
Happy Reading 😊
Alvin tersenyum menanggapi Keyla yang kesal. Bukan Ia memiliki ilmu psikologi membaca pikiran orang lain hanya saja apa yang Keyla pikirkan sesuai dugaannya. Mengenai Bunda Jeni yang pergi, sesaat Alvin meninggalkan mansionnya tadi pagi Art di rumah mertuanya menelepon memberitahunya. Alvin meminta Art itu untuk kembali menghubungi Keyla karena Ia harus segera tiba di kantornya hingga tak ada waktu untuk memberitahu Keyla.
"Paling tidak dia akan mengungkapkan semua yang ada dalam pikirannya hingga tidak ada sesuatu yang bisa disembunyikannya," gumam Alvin dalam hati. Ia tersenyum menyeringai dengan hal baik yang terjadi padanya saat ini.
"Aku ingin ke rumah ayah." Putus Keyla setelah cukup lama mengalihkan pandangannya ke arah kaca jendela.
Alvin hanya mengangguk mengiyakan keinginan istrinya itu.
.
.
Setelah menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai namun lagi-lagi ayah juga Kayla belum pulang.
Di tempat lain.
Kayla membersihkan ruangan-ruangan kantor itu setelah jam kantor selesai.
"Tinggal satu ruangan lagi." Kayla menyemangati dirinya sendiri untuk segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera pulang. Beberapa hari bekerja menjadi cleaning service membuatnya kelelahan. Kayla yang biasanya bekerja di depan komputer dengan jari dan otaknya kini harus menggunakan tenaganya menyelesaikan pekerjaan yang bisa di bilang pekerjaan kasar bagi sebagian orang.
Kayla memasuki ruangan milik CEO perusahaan itu karena dari seluruh ruangan, ruangan ini paling besar. Biasanya Ia tidak membersihkan ruangan ini tapi karena temen kerja yang biasanya membersihkan sakit jadi Ia yang harus menggantikan.
Tanpa di sangka Kayla seorang pria yang sudah bisa dipastikan CEO perusahaan itu masih duduk disana.
"Maaf Pak, saya kira Bapak sudah pulang." Keyla menunduk penuh rasa bersalah karena masuk dengan lancang.
"Kayla," ucap pria itu membuat Kayla yang menunduk sedikit menaikkan. tubuhnya untuk melihat siapa CEO itu karena memanggil namanya.
Ya seperti dugaan Kayla suara itu seperti suara Rendy.
"Kak Rendy, Oh lancang sekali aku!" Kayla kembali menunduk karena bagaimanapun juga pria yang berjarak cukup jauh dari tempatnya berdiri adalah atasannya.
"Kau bekerja disini, cleaning service?" Rendy menatap penuh Kayla yang berseragam pakaian khas cleaning service. Ia sudah berada tepat di depan Kayla.
"Iya Kak maksud saya Pak." Kayla masih menunduk. Ia benar-benar malu harus bertemu Rendy dengan pakaian seperti ini namun apa daya Ia harus tetap bekerja dengan posisi apapun yang pasti pekerjaan baik dan halal.
Rendy menaikkan dagu Kayla membuatnya kini tegak.
"Jangan pernah menundukkan tubuhmu hanya karena kau merasa rendah tapi tegakkan tubuhmu hingga orang lain segan terhadapmu." Rendy berucap dengan senyuman berusaha memberikan Kayla semangat.
"Terima kasih Pak." Kayla masih sedikit terlihat canggung dengan keadaannya saat ini.
"Pak, apa aku cukup tua hingga kau memanggilku Pak, Nona Kayla!" protes Rendy.
"Panggil seperti biasa saja. Duduk lah sebentar, aku hampir selesai." Rendy menarik tangan Kayla untuk duduk di sofa sementara Ia kembali ke kursi kerjanya.
.
Sepuluh menit kemudian akhirnya selesai.
"Aku sudah selesai kau bisa bersihkan ruangan ini sekarang. Kayla semangat." Rendy memberikan semangat lalu melangkah pergi.
"Pria itu baik sekali bahkan posisi yang begitu jauh masih membuatnya tetap menghormati ku," gumam Kayla dalam hati menatap punggung pria yang kini benar-benar hilang di balik pintu ruangan itu.
Kayla dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai Ia berganti pakaian lalu bergegas pergi karena hari semakin gelap.
Beep ... beep.
Klakson mobil menghentikan Kayla yang melangkah menuju halte bus terdekat.
Saat itu kaca jendela mobil itu terbuka menampakkan pengemudi mobil itu. Ya, Rendy si pengemudi mobil itu.
Rendy keluar dari mobil menghampiri Kayla yang terus melanjutkan langkahnya.
"Ikut lah denganku, aku antar kau pulang." Rendy menghadang langkah Kayla membuatnya mau tidak mau berhenti.
"Tidak Kak, aku akan naik bis saja," tolak Kayla.
Tiba-tiba ponsel Kayla berdering membuat Kayla fokus ke ponselnya yang berada di tas.
"Keyla," ucap Keyla sesaat menatap layar ponselnya. Ia segera menjawab panggilan telepon dari saudara kembarnya itu.
"Kau ini kemana saja, aku sudah meneleponmu berkali-kali!" kesal Keyla di seberang telepon.
"Aku sibuk kerja tadi tidak sempat menerima panggilan teleponmu."~ Kayla
"Baiklah, aku sudah berada di kontrakanmu. Cepatlah pulang!"~ Keyla.
"Hem."~ Kayla. Ia langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Bagaimana?" Rendy masih setia menunggunya walau sudah ditolaknya tadi.
Dipikir-pikir tawaran Rendy tepat adanya selain Ia bisa sampai lebih cepat, Rendy akan membuat kembarannya itu percaya kalau Ia bekerja dengannya.
Ia mengangguk membuat Rendy tersenyum senang. Keduanya berlalu pergi dengan mobil.