Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 50. Bertemu Pria Masa Lalu



HAPPY READING 😊


......................


Kayla yang merasa terancam dengan seorang pria yang menahan tangannya yang tidak ia ketahui siapa. Pria itu tepat dibelakangnya membuatnya tidak mengetahui siapa namun bukan pria baik jika tiba-tiba mencekal tangannya dengan tidak sopan.


"Lepas!" Kayla menepis tangan pria itu. Ia hendak menghempas pria itu dengan jurus karate yang dikuasainya namun tangan tangkas pria itu langsung menahan serangannya.


"Kau." Kayla terbelalak dengan siapa pria yang hampir saja menjadi bulan-bulanannya. Kayla juara satu lomba karate sekota itu pasti dengan mudah meremukkan tulang-tulangnya.


"Hai," sapa lembut pria yang tak lain adalah Rendy. Seniornya di universitas dulu. Namun semenjak Ziva pindah pria itu ikut menghilang bagai di telan bumi. setelah hampir lima tahun kini di pertemukan kembali.


"Kak, kau kemana saja. Kau menghilang begitu saja sejak Ziva pindah ke Bandung?"


"Aku pikir kau nekat bunuh diri," imbuh Kayla memegang erat tangan Rendy.


Melihat air mata yang hampir mengering, Rendy mengambil sapu tangan di sakunya langsung mengusap lembut wajah Kayla.


Menyadari Rendy mengetahuinya baru saja menangis Kayla buru-buru mengusap matanya dengan tangannya.


"Aku kelilipan tadi," kilahnya. Ia langsung memunggungi Rendy karena terlalu malu.


"Masih pagi tapi kau sudah bersedih, ada apa?" Rendy ikut berdiri disamping Kayla yang menatap ke jalanan di bawah sana. Mobil-mobil yang lalu lalang itu begitu kecil dari lantai 36 itu.


"Siapa sedih, kan aku sudah bilang aku kelilipan. Oh iya kau belum menjawab aku tadi, kemana kau menghilang?" Kayla berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku pindah ke Australia, pengajuan beasiswaku untuk kuliah disana diterima jadi aku pindah."


"Kau memang hebat Kak, mantan ketos sepertimu pantas mendapatkannya," seru Kayla dengan senyum menatap Rendy.


"Kau tahu aku mantan ketos?"


"Ziva dia yang menceritakan semuanya, dia juga menyesal karena tidak bisa menerima cintamu walau dia juga mencintaimu," celoteh Kayla tanpa filter.


"Ups." Kayla menepuk mulutnya, menyadari bicaranya bar-bar saat di depan Rendy.


"Tapi Kak, kau sudah melupakan Ziva kan, Ziva sudah bahagia. Aku harap kau juga bahagia," ralat Kayla sebelum Rendy mengartikan lain ucapannya yang bar-bar.


"Beruntungnya Ziva dikelilingi pria-pria tampan dari suaminya, Alvin lalu Rendy. Apa jangan-jangan ada lagi, aku harus menanyakannya jika bertemu," batin Kayla.


Drt ... drt.


Tiba-tiba ponsel Kayla bergetar membuat fokus keduanya berpindah ke ponselnya di tangan Kayla.


"Ia Pak, saya segera ke ruangan anda," jawab Kayla di telepon.


"Kak Rendy maaf aku harus segera kembali bekerja karena atasanku Pak Alvin sudah memanggilku." Kayla berlalu begitu saja padahal saat itu Rendy ingin meminta nomer ponselnya.


.


.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Alvin menuju ke ruang rapat di dampingi Kayla dan Asisten pribadinya Hans yang mengekor di belakangnya.


"Kau baik-baik saja, jika kau tidak nyaman cukup Hans yang mendampingi ku," tawar Alvin di sela langkahnya menuju ruang meeting. Alvin yang mendapati mata merah Kayla yakin kalau perasaan hati Kayla sedang tidak baik. Ia menyadari kesalahannya yang membahas masalah pribadi di kantor.


"Saya baik-baik saja Pak, bukannya tidak boleh mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan."


"Kau betul."


Ucapan Kayla secara tidak langsung menyentak sikapnya.


Baik Alvin maupun Kayla terkejut dengan adanya Rendy di barisan pemimpin perusahaan besar itu yang akan menjalin kerjasama Joint Venture dengan Handoyo Group.


.


.


Selesai rapat anggota rapat pun satu persatu meninggalkan ruangan itu namun menyisakan Alvin, Rendy , Kayla serta Hans.


"Hans, Kayla, kembalilah bekerja!" titah Alvin.


Hans pun menunduk beranjak pergi namun Kayla masih terpaku di tempatnya membuat Hans menarik tangannya keluar.


"Hans, kau tidak tahu akan ada perang dunia ketiga di dalam sana." Kayla menepis tangan Hans yang masih menarik tangannya.


"Kau jangan mencampuri urusan mereka karena tugas kita hanya bekerja!" tegas Hans.


Kayla pun akhirnya mengekor Hans. Betul apa kata Hans, urusan mereka bukan bagian pekerjaannya.


Kayla duduk di meja kerjanya, Ia menunggu Alvin dan Rendy dengan cemas karena takut kejadian di masa lalu mereka akan terjadi lagi.


Setelah dua puluh menit akhirnya keduanya keluar. Terlihat Alvin menjabat tangan Rendy sebelum pria itu melangkah pergi.


Kayla bergegas mengejar Rendy yang sudah melangkah pergi.


"Nona Kayla," pekik Alvin saat melihat Kayla berlari namun karena sepertinya Kayla tidak mendengarnya.


Beralih ke Kayla, Ia buru-buru mengejar Rendy yang sudah masuk lift.


"Tunggu!" pekiknya. Kayla masuk ke lift itu dengan nafas ngos-ngosan.


"Kau kenapa lari-lari, apa ada yang penting?" Rendy menatap Kayla yang masih mengatur nafasnya kembali ke normal.


"Aku. Aku mengejarmu Kak," ucap Kayla di sela nafasnya yang masih sengal.


Rendy pun tersenyum dengan penjelasan Kayla. "Kau bisa meneleponku, kan?"


"Aku tidak punya nomer ponselmu."


"Oh iya." Rendy memberikan kartu namanya pada Kayla.


"Rendy Yuda Pratama CEO Pratama Group." Kayla membaca kartu nama yang diberikan Rendy.


"Kak Rendy hebat sekali, nggak nyangka Kakak orang hebat tapi Kak Rendy kuliah pakai beasiswa." Kayla menatap bingung.


Rendy tersenyum. "Aku hanya menjadi CEO bukan pemilik seperti Alvin."


"Tetap saja kau hebat Kak." Kayla mengangkat kedua jempolnya.


Ting


Lift pun terbuka.


"Aku harus segera kembali ke kantor, kau mau kemana, keluar?"


"Aku mau ke resepsionis," kilah Kayla menuju meja resepsionis.


Rendy melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahannya yang juga dibalas Kayla dengan lambaian tangan.


Kayla menatap pria tampan jenius yang selalu membuatnya terpukau. Tampilan eksekutif muda yang keren, senyum yang ramah serta sikap yang teramat sopan mampu mengalihkan kesedihannya karena penolakan Alvin.