Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 54. Demi Memenuhi Janji



HAPPY READING 😊


......................


"Aku baik-baik saja tapi kedatanganku bukan untuk itu, ada hal lain yang lebih penting." Keyla mengurai pelukan Kayla.


"Aku tahu kau akan menikah, jangan risaukan apapun tentangku. Aku bahagia jika kau bahagia, Adik." Kayla menjepit wajah Keyla dengan kedua telapak tangannya. Ia nampak gemas dengan wajah Keyla yang terlihat lucu karena aksinya.


"Adik apa maksudmu, Ayah sudah mengatakan semuanya?" tanya Keyla antusias.


"Aku jelas Kakakmu karena setelah K abjad pertama nama kita k-a namaku, namamu k-e. Abjad kedua nama kita a dan e, jelas a lebih dulu daripada e," simpul Kayla.


Keyla memutar mata malas dengan penjelasan saudara kembarnya namun bukan saatnya untuk bercanda karena ada sesuatu yang lebih besar harus di urusnya.


Keyla beranjak keluar meninggalkan Kayla.


"Key mau kemana?" teriak Kayla.


"Aku harus menemui Alvin menyangkut hidup mati keluarga kita," jelas Keyla. Kayla langsung mengikuti Keyla. Keduanya memasuki ruangan itu.


Tatapan menghujam dari Keyla langsung tertuju pada Alvin yang tampak tersenyum senang. Melihat raut kemarahan dari calon istrinya, Alvin berdiri mendekat. Sebelumnya Ia sudah menyuruh Hans meninggalkan ruangannya dengan Kayla menyisakan pasangan trouble itu.


Alvin yang berusaha memeluk tubuh Keyla langsung mendapat penolakan karena Keyla langsung mundur beberapa langkah.


"Dimana Kakek?" tanyanya dengan ketus.


"Baru saja pergi."


Untung saja Hendra tidak melihat duo K itu di tempat yang sama. Saat Keyla dan Kayla berbicara di dalam ruangan tadi Hendra meninggalkan Ruangan Alvin dengan kesepakatan yang sudah disetujui keduanya.


"Kau jahat, kau mendekatiku hanya untuk keuntungan untuk dirimu sendiri!" Keyla mendorong tubuh Alvin yang berusaha mendekat.


"Aku mencintaimu sayang, hanya mencintaimu." Alvin berusaha menggenggam tangan Keyla namun di tepis dengan kasar.


Alvin bahkan mempertahankan jabatannya hanya untuk membuat keinginannya wanita yang dicintainya itu terpenuhi. Pria baik itu berubah menjadi mafia berdarah dingin demi melawan Hendra.


"Aku tidak ingin dengar apapun darimu, aku kecewa!" Keyla menyilangkan lengannya di perut sebagai tanda kemarahannya.


"Semua sudah beres mau apalagi, tidak ada gunanya kemarahan mu hanya buang-buang energi." Alvin kembali duduk ke kursi kebesarannya.


"Apa maksudmu?" Keyla langsung mendekat ke Alvin dengan ucapannya yang belum jelas Ia mengerti.


"Masalah perusahaanmu sudah selesai dan tentu saja pernikahan kita berjalan semestinya dan satu lagi." Alvin sengaja menahan ucapannya.


"Satu lagi apa?" desak Keyla. Ia benar-benar penasaran apa yang ingin dikatakan Alvin.


Pria itu tidak menjawab hanya terus terfokus pada layar komputernya.


"Apa?" desak Keyla lagi kali ini Ia mengusap wajah Alvin dengan manja.


Keyla benar-benar tahu bagaimana pria itu akan membuka mulutnya.


Sentuhan Keyla membuat Alvin berhasil terfokus padanya. Ia bangkit dari duduknya mendorong Keyla yang berdiri di sisi kursinya hingga tersudut di sisi meja kerjanya. Pria itu melancarkan aksinya hendak meneruskan yang belum sempat terjadi saat di butik pagi tadi.


Namun tiba-tiba ponsel Alvin bergetar membuat keintiman keduanya menguar begitu saja.


"Iya Pa. Alvin tahu. Alvin hanya menggertak. Iya l, iya Alvin tahu," ucap Alvin menjawab panggilan telepon dari Papanya.


Raut wajah Alvin berubah lesu setelah mengakhiri panggilan telepon dari Papanya. Tentu saja karena pria itu di marahi habis-habisan oleh Handoyo karena menggunakan kekuasaannya untuk mengancam beberapa pengusaha demi memenuhi keinginannya meruntuhkan perusahaan Brawijaya Group.


"Ada apa?" Keyla meras bingung karena wajah yang tadinya bahagia kini terlihat lesu dan cemberut.


"Apa yang terjadi kenapa hari ini begitu aneh?" gumam Keyla.


Keyla keluar dari ruangan itu setelah si empunya sudah keluar lebih dulu.


"Key tunggu!" Kayla yang sudah sejak tadi menunggu kembarannya itu keluar langsung mendekat.


"Tentang ucapanmu tadi, masalah yang menyangkut hidup mati keluarga kita apa maksudnya? Apa kau sudah mengatakan tentangku dan Ayah pada Bunda?" telisik Kayla.


"Aku belum mengatakannya tapi aku janji akan mengatakan secepatnya. Oh iya tunggu sebentar." Keyla mengingat paper bag yang berisi dress juga setelan jas yang di beli saat di butik masih berada di ruangan Alvin.


Keyla keluar dari ruangan itu membawa dua paper bag.


"Kay ini untuk kau juga ayah, aku ingin kau datang ke pernikahanku pakai ini. Maafkan aku karena aku tidak punya daya menolak pernikahan ini." Keyla menitikkan air mata dengan kesedihannya karena secara tidak langsung Ia telah merebut Alvin dari kembarannya itu.


"Apa maksudmu, kau tidak boleh menangis. Alvin hanya mencintaimu jadi bukan salahmu dan aku sudah melupakan pria itu karena aku sudah mencintai pria lain," kilah Kayla.


Kayla benar-benar menahan kesedihannya walau saat itu Ia ingin menangis namun ia menahannya mati-matian demi Keyla.


"Siapa?" tanya Keyla antusias.


"Kay lihat sendiri, nanti pas pernikahanmu pasti aku kenalkan. Pastinya dia jauh lebih tampan dari pada Alvin." Kata-kata terakhirnya Kayla ucap dengan berbisik.


"Tidak ada yang jauh lebih tampan daripada Alvin ku," pekik Keyla membuat perhatian beberapa pegawai terarah padanya.


Keyla pun menekuk wajahnya menahan malu dengan ucapannya.


Di tempat lain tepatnya di mansion milik keluarga Alvin. Handoyo menatap putranya dengan tatapan menghujam. Handoyo tidak habis pikir putra yang menjadi kebanggaannya itu menggunakan kekuasaannya demi untuk mendapatkan keinginannya.


"Kau keterlaluan Alvin, kau membuat Papa malu!" bentak Handoyo.


"Sudah Pa, Alvin kan sudah memperbaiki kesalahannya." Soraya mencoba mendinginkan ketegangan di ruang kerja itu.


"Tapi Ma, Papa malu. Mau di taruh dimana muka Papa?"


"Di taruh aja di rumah, beres kan?" seloroh Soraya yang langsung membuat Alvin yang terus menunduk tertawa terbahak-bahak.


Handoyo langsung merespon selorohan istrinya dengan tatapan tajam.


Setelah suasana kembali hening Handoyo melanjutkan ucapannya yang sempat terjeda.


"Papa mau kau minta maaf sama keluarga Brawijaya juga para pemegang saham perusahaan itu!" tegas Handoyo tidak ingin di bantah. Alvin mengangguk dengan permintaan Papanya.


.


.


Malam hari keluarga Handoyo berkunjung ke keluarga Brawijaya untuk meminta maaf sekalian untuk makan malam bersama sebelum acara pernikahan di gelar dua hari lagi.


"Nyonya Jeni, Tuan Hendra saya benar-benar minta maaf dengan kelakuan konyol Alvin." Handoyo berucap penuh ketulusan.


"Tidak pa pa Tuan Handoyo namanya anak muda. Ini hanya salah paham, iya kan Ayah?" Jeni melirik ke Hendra yang berada di sampingnya. Hendra sendiri tidak lepas tatapannya dari Alvin sejak kedatangan keluarga itu. Hendra tidak habis pikir bocah ingusan itu tahu masa lalunya yang ditutupnya rapat-rapat.


"Ayah!" sentak Jeni saat Hendra tidak menjawabnya


"Iya." Hendra sedikit terkejut dengan sentakan Jeni namun Ia segera mengatasinya dengan bersikap sewajarnya.


"Dimana Keyla?" ucap Alvin karena sejak tadi Ia tidak melihat keberadaan calon istrinya.


"Di kamar Nak Alvin, panggil saja." Jeni mempersilahkan jika Alvin ingin memanggil Keyla di kamarnya.