Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 55. Menuntut Kejujuran



HAPPY READING😊


...----------------...


Alvin yang sudah penasaran karena Keyla yang ditunggunya terlalu lama tidak muncul akhirnya naik ke atas menuju kamar Keyla. Langkahnya mengayun mencari dari sekian kamar dimana kamar Keyla berada. Saat sebuah kamar bertuliskan "Dilarang masuk" Alvin segera mendekati karena dipastikan itu kamar wanitanya.


Cekleek


Alvin segera masuk tanpa mengerti pintu terlebih dahulu.


"Bunda lama banget, aku sudah nunggu Bunda, Key harus pakai gaun yang mana?" ucap Keyla tanpa mengalihkan pandangannya pada gaun yang berjejer di ranjangnya.


Bukan tanggapan suara yang di dapat Keyla malah dekapan dari belakang yang disadari bukan Bundanya karena tangannya mendekap kuat serta badannya yang lebih besar daripada Bundanya. Keyla yang menyadari siapa pria itu dari parfum yang dipakainya hanya bisa mematung, tidak ada sedikit perlawanan pun darinya. Jantungnya yang berdecak kencang akibat dekapan Alvin itulah menjadi penyebabnya.


Berbeda dengan Alvin yang tidak hanya jantungnya saja yang berdetak kencang namun cacing absurdnya ikut terjaga.


Alvin membalikkan tubuh Keyla menjatuhkannya diatas kasur dengan posisi Ia berada di atas. Keduanya begitu dekat dengan nafas beradu. Alvin tidak menyia-nyiakan waktu, Keyla yang pasrah disambarnya dengan bibir menuntutnya meminta kelembutan bibir yang sudah beberapa bulan menjadi candunya.


"Umm." Keyla pun ikut menikmati bukan Ia menginginkan namun karena tubuhnya seketika lemas tidak bisa memberontak walau hanya mendorong. Tiba-tiba sakit jantungnya yang datang pergi dadakan, kumat.


Cekleek


Suara pintu di buka dari luar namun keduanya tidak peduli karena asyik dengan aktifitas pemanasan itu.


"Sudah Bunda duga."


Suara wanita yang cukup keras yang keduanya sadari langsung m lepas satu sama lain. Alvin segera merapikan penampilan yang sedikit berantakan begitu juga Keyla. Keduanya berdiri dalam mode siaga seperti seorang tentara yang siap di marahi habis-habisan.


"Kalian ini sudah tidak sabar, sampai mau melakukan dosa lagi. Cukup sekali kalian melakukan hal itu, setelah kalian sah terserah mau berapa kali." Bentak Jeni namun dengan suara menahan. Jeni tahu anak-anak jaman sekarang memang seperti itu, jadi keputusannya untuk menikahkan Keyla dengan cepat sudah tepat.


"Bunda, Keyla belum pernah melakukannya!" protes Keyla.


"Kalau tidak pernah melakukannya lalu apa tadi? Mungkin kalian sudah sama-sama basah kan?" sangkal Jeni.


Baik Keyla maupun Alvin dipastikan keduanya dalam mode satu tingkat hasrat keduanya naik.


"Ah Bunda pengalaman sekali, jangan-jangan dulu Bunda sering melakukannya dengan Ayah saat belum menikah," tukas Keyla. Wajah Jeni berubah memerah seperti udang kepanasan mengingat masa lalunya.


"Ah kenapa jadi kamu yang menilai Bunda. Bunda peringatkan tunggu 3 hari lagi setelah itu terserah kau mau melakukannya sebanyak apa!" Jeni memberi peringatan tentunya sambil menahan rasa malu karena aibnya mungkin juga terbongkar dilihat dari ekspresinya.


"Alvin kau keluar dulu, biar Keyla berganti pakaian!" Perintah Jeni.


"Kenapa harus keluar harusnya Tante izinkan aku sebagai calon suami melihat tubuh calon istri tanpa sehelai benang!" Protes Alvin namun hanya berani Ia ucapkan dalam hati. Dipastikan jika Ia utarakan langsung akan langsung di pecat sebagai calon menantu.


Alvin melangkah keluar, Ia kembali turun kebawah bersama kedua orang tuanya.


"Dimana Keyla, kenapa turun sendirian?" tanya Soraya dengan nada pelan tidak sampai membuat Handoyo dan Hendra yang tengah ngobrol tidak teralihkan fokusnya.


Soraya manggut-manggut dengan jawaban putranya.


Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya Keyla dan Jeni turun. Fokus semua orang langsung tertuju pada putri rumah itu yang tampak cantik dengan gaun berwarna merah membuat gadis tomboi berwajah imut itu nampak begitu dewasa dengan tampilan sensual yang menggoda tentunya hanya Alvin yang tergoda.


Keyla langsung menyalami Papa dan Mama Alvin namun tidak tertinggal karena Alvin juga ikut menyodorkan tangannya. Mau tidak mau Keyla mencium taga Alvin walaupun sebenarnya Ia tidak ingin. Keyla merasa tidak enak jika menolak Alvin kerena saat itu Papa dan Mama Alvin menatapnya.


"Sungguh mantu idaman cantik, pinter juga berkelas." Handoyo menatap calon menantunya dari ujung kaki sampai unjung rambut begitu pula dengan Soraya yang ikut membenarkan perkataan suaminya.


"Terima kasih Om." Keyla menunduk malu dengan pujian dari Handoyo.


"Jangan panggil Om panggil Papa dan Mama seperti Alvin karena sebentar lagi panggilan itu yang akan Nak Keyla sematkan pada kami berdua." Handoyo menatap Keyla sekilas lalu berpindah ke istri disampingnya.


"Baik O maksud Keyla Pa-Papa, Ma-Mama." Lidah Keyla masih kaku mengatakan panggilan yang belum terbiasa baginya.


Semua orang tertawa mendengar ucapan Keyla namun tidak dengan Alvin karena pria itu dipastikan pikirannya sudah traveling kemana-mana. Tatapannya sejak Keyla muncul tidak teralihkan dari wajah cantik calon istrinya itu.


"Alvin!" sentak Soraya menepuk paha Alvin karena Ia tahu putranya itu dalam mode melamun.


"Siap!" Alvin dalam mode siaga seperti tentara yang mau perang. Lagi-lagi kedua keluarga itu tertawa dengan keras dengan aksi konyol Alvin. Mama Soraya langsung menarik tangan Alvin untuk duduk sementara Alvin terlihat bodoh dengan ekspresi menahan malu.


Tidak disangka Alvin Handoyo yang penuh wibawa, disegani oleh musuhnya kini terlihat seperti cacing kepanasan. Cinta memang bisa merubah siapapun, mencairkan hati yang membeku sekalipun.


.


.


Setelah makan malam selesai sembari menunggu para orang tua berbincang-bincang tentang acara yang akan di gelar tiga hari lagi, Alvin dan Keyla memilih berjalan-jalan di taman belakang rumah Keyla yang cukup luas. Taman yang di penuhi dengan lampu-lampu berwarna-warni itu menambah suasana di tempat itu begitu romantis.


Alvin yang sedari tadi menggenggam tangan Keyla tanpa mau melepasnya menahan tangan itu untuk berhenti sejenak.


"Ada apa?" Keyla yang ingin duduk di gazebo merasa aneh belum juga sampai Alvin sudah menghentikan langkahnya.


"Aku ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting sebelum semua terlambat." Nada bicara Alvin yang berubah serius membuat Keyla ikut menatap serius.


"Apa, katakan!"


"Tentang perasaanmu, aku tidak ingin jika Pernikahan kita yang terkesan seperti pemaksaan ini menjadi penyesalan terbesarmu. Sebelum semua terlambat aku ingin kau menjawab pertanyaanku dengan kejujuran." Nada bicara Alvin semakin serius menandakan pria itu benar-benar menuntut pengakuan dari wanita yang sebentar lagi dipersuntingnya.


"Katakan semua kerisauan mu, aku akan menjawab semua dengan kejujuran."


"Apa kau benar-benar mencintaiku atau hanya hartaku atau kau hanya ingin menyelamatkan perusahaan seperti keinginan Kakek?" Alvin memberi pilihan jawaban Keyla dengan tiga jawaban sekaligus.


Keyla tampak berpikir namun menurut Keyla tidak hanya satu yang bisa Ia jawab karena dari pertanyaan Alvin ketiga jawaban itu benar adanya.