
HAPPY READING 😊
...----------------...
"Ada apa?" Alvin merasa penasaran karena Keyla yang hendak masuk berhenti tepat di depan pintu itu.
"Bunda di dalam."
"Benarkah?" Alvin ikut mengintip.
"Sebaiknya kita pergi dan memberi waktu ayah dan bunda bicara." Alvin menarik tangan Keyla pergi.
Sementara di dalam ruangan itu Arman membuka matanya saat mendengar Kayla telah kembali dari luar.
"Kau kembali." Arman menatap Jeni intens membuat Jeni hanya bisa menunduk.
"Ayah mungkin tidak mengenali Bunda karena kecelakaan itu membuat ayah kehilangan ingatan," jelas Kayla.
Jeni perlahan mengangkat wajahnya menatap pria di depannya itu. Walaupun kehilangan ingatan namun tatapan matanya masih sama seperti dulu saat pertama kali pria itu menatapnya penuh cinta.
"Mas, aku Jeni, kau tidak ingat aku?" Jeni menggenggam tangan Arman.
"Jeni, kau wanita jahat. Bawa keluar wanita ini Kay!" perintah Arman dengan nada emosi.
"Ayah, kau ingat sesuatu?" Kayla mendekat menatap ayahnya lebih seksama.
"Cepat bawa dia keluar!" Arman terlihat uring-uringan sambil memegangi kepalanya.
"Arghh," pekik Arman kesakitan.
"Dokter. Dokter," pekik Kayla saat melihat ayahnya kesakitan.
Seorang Dokter dan perawat langsung menyuntikkan obat penenang pada Arman membuat pria itu perlahan terlihat tenang lalu perlahan memejamkan matanya.
"Sebaiknya jangan memaksa Tuan Arman mengingat masa lalunya Nona karena trauma di kepalanya akan semakin memburuk jika terus dipaksa kita tunggu sampai perlahan pulih dengan sendirinya!" tegas Dokter.
"Baik Dokter."
Dokter itu meninggalkan ruangan itu sementara tanpa Kayla sadari Jeni sudah tidak berada di ruangan itu. Kayla langsung keluar mencari keberadaan Bundanya namun Ia tidak menemukannya.
"Bunda pergi saat Ayah kesakitan tadi," jelas Kayla yang masih mengamati ke sembarang sudut mencari keberadaan bundanya.
"Apa ayah baik-baik saja." Keyla bergegas ingin pergi namun tangan Kayla langsung menahannya.
"Ayah sedang beristirahat setelah Dokter memberinya obat penenang. Sebaiknya kita bicara di luar, biarkan ayah istirahat dengan baik." Kayla menarik tangan Keyla menuju kantin rumah sakit itu.
"Aku akan ke kantor, kalian bicaralah." pamit Alvin mencium pipi Keyla sebelum pergi.
"Hati-hati." Keyla melambaikan tangannya saat pria itu melangkah pergi.
Alvin memberi waktu kembaran itu untuk berbicara karena jika ada dirinya mungkin Kayla merasa sungkan.
.
.
Keduanya sudah berada di meja kantin rumah sakit. Kayla menyeruput kopi latte yang sudah Ia pesan sementara Keyla lebih suka moccha.
"Aku tidak menyangka secepat itu bunda datang kesini?" ungkap Keyla.
"Tapi itu bukan hal baik Key karena nyatanya ayah yang kehilangan ingatan sama sekali tidak mengingat bunda. Malahan ...."
"Malahan apa?" desak Keyla saat Kayla tidak meneruskan ucapannya karena tiba-tiba raut wajahnya terlihat sedih.
"Dalam ingatan ayah nama Jeni adalah wanita jahat."
"Apa?" pekik Keyla dengan keras membuat fokus orang-orang di kantin itu tertuju padanya. Spontan Keyla langsung menutup mulutnya yang bar-bar.
"Kenapa bisa seperti itu?" Keyla kembali berbicara setelah orang-orang disekitarnya kembali ke aktifitasnya masing-masing.
Kayla menaikkan kedua bahunya sebagai tanda tidak mengertinya.
"Seharusnya kita sudah mendapatkan keluarga kita, kenapa kejadian ini harus terjadi," sesal Keyla. Semua terjadi karena perbuatan jahat Kakeknya. "Apakah setelah ini semua akan baik-baik saja. Sebaiknya aku bicara dengan Kakek," imbuh Keyla bangkit dengan raut wajah menahan amarah.
"Key, tenang kan dirimu. Kau tidak boleh emosi seperti ini." Menahan pergelangan tangan Keyla yang hendak melangkah pergi.
"Selama ini kita diam bukan karena kalah namun kakek tidak bisa dibiarkan begitu saja. Orang tua macam apa yang menghancurkan keluarga putrinya sendiri." Keyla menepis tangan Kayla berlalu pergi sedangkan Kayla hanya diam dengan segala kekhawatirannya terhadap Keyla.