
Happy Reading 😊
Mobil Rendy berhenti tepat di depan kontrakan milik Kayla. Saat itu Keyla juga Alvin fokus pada mobil itu.
Kayla turun dari mobil disusul Rendy yang ikut turun. Melihat Alvin, Rendy akan menyapanya dulu sebelum pergi.
"Kau ini sibuk bekerja apa pacaran," tukas Keyla. Sementara Kayla langsung menatap kesal Keyla yang berucap sembarangan. Berbeda dengan Kayla, Rendy malah tersenyum malu mendengar ucapan Keyla.
"Hai Key, lama tidak bertemu. Kemarin pas acara pernikahanmu bahkan kita belum saling sapa." Rendy berusaha mengalihkan pembicaraan dengan suasana yang canggung itu.
"Kak Rendy, kau pasti selalu fokus ke Ziva hingga melupakan aku. Harusnya aku kan yang jadi pusat perhatian kemarin." Ceplos Keyla yang tanpa di sadarinya membuat suasana semakin canggung.Ya saat itu baik Alvin maupun Rendy saling menatap mendengar nama Ziva disebutkan.
Keyla yang begitu polos bahkan lupa kedua pria di depannya itu sama-sama punya masa lalu dengan Ziva. Bukan masa lalu yang menyenangkan yang mungkin akan indah jika di kenang namun masa lalu yang pahit karena baik Alvin maupun Rendy gagal mendapatkan cinta wanita itu.
"Kau ini!" Kayla menepuk kesal bahu Keyla dengan mulutnya yang bar-bar tanpa filter. Ya, itu lah Keyla selalu bar-bar tanpa tahu situasi.
"Ayo masuk dulu." Kayla buru-buru mengalihkan suasana tegang itu. Ia juga menarik tangan Keyla masuk agar kedua pria itu ikut masuk. Benar saja kedua pria itu masuk dan kini duduk di kursi usang di dalam kontrakan itu.
"Key buat minuman, aku akan ganti baju dulu!" perintah Kayla sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Alvin dan Rendy masih saling menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Ya setelah hubungan buruk di masa lalu memang hubungan keduanya belum membaik dan entah mengapa keduanya malah di pertemukan menjadi rekan bisnis.
"Apa sekian tahun belum membuatmu lupa pada wanita itu?" Alvin memberanikan diri bertanya pertanyaan yang selalu memenuhi pikirannya saat melihat Rendy.
"Kau ingin aku jujur atau bohong?" Rendy malah menjawab pertanyaan Alvin dengan sebuah pertanyaan yang menurutnya sangat konyol.
"Terserah karena balik lagi semua tidak ada hubungannya denganku."
"Kau bilang tidak ada hubungannya tapi kau baru saja mempertanyakannya padaku. Oh jangan-jangan pertanyaan itu seharusnya dipertanyakan padamu." Rendy balik melontarkan pertanyaan yang dari dilontarkan Alvin padanya.
Nyatanya baik Rendy maupun Alvin sama-sama tidak bisa menjawab pertanyaan bodoh itu. Dibilang bodoh karena mau jawabannya iya atau tidak semua tidak berguna. Kenyataannya wanita yang menjadi perdebatan keduanya sudah bahagia bersama pria lain.
Dari balik pintu kamar Kayla yang tidak sengaja mendengar obrolan kedua pria itu menjadi bertanya-tanya.
"Oh ya ampun lama sekali Keyla." Kayla pura-pura kesal untuk membuat fokus kedua pria itu tertuju padanya.
"Minuman siap." Tepat waktu, di detik selanjutnya Keyla muncul membawa minuman dari dapur.
"Kay sepertinya aku harus segera pergi. Malam ini aku ada acara, sampai jumpa besok di kantor." Pamit Rendy beranjak dari duduknya.
"Yah Kak Rendy, aku sudah capek buat minum," protes Keyla.
"Baiklah aku minum dulu sebelum pergi." Rendy mengambil segelas teh di gelas dan segera meneguknya sampai habis.
"Terima kasih, aku pergi dulu." Rendy melambaikan tangannya juga tersenyum manis lalu melangkah pergi.
Oh iya dimana ayah?" tanya Keyla yang sedari tadi tidak melihat keberadaan ayahnya, apalagi waktu menunjukkan pukul tujuh malam.
"Ayah. Tadi pagi ayah pamit pergi ke kampung, ayah ingin menenangkan diri." Kayla merasa bersalah karena tidak memberi tahu saudara kembarnya itu karena ayahnya memintanya untuk tidak memberitahu Keyla.
"Kenapa begitu bisa kebetulan, Bunda juga pergi tadi pagi untuk menenangkan diri."
Kedua saudara kembar itu saling menatap dengan pikiran masing-masing namun entah mengapa yang dipikirkan keduanya sama.
"Kalian ini, mana mungkin ayah dan bunda pergi bersama bukannya mereka tidak menerima satu sama lain," sangkal Alvin. Ia lagi-lagi apa yang dipikirkan Keyla dan Kayla terbaca olehnya.
"Diam!" bentak kedua saudara kembar itu bersamaan. Di detik selanjutnya keduanya tersenyum senang lalu berpelukan.
"Akhirnya." Lega kedua membuat Alvin hanya bisa menggeleng tidak mengerti.
"Baru juga pikiran kalian tapi kalian sudah sangat senang bagaimana jika tidak benar itu semua," gumam Alvin.
Entah benar atau salah namun mampu membuat saudara kembar itu begitu bahagia karena mungkin saja baik ayah maupun bundanya malu mengakui semua karena ada keberadaan keduanya yang sudah sama-sama dewasa.