
HAPPY READING😊
...----------------...
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya Alvin sampai di kantor Brawijaya.
Blamm.
Alvin menendang pintu ruangan Hendra membuat pria tua itu tersentak kaget. Pria tua itu tengah duduk dengan memangku seorang wanita yang tidak lain adalah sekretarisnya.
"Aw," pekik wanita itu saat Hendra mendorongnya hingga tersungkur ke lantai.
"Tuan anda kasar sekali," pekik wanita itu bangkit dari lantai.
"Keluar!" sentak Hendra dengan suara lantang. Wanita itu akhirnya keluar tanpa berkata lebih jauh karena jika itu dilakukannya bisa saja kehilangan pekerjaannya.
Melihat kelakuan bandit tua itu Alvin hanya tersenyum sinis. Tidak di sangka umur 70 tahun tidak membuatnya sadar diri dengan umur. Hubungan Alvin dengan Hendra renggang sejak Alvin mengibarkan bendera perang. Sejak dulu tidak ada yang berani melawan Hendra namun seorang anak muda seperti Alvin bisa menekannya dengan mudah karena mengetahui masa lalu yang ditutupinya dengan rapat
"Berani masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu, kau kasar sekali anak muda! dimana rasa hormatmu terhadap kakek dari istrimu!" Hendra meluapkan kemarahannya dengan kedatangan Alvin yang secara tidak langsung mengganggunya tadi.
"Kakek seharusnya anda istirahat menikmati sisa umur Kakek, jangan lagi memikirkan masalah pekerjaan apalagi menghalangi kebahagiaan putri juga kedua cucu Kakek," tutur Alvin sinis.
"Omong kosong apalagi yang kau bicarakan, aku sudah melakukan semua kemauanmu anak muda apalagi!Kau memang cucu menantu tapi bukan berarti bisa mengatur semuanya!"
Menanggapi ucapan Hendra Alvin hanya tersenyum sinis.
"Hans berikan bukti pada Kakek tua ini agar melunak dengan mudah!" titah Alvin yang langsung ditanggapi Hans dengan memberikan beberapa bukti foto kebersamaan Hendra dengan seorang wanita yang tidak lain ibu kandung dari Arman.
Alvin langsung melempar bukti itu tepat di depan Hendra membuat pria tua itu meradang.
"Bocah ini berani kau mengancam ku!" Hendra sangat marah bangkit dari duduknya hendak menarik kerah baju Alvin namun dengan sigap Hans menahan pria tua itu hingga tidak sampai menyentuh Alvin.
"Menyingkir lah!" hardik Henda semakin tidak bisa menahan emosinya.
"Hei Kakek tua simpan tenagamu untuk menghabiskan masa tuamu. Aku masih berbaik hati akan membiarkan anda hidup dan menikmati masa tua anda. Hans bawa Kakek tua ini pergi!" tegas Alvin menatap sinis Hendra.
Kedua tangan Hendra di cekal Hans dan anak buahnya dengan paksa membuat Hendra tidak bisa melakukan apapun.
"Dasar kau kurang ajar!" umpat Hendra sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu ruang itu.
"Semoga kakek bisa memperbaiki dan merenungkan hidup yang sudah disia-siakannya," gumam Alvin dalam hati.
.
.
Sore hari Alvin pulang ke apartemennya setelah pekerjaannya di kantor selesai namun apartemennya sepi tidak ada seorang pun.
"Kamu dimana?" ~ Alvin.
"Aku di rumah bunda dan ayah kembali ke kontrakan bersama Kayla. Ceritanya panjang nanti aku ceritakan saat kembali."~ Keyla.
"Aku kesana sekarang."~Alvin.
"Baiklah. Cepat lah aku tunggu."~ Keyla.
"Kau merindukanku?"~Alvin.
"Nggak."~ Keyla.
Tut ... tut.
Sambungan telepon sengaja di putus Keyla hingga Alvin hanya menghela nafas karena lagi-lagi istrinya itu begitu cuek.
"Hans."
Sedari tadi Asistennya itu hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Pulang lah kau pasti lelah!" titah Alvin.
"Baik Tuan." Hans menunduk lalu melangkah pergi.
"Tunggu Hans!"
Baru beberapa langkah langkah Hans di hentikan tuanya itu.
"Tuan perlu sesuatu atau ingin aku antar ke tempat nyonya besar," tawar Hans.
Alvin hanya terpaku menatap Hans membuat Hans tidak mengerti apa keinginan atasannya itu.
"Tidak .... Begini Hans, hubunganku dengan Keyla tidak terlalu hangat. Apa mungkin itu menandakan jika Ia menikah denganku karena terpaksa?" Alvin sedikit bingung mengutarakan apa yang menjadi beban pikirannya beberapa hari ini. Berbicara dengan orang lain seperti ini Ia sedikit malu namun memendamnya sendiri juga tidak akan menyelesaikan semua.
Saat itu Hans terlihat menahan tawa membuat Alvin merasa malu karena tidak seharusnya Ia bertanya pada Hans yang belum menikah.
"Hans lupakan anggap saja aku tidak pernah bertanya seperti itu." Alvin mengalihkan pandangannya karena terlalu malu.
"Maaf Tuan bukan maksud saya menertawakan anda namun bukannya sedari dulu nona Keyla memang cuek tapi bukan berarti tidak menyukai Tuan apalagi terpaksa menikah dengan Tuan," jelas Hans panjang lebar.
"Kau benar Hans mungkin aku yang terlalu berharap lebih. Sudahlah lebih baik kita pergi. Terima kasih sudah mendengarkan omong kosongku."
Alvin merangkul bahu Hans melangkah pergi keluar dari apartemen itu. Walaupun berstatus atasan dan bawahan tapi Alvin menganggap Hans adalah teman karena Hans dan Kayla yang selalu ada membantunya dalam suka maupun duka. Namun kini hanya Hans lah setelah Kayla memutuskan pergi.