
HAPPY READING 😊
...----------------...
Kini Kayla juga Ziva sudah duduk di bangku taman yang masih area di rumah sakit itu.
Ziva kembali memeluk tubuh Kayla.
"Sudah aku duga, kau benar saudara kembar Keyla," ungkap Ziva masih mendekap tubuh Kayla.
"Kau benar Va." Kayla mengurai pelukannya namun ekspresi bahagia Kayla berubah murung.
"Kenapa kau harusnya bahagia kau bisa bertemu dengan saudara juga ibu kandungmu?" Mengusap punggung Kayla.
"Jika dari awal akan berakhir seperti ini sebaiknya aku tidak perlu mengetahui kebenaran ini. Keluargaku bukan kelurga yang terpisah karena tidak si sengaja Va tapi disengaja jadi apa baiknya mengetahui semua jika tidak berakhir bahagia," jelas Kayla panjang lebar mengeluarkan segala kerapuhan hatinya. Air matanya menitik membuat Ziva kembali memeluk sahabatnya itu berusaha menguatkan.
Dari kejauhan Arsha dan Alvin menatap dua sahabat itu mereka jelas tahu apa yang di bahas keduanya hingga ada kebersamaan itu begitu mengharukan.
"Kau lihat Kayla sudah cukup terluka karena dirimu, kau mengabaikan wanita yang bertahun-tahun mendukungmu walaupun kau selalu mengabaikannya." Arsha menatap kesal pria di depannya itu.
"Kau benar tapi bukan Kayla yang menggerakkan hatiku tapi Keyla atau kau mau aku menikahi keduanya?" Alvin membalas senyum menyeringai.
"Kau!" Hampir saja bogem mentah menyasar ke wajah Alvin jika Arsha tidak menahannya tadi.
"Cinta itu adalah antara bahagia dan sakit jadi waktu akan menyembuhkan Kayla dengan sendirinya seperti diriku dulu." Alvin mengingat masa lalunya yang begitu pahit walaupun sangat mencintai Ziva nyatanya Ia harus merelakan wanita yang dicintainya itu bahagia bersama pria lain. Setelah sekian tahun akhirnya Alvin bisa melupakan Ziva lalu membuka hati pada Keyla namun itu bukan akhir kisah cintanya karena ada hati lain yang Ia pikiran dengan semua rasa cintanya itu.
Kembali ke Kayla dan Ziva.
Ziva menghapus air mata Kayla.
"Kau harus yakin jika akan ada kebahagiaan untuk keluargamu apapun masalahnya." Ziva menjepit kedua pipi Kayla dengan tangannya.
"Lusa Keyla akan menikah, apa kau sudah siap?" sambung Ziva.
"Apa yang harus aku persiapkan selain hatiku."
"Apa yang harus aku relakan karena aku kamu tidak pernah memulai, jadi jangan menganggap aku tersakiti," kilah Kayla berusaha menyembunyikan perasaannya. Walaupun tidak pernah memulai namun Kayla sudah terlanjur memasukkan Alvin di dalam hatinya. Sesakit apapun Ia akan mengikhlaskan demi kebahagiaan saudara kembarnya.
Ziva kembali memeluk tubuh sahabatnya itu berusaha menguatkan walaupun Kayla mengelak namun Ia tahu hati Kayla rapuh dari setiap ucapannya.
Setelah menemui Kayla, Ziva kembali ke rumah Keyla untuk memberitahu semua yang sudah di dengarnya dari Kayla.
"Kau yakin Va?" Keyla mencoba meyakinkan apa yang di dengarnya.
Ziva mengangguk dengan ucapannya.
"Kau hanya perlu mempersiapkan diri jangan memikirkan yang lainnya. Semua akan baik-baik saja." Ziva mengusap punggung Keyla.
"Terima kasih Va entah apa yang terjadi padaku jika kau tidak datang mungkin aku masih ragu atau mungkin aku lebih memilih tenggelam ke dasar lautan dengan semua ini."
"Kau tidak boleh mengatakan hal itu yakinlah masalah itu akan mendewasakan pikiranmu. Tidak ada kebahagiaan sia-sia karena perjuangan." Ziva mencubit gemas pipi Keyla.
"Oppa kau harus janji tidak akan mengkhianati dan menyakiti Zivaku yang bijak ini," ancam Keyla mendelik ke arah Arsha.
"Tentu saja siapa juga yang akan membuang wanita sempurna seperti istriku." Arsha menarik Ziva masuk ke dalam pelukannya.
"Wait, wait. Kalian mesranya di kamar saja!" kesal Keyla menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Ok." Arsha menarik tangan jika mengayunkan langkahnya.
"Kalian!" Keyla bertambah kesal.
"Dua hari lagi kamu akan balik karena tidak mungkin kita mengabaikan twins kan?" pekik Ziva dari kejauhan.
"Awas kalau kalian bohong , aku tidak akan menikah jika kalian tidak datang!" ancam Keyla.
Ziva melambaikan tangannya sambil menjulurkan lidahnya saat mobil melaju pergi.