
HAPPY READING 😊
Mobil Alvin berhenti tepat di halaman di mansion milik keluarganya.
"Tuan anda lama sekali," protes kepala pelayan yang ditugaskan untuk menyambut kedatangan Alvin.
"Kami baik mobil bukan pesawat!" sewot Alvin.
"Cepat Tuan, Nona Kanaya sejak tadi marah-marah menunggu kedatangan anda."
"****** itu benar-benar keterlaluan setelah aku resmi menjadi anggota Handoyo bahkan memerintah orang sesuka hati!" gerutu Keyla dalam hati.
"Kau ingat jangan membuat masalah, biarkan aku yang bicara. Aku aja mengunci mulut mu." Alvin menghentikan langkahnya sesaat membuat gerakan seolah-olah sedang mengunci mulut istrinya itu.
"Pasangan ini konyol sekali," gumam kepala pelayan itu dengan aksi majikannya itu.
Keduanya kembali melanjutkan langkahnya. Baru satu langkah memasuki mansion itu Alvin dan Keyla disambut tatapan menghujam oleh Kanaya.
"Oh jadi ini biang keroknya, tidak tahu diri oh salah tidak sabaran." Kanaya melangkah mendekat ke arah Alvin lalu menjewer telinga adiknya membuat Alvin mengaduh.
"Ampun Kak, sakit. Ampun."
"Rasakan kau anak kecil, berani-beraninya menikah tanpa memberi tahu Kakak. Sebenarnya kau masih menganggap aku kakakmu atau bukan!" Kanaya tidak melepas jeweran telinganya membuat Alvin meringis menahan sakit.
"Apa yang harus aku lakukan haruskah aku mengatakan sesuatu agar wanita ini melepaskan telinga suamiku," gumam Keyla. Saat ini sikapnya kontradiksi disisi lain ingin membantu namun disisi lain Ia takut Alvin marah karena tadi sudah mengatakan untuk diam saja.
"Kau diam saja melihat suamimu kesakitan?" Kanaya melepas jewerannya lalu fokus pada Keyla yang seperti cuek dengan suaminya.
"Aku ... aku -
"Sudah lah Kak, bukannya Kakak lelah setelah penerbangan cukup jauh kenapa membuang-buang energi untuk marah-marah," sergah Alvin merangkul bahu Kanaya berusaha mengalihkan perhatiannya. Keduanya melangkah menuju sofa sementara Keyla masih terpaku di tempatnya.
"Tidak ku sangka Kanaya begitu menyayangi Alvin sampai begitu marah ketika pernikahannya mendadak tanpa sempat memberitahunya," gumam Keyla. Ia melihat keakraban kakak beradik itu membuatnya iri karena selama ini Ia belum bisa sedekat kakak beradik pada umumnya.
"Key duduk Nak, kenapa masih berdiri disini?" Soraya merangkul bahu Keyla mengajaknya duduk di sofa bersama Kanaya dan Alvin.
Sedari tadi Keyla menatap keakraban kakak beradik itu tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.
"Tidak Tante maksud saya Mana, Keyla malah merasa tersanjung dengan keakraban Kak Kanaya dengan Alvin karena ternyata ada saudara sedekat itu."
"Tenang sayang cintaku hanya untukmu." Alvin langsung duduk mendekat Keyla sembari melancarkan aksi gombalnya membuat Kanaya langsung melempar bantal ke arahnya.
"Kau ini membuatku malu," bisik Keyla.
Saat itu Soraya tersenyum mendengar ungkapan cinta dari putranya itu. Soraya benar-benar bahagia karena kedua putra dan putrinya memperoleh kebahagiaannya.
"Ngomong-ngomong kenapa Kakak pulang tiba-tiba, apa hanya untuk memarahi aku?" telisik Alvin.
"Ya memang kau pantas di marahi, karena pilihanmu yang bodoh ini. Kenapa ada banyak wanita cantik yang menginginkanmu dan kau malah memilih wanita seperti ini!" Kanaya berucap dengan tatapan ketus ke arah Keyla.
"Naya apa yang kau bicarakan!" sentak Soraya emosi karena terang-terangan mengungkapkan ketidak sukanya pada Keyla.
"Kau keterlaluan Kakak!" imbuh Alvin tak kalah emosi.
"Sudah aku nggak apa-apa kok, banyak orang yang menghina orang lain karena sebenarnya mereka menghina dirinya sendiri dengan merendahkan martabat mereka sendiri," balas Keyla tak kalah ketus membuat Kanaya mengepalkan tangannya.
"Al bawa istrimu ke kamar, malam ini kalian menginap saja disini. Pergilah mandi dulu sebelum makan malam!" perintah Soraya. Alvin langsung menarik tangan Keyla bangkit dari duduknya lalu menuju kamarnya di lantai dua.
"Alvin maafkan aku, aku gagal meredam emosiku tadi. Seharusnya aku lebih menahan diri tadi." Keyla merasa bersalah karena telah melanggar perintah suaminya. Ia pasrah jika Alvin memarahinya karena mulutnya yang tidak bisa diatur.
Alvin tersenyum membuat Keyla merasa bingung.
"Kenapa tidak memarahi aku, kau malah tersenyum?"
"Apa kau akan diam saja jika harga dirimu diinjak-injak. Kau sudah melakukan yang benar, aku bangga padamu." Mengusap wajah Keyla membuat Keyla menatap lekat wajah tampan Alvin.
"Aku baru sadar kau sangat tampan pantas jika Kanaya mempertanyakan pilihanmu padaku. Mungkin jika aku bukan bagian keluarga Brawijaya, aku tidak akan pernah duduk disini bersamamu," gumam Keyla dalam hati.
"Tidak usah mendengarkan ucapan kak Nay, apa kau tahu kau ini adalah berlian yang berharga dan hanya aku yang bisa melihat itu. Tidak peduli apapun perkataan orang kedepannya aku ingin kau tahu, aku benar-benar mencintaimu." Alvin berucap penuh ketulusan.
"Entah kau bisa mendengar ucapanku atau kau hanya mengira-ngira tapi aku senang diantara kita ikatan batin kita begitu kuat," gumam Keyla dalam hati. Ia langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat.