidak." Devi memilih masuk ke dalam rumah karena ekspresi Arka sudah menjawab pertanyaannya tadi.


.


.


Saat diperjalanan Alvin terus menghubungi Keyla padahal Ia sudah katakan sedang dalam perjalanan namun tetap saja Alvin tidak berhenti menghubunginya membuat Keyla mengabaikan panggilannya


Sepuluh menit kemudian, Keyla telah sampai di sebuah restoran tempat janjiannya dengan Alvin.Pria itu memaksanya untuk datang padahal Keyla sudah menjelaskan sedang dirumah temannya.Belum juga keluar dari mobil, pria itu sudah menyambutnya dengan menarik tangannya yang saat itu hendak keluar dari mobil.


"Alvin, sakit." Keyla memekik dengan tarikan Alvin yang kasar.


"Kau dari mana saja!" Pertanyaan penuh intimidasi itu terlontar dari mulut Alvin.


"Gue kan sudah katakan, gue ke rumah temen."


"Teman yang tadi malam kau datangi, pria itu!" Alvin mendengus kesal dengan jawaban Keyla sementara Keyla hanya terdiam.


"Sudah aku katakan, jangan dekat-dekat dengan pria itu!" tegasnya dengan suara lantang membuat fokus beberapa orang yang keluar masuk restoran itu tertuju pada mereka.


"Tenanglah, gue hanya dekat dengan elo." Keyla mengusap wajah yang merah padam itu, berusaha menurunkan level kemarahannya.


Alvin langsung menarik tangan Keyla masuk ke dalam restoran itu.Keduanya kini sudah duduk namun Alvin terdiam cukup lama membuat Keyla merasa aneh.