Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 39. Skenario Tuhan



Enam hari sudah Kayla mengabaikan Ayahnya meski masih sarapan juga makan malam bersama namun tidak ada obrolan diantara Ayah dan anak itu.Arman memang sengaja membiarkan putrinya itu hingga amarahnya surut dengan sendirinya.


"Kay, maafkan Ayah," ucap Arman di sela-sela makan malam itu.


Kayla tidak bergeming, Ia terus melahap makanan hingga tak bersisa.Gadis itu beranjak dari duduknya membawa piring kotornya ke dapur.Lima menit kemudian Ia keluar dari dapur lalu menuju kamarnya.


Arman menyadari sikapnya memang keterlaluan karena menyikapi putrinya dengan kekerasan hingga melayangkan pukulan yang seumur hidupnya baru kali ini.


Selesai menyelesaikan makan malamnya dan membereskan meja makan Arman memilih masuk ke dalam kamarnya.Ia membaringkan tubuh lelahnya setelah seharian berkutat dengan mesin-mesin pabrik.Pekerjaanya yang sudah lima tahun digelutinya sebagai karyawan pabrik.


Pria itu menatap langit-langit rumahnya.


"Kenapa hal yang aku takutkan selama bertahun-tahun terjadi? kau akhirnya mencari keberadaan saudara kembarmu.Aku bisa apa dengan takdir yang Tuhan jalankan saat ini," gumam Arman.


Lima tahun lalu Arman memutuskan pindah ke kota ini setelah bertahun-tahun hidup di kampung.Ia menjual sawah beserta rumahnya demi mewujudkan mimpi Kayla yang ingin kuliah di kota.Ia juga sempat memiliki mobil yang dibelinya dari sisa uang penjualan sawah dan rumah namun mobil itu akhirnya terjual untuk menutupi biaya hidup di kota besar.Gajinya sebagai pekerja pabrik tidak bisa mencukupi biaya hidup di kota.


Arman mengusap wajahnya menghela napasnya, Ia pasrah akan takdir yang harusnya terjadi.Hidup begitu mempermainkannya.Benar orang bilang, hidup bukan hanya tentang cinta nyatanya cinta tidak bisa menghilangkan dinding pembatas diantara dia dan istrinya.Kawin lari juga tidak menyelesaikan semua, karena nyatanya hidupnya malah tambah kacau.Ia hanya tidak ingin putrinya mendapat imbas dari masa lalu pahitnya.


Tidak terasa air matanya menitik meluapkan semua beban hati yang selama ini disimpannya rapat-rapat yang perlahan kembali terkorek.


***


Keesokan paginya.


Kayla dan Ayahnya kembali sarapan bersama namun kembali tidak ada pembicaraan keduanya hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu.


"Kay, besok Ayah ingin ke makam Kakek dan Bundamu, apa kau mau ikut?"


Setahun terakhir Kayla tidak mengunjungi makam Bundanya.Terakhir kali saat pemakaman Kakeknya yang dikuburkan disamping Bundanya.


Kayla tampak tak bergeming, Ia masih sangat marah hingga menahan suaranya keluar padahal saat itu Ia ingin mengatakan iya.


"Baiklah jika kau tidak mau ikut, Ayah akan pergi sendiri." Arman yang sudah selesai sarapan membawa piring kotornya ke dapur.


"Sini biar Kayla cuci Yah." Kayla mengambil alih pekerjaan Ayahnya.Arman pun tersenyum senang akhirnya putrinya itu luluh akan kemarahannya.Arman sudah menduga Kayla tidak akan mengabaikannya terlalu lama.Hidup berdua membuat mereka saling memiliki dan membutuhkan hingga tidak akan mampu keduanya saling mengabaikan dalam waktu yang lama.


"Aku akan ikut Ayah besok," terang Kayla di sela-sela mencuci piringnya.Arman kembali tersenyum senang setelah setahun tidak mengunjungi makam orang tuanya, Arman menggunakan waktu liburnya untuk melepas rindu dengan Ayahnya.


Sementara di tempat lain Keyla sudah menunggu Alvin tepat di depan gedung apartemennya.Ia menghela nafas panjang karena lagi-lagi pria itu telat.Sepuluh menit akhirnya Alvin terlihat keluar dari gedung apartemennya.


"Maaf, aku terlambat bangun lagi." Alasan yang sama Alvin kemukakan seperti kemarin.


"Elo ini telat bangun mulu, jangan-jangan elo olahraga malam," tukas Keyla.


"Olahraga malam, apa itu?" Alvin yang memasang dasi di lehernya, menautkan kedua alisnya menatap bingung dengan istilah yang baru saja Keyla ucapkan.


"Oh my God," gumam Alvin dengan kepolosan gadis di sampingnya itu, ia bahkan ingin tertawa terbahak-bahak dengan jawaban polos Keyla namun berusaha menahannya karena pamornya sebagai pria penuh kharisma akan jatuh jika itu Ia lakukan.


Mobil Keyla melaju perlahan menyusuri jalan pagi itu.


"Medina, bukannya yang baru saja menikah kemarin?" Alvin memastikan ingatannya benar.


Keyla mengangguk.


"Sebaiknya kau lebih banyak bertanya padanya bagaimana olahraga malam itu, biar otakmu semakin pintar saat sudah saatnya olahraga malam denganku." Kalimat terakhir diucapkan Alvin dalam hati karena takut ucapannya akan berbuntut panjang dan harus menjelaskan lebih detail.


"Gue nggak suka olahraga, buat apa bertanya-tanya sesuatu yang tidak gue suka." Lagi-lagi Keyla menjawab dengan polosnya membuat Alvin seketika ingin terbang ke Antartika demi menyembunyikan tawa yang sudah tidak bisa ditahannya.


"Elo tertawa?ada yang lucu?" Keyla yang samar-samar mendengar suara ketawa Alvin.Pria itu benar-benar sudah tidak bisa menahan ketawanya lagi.


"Tenggorokanku gatal," kilah Alvin memegang lehernya.


Alvin benar-benar dibuat gemas akan kepolosan seorang Keyla.Bagaimana jika Ia menikah dengannya nanti, apa Ia harus memberi les padanya agar mengerti dunia olahraga malam.Alvin bergidik membayangkan semua itu.


"Kenapa loe?" Keyla menatapnya bingung.Lima menit Ia memperhatikan ekspresi pria disamping itu karena bukannya turun dari mobil Ia malah traveling ke dunia khayalannya.


"Nggak pa pa." Alvin hendak mencium kening Keyla namun lagi-lagi wanitanya itu menghindar membuat Alvin menahan rasa kecewa.


"Hati-hati," pesan Alvin sebelum turun dari mobil.


"Mobilmu belum beres juga, gue capek antar jemput loe.Masa CEO mobilnya cuma satu," keluh Keyla.Enam hari sudah Ia antar jemput Alvin bak taxi online.


"Gantian aku yang akan antar jemput kamu." Alvin berucap kemudian turun dari mobil Keyla.Keyla melesat pergi dengan mobilnya sementara Alvin memasuki kantornya dengan senyum yang terus mengembang karena ulah konyol Keyla.


Kayla yang menatap dari kejauhan tampak aneh karena senyum yang tidak pernah nampak itu akhir-akhir ini terus menghiasi wajah Ceo-nya itu.


Kayla segera bangkit dari duduknya setelah mendapat panggilan dari atasannya itu melalui panggilan intercom.


Saat Kayla masuk lagi-lagi pria itu senyum-senyum sendiri, entah apa yang terjadi padanya.Kayla menunduk sesaat memasuki ruangan itu.


"Key, presentasi hari ini apakah bisa dimajukan jadwalnya." Alvin harus menjemput Kakaknya di Bandara jadi harus pulang lebih awal hingga memajukan jadwalnya hari ini.


"Saya akan mengkonfirmasi dulu dengan anggota rapat Pak, dan saya Kayla k-a-y-l-a." Kayla menyebutkan abjad namanya satu persatu agar atasannya itu tidak salah memanggil namanya atau jangan-jangan atasannya itu sengaja entahlah hanya dia yang tahu.


"Oh maaf," ucap Alvin tanpa memperhatikan wajah sekretarisnya itu.


Kayla pergi dengan menahan amarahnya karena pria yang dicintainya itu hanya memikirkan Keyla dan Keyla walaupun sedang bekerja sekali pun.