
Dalam perjalanan pulang Arman terus tertuju pada sosok gadis tadi.Setelah sekian tahun akhirnya bertemu dengan gadis itu.Langkah Arman terhenti tepat di depan pintu rumahnya.
Arman mengetuk pintu beberapa kali tanpa menunggu lama pintu pun terbuka.
"Ayah." Kayla langsung menyambut ayahnya dengan pelukan membuat Arman mengelus pucuk kepalanya.
Keduanya duduk setelah masuk ke dalam rumah.
"Kau baru pulang?" Arman menatap Kayla yang masih berpakaian baju kerja.
"Iya Yah, baru diantar Alvin." Kayla memperlihatkan raut bahagianya membuat Arman penasaran.
"Kau terlihat bahagia, Nak."
Saat itu Kayla kembali menyunggingkan senyumnya dengan pertanyaan ayahnya.
"Kay hanya-"
"Sebaiknya kau tidak berpikir terlalu jauh Kay karena hanya akan membuat dirimu menyesal!"
Belum juga menyelesaikan ucapannya Arman sudah memotong ucapan Kayla seakan Arman sudah mengetahui apa yang ingin dikatakan putrinya itu.
"Ayah." Kayla menatap ayahnya dengan tatapan nanar.
Masa lalu Arman kini kembali terngiang dalam benaknya.Pertemuan tidak sengaja dengan kembaran Kayla juga Kayla yang mencintai atasannya.
"Kau hanya akan membuat dirimu terluka.Pria itu terlalu kaya karena jelas derajat kita tidak sebanding dengannya." Arman berucap penuh penekanan agar Kayla menyadarinya sebelum terlambat.
***
Sesampainya dirumah Keyla melempar tasnya ke ranjang.Ia kembali mengingat kejadian yang dilakukan Alvin tadi namun ia kembali berdebar mengingat kejadian tadi saat Alvin begitu dekat.Sesaat Keyla begitu bahagia layaknya sedang jatuh cinta namun ia kembali sadar tujuan awalnya.
"Aku selalu saja seperti ini!" keluhnya.
Belum juga merebut hati Alvin malah dirinya sudah jatuh di hati pria itu.Alvin pria tampan itu, siapa yang bisa lolos dari jeratnya.Pesonanya benar-benar membuatnya Keyla tenggelam dalam perasaanya.
"Sadar Key sadar!tujuan awalmu apa." ingatnya pada diri sendiri.
Keesokan paginya.
Keyla beranjak pergi ke kantor mengendarai mobilnya.Adanya Kinara membuatnya lebih bersemangat walaupun belum sepenuhnya.Saat melewati halte fokus Keyla tertuju pada wanita yang tengah menunggu bis membuatnya menghentikan laju mobilnya.Perlahan Keyla turun mendekati wanita yang tak lain Kayla.
"Kau ingin pergi ke kantor?mau bareng sama aku?" tawar Keyla.
"Nggak usah aku bisa naik bis," tolak Kayla.Beberapa kali Kayla melihat jam ditangannya namun bis tak kunjung datang padahal ia bisa terlambat jika tidak segera berangkat.
"Bener kamu menolak niat baikku, Ok." Keyla kembali masuk ke dalam mobil.
"Tunggu!aku akan berangkat denganmu." Kayla akhirnya menerima tawaran Keyla.
Keduanya nampak acuh dalam perjalanan itu karena mereka tidak cukup akrab hingga membuat suasana di mobil itu nampak hening.
Tiba-tiba ponsel Keyla berdering.
"Iya bunda Key masih di jalan.Key akan telat karena ada urusan mendadak," ucapnya di telepon.
Kayla yang tidak sengaja mendengar percakapan wanita yang sedang mengemudi itu.
"Beruntung banget loe punya Bunda," ucap Kayla.
"Maksud loe?semua orang juga punya Bunda."
Saat itu Kayla terdiam cukup lama tanpa ia sadari air matanya menitik.Mendengar kata Bunda bukan hal mudah bagi Kayla.Sejak kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu hingga fotonya pun ia tak memiliki.Hidup yang miskin membuatnya tidak memiliki satupun foto Ibunya.
"Maaf, gue salah ngomong ya." Keyla merasa bersalah karena membuat wanita di sebelahnya itu menangis.
"Gue nggak pa pa kok, bukan salah loe." Kayla turun dari mobil karena mobil itu tepat sesaat mobil terhenti di depan kantornya.
"Terima kasih untuk tumpangannya." Kayla melangkah pergi namun Keyla masih terus menatap punggung wanita itu hingga hilang di balik gedung itu.
"Apa yang membuatnya begitu sedih mendengar kata Bunda atau Bundanya sudah meninggal?" gumam Keyla.
Dok ... Dok ... Dok
Keyla dikejutkan dengan gedoran kaca mobilnya membuatnya tersentak.
"Pangeran es, ada apa lagi?" gumam Keyla dengan mata terbelalak.
Keyla segera keluar dari mobilnya namun berbeda dengan kejadian kemarin malam pria itu menarik tangannya dengan paksa.