Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 128. Tekanan Batin Kayla



Happy Reading 😊


Tetesan air mata terus menitik di tanah yang masih merah itu. Sejak tadi Kayla tidak bisa berhenti menangis walaupun sudah satu jam berada di depan pusara ayahnya.


"Kak ikhlaskan ayah sudah tenang Kakak harus kuat Kak." Keyla mengusap bahu Kayla berusaha memberi kekuatan pada saudara kembarnya itu.


"Bagaimana aku bisa menyakiti ayah sampai seperti ini, maafkan Kay," gumam Kayla di sela air matanya yang terus menitik.


Kayla kembali mengingat sebelum terakhir kali ayahnya dilarikan ke rumah sakit. Perbincangannya dengan Rendy jelas ayahnya bisa mendengar yang mengartikan jika ayahnya kembali sakit karena mendengar semua pembicaraannya membuat Kayla merasa jika semua ini adalah kesalahannya. Ayahnya meninggal gara-gara dirinya, itu lah yang terbesit di pikiran Kayla.


.....


Seminggu berlalu keadaan Kayla semakin kacau ditambah kondisinya yang tengah hamil semakin memperparah keadaannya. Pagi ini Kayla dilarikan ke rumah sakit karena pingsan.


"Bagaimana keadaan Kayla, Dokter?" Antusias Jeni setelah Dokter selesai memeriksa.


"Nona Kayla tidak sedang baik-baik saja Nyonya, dia mengalami gangguan psikomatik. Mungkinkah terjadi sesuatu yang besar padanya hingga membuatnya mengalami tekanan berat?" ujar Dokter.


"Dia baru saja kehilangan ayahnya Dokter dan karena itu Ia menyalakan diri sendiri. Dia bahkan tidak berbicara menangis ataupun tertawa," jelas Jeni.


.


.


Setelah mendengar penjelasan Dokter Kayla di rawat di rumah sakit karena kondisinya yang lemah.


"Maafkan dirimu Nak, bunda tahu kamu melakukan semua karena ingin ayahmu sembuh. Bukan seperti ini yang ayahmu inginkan, dia pasti sangat sedih melihatmu seperti ini." Jeni mengusap kepala Kayla yang tertidur lemah di ranjang.


Tiba-tiba seseorang memeluk tubuh Jeni dari arah belakang yang tidak lain Keyla.


Hiks ... hiks.


Isak tangis Keyla langsung memberi tahu jika yang memeluknya adalah putrinya yang lain.


"Kau ini datang-datang langsung menangis, ada apa?" Jeni membalikkan badannya menatap Keyla intens.


"Kenapa Kakak memikul beban berat ini sendirian Bunda sedangkan aku .... Aku benar-benar saudara kembar yang tidak bisa di andalkan." Keyla merasa bersalah dengan semua yang menimpa kakaknya sedangkan dia terus berbahagia dengan kehidupannya.


Sementara di luar ruangan terjadi perdebatan sengit antara ketiga pria yang tidak lain Alvin, Ricky juga Rendy. Alvin tidak terima dengan kedatangan kedua pria yang sudah menyebabkan kekacauan ini di keluarganya.


"Kau enyahlah dari hidup Kayla jika masih menyayangi nyawamu!" peringat Alvin.


"Kau punya hak apa Kayla adalah istriku." Ricky yang sudah sangat emosi tidak bisa mengendalikan diri. Ia melayangkan pukulan ke arah Alvin.


Kep


Namun dengan cepat tangan Ricky ditahan Alvin.


"Singkirkan tangan kotor mu itu!" Alvin menghempas Ricky membuat tubuh Ricky mundur beberapa langkah.


Melihat kekacauan di area rumah sakit itu Rendy berusaha melerai.


"Alvin aku akui kami salah jika memang kau tidak mengizinkan kami akan pergi." Rendy menarik tubuh Ricky namun Ricky tetap kukuh ingin bertemu Kayla.


"Aku nggak akan pergi sebelum bertemu dengan Kayla!"


"Kedatangan kita hanya membuat masalah kau lihat beberapa perawat melangkah ke arahnya.


"Tolong jangan buat keributan disini!" peringat perawat itu menatap ketiga pria tampan itu.


Akhirnya Ricky menurut Rendy setelah mendapat peringatan karena memang betul kehadirannya hanya membuat masalah.


Beberapa hari sebelumnya, setiap hari Ricky datang ke kediaman Brawijaya namun Ia terus ditolak. Pagi ini Ia menerima kabar jika Kayla dilarikan ke rumah sakit membuatnya buru-buru mendatangi rumah sakit namun lagi-lagi kedatangannya ditolak.


"Apa yang akan kamu lakukan?" telisik Rendy setelah keduanya melesat di jalanan. Ricky sudah menjelaskan pada Rendy jika Ia memang memiliki perasaan pada Kayla hingga yang dilakukannya dengan Kayla adalah murni perasaannya bukan hanya akting.


Awalnya Rendy tidak terima namun setelah mengetahui Kayla bahkan mengandung buah cinta keduanya membuat Rendy berpikir berulang kali. Semua yang terjadi pada mereka adalah kesalahannya hingga Rendy akan berusaha menyatukan sahabatnya itu dengan Kayla.


"Aku tidak tahu walaupun aku sangat ingin menjelaskan pada Kayla namun nyatanya tidak ada kesempatan itu." Pesimis Rendy. Terakhir kali Ia melihat Kayla saat di pemakaman ayahnya dan sejak saat itu Ia tidak tahu keadaan Kayla.


"Berikan waktu pada Kayla semua ini sangat berat baginya, aku yakin waktu akan memulihkan rasa sakitnya dan perlahan akan menerimamu," tutur Rendy berusaha memotivasi sahabatnya itu.