
"Elo baik-baik saja?"
Alvin hanya mengangguk menjawab pertanyaan Keyla.Entah mengapa Ia selalu tidak bisa mengontrol kemarahannya saat mengetahui Keyla pergi membawa makanan yang cukup banyak.Pagi tadi Alvin ke rumah Keyla namun Keyla sudah pergi.Jeni berpikir Keyla pergi bersama Alvin namun nyatanya entah pergi kemana Keyla membuat Alvin dibakar api kemarahan bercampur cemburu.Saat bertemu dengan Keyla, amarahnya itu meluap berlebihan hingga terkesan kasar memperlakukan wanitanya.
"Maaf, Key," lirihnya.
Keyla hanya tersenyum, akhir-akhir ini pria di depannya itu memanggilnya dengan namanya bukan lagi wanita jadi-jadian.
"Sudah jangan membahasnya lagi, kau mau makan apa? kebetulan aku juga lapar." Keyla fokus menatap buku menu di tangannya.
"Kau lapar? bukannya ...."
"Bukannya, apa?" desak Keyla karena Alvin tidak meneruskan ucapannya.
"Lupakan.Aku mau makan seperti yang kamu makan," kilah Alvin mengalihkan pembicaraan.
Saat itu waktu menunjukkan pukul sebelas siang.Keduanya makan dengan lahap, Alvin belum sarapan sementara Keyla yang baru beberapa suap makan saat dirumah Kayla tidak cukup mengisi kekosongan perutnya.
"Key."
"Apa?"Keyla menatap tidak mengerti.
Alvin mengelap bibir Keyla dengan jempolnya lalu menjilat jempolnya tanpa rasa jijik.
"Ih." Keyla berdecak tidak mengerti dengan sikap Alvin.
"Jika saja tidak ada orang disini pasti aku akan mengelap bibirmu yang belepotan saus Jajangmyeon itu dengan mulutku," gumam Alvin.Bagaimana tidak bibir Keyla begitu menggoda dengan saus Jajangmyeon itu membuat Alvin menelan salivanya dengan susah payah.Alvin segera mengelap bersih bibir Keyla karena takut tidak bisa mengendalikan pikiran mesumnya itu.
Keduanya meninggalkan Restoran itu setelah selesai makan.Alvin sengaja naik taxi ke restoran tadi karena jika naik mobil, Ia dan Keyla tidak bisa semobil seperti ini.
"Dimana mobil, loe?" Keyla menatap Alvin yang fokus mengemudi.
"Rusak, di bengkel.Setiap pagi kau harus menjemput juga mengantarku pulang!"
"What? elo pikir gue taxi online!"
"Taxi hatiku," lirih Alvin yang hanya bisa di dengar olehnya sendiri.
"Apa?"
Alvin memilih memacu mobil daripada menjawab Keyla.Mobilnya melesat dengan kecepatan tinggi hingga sampai lebih cepat di apartemen miliknya.
"Kenapa ngajak gue kesini, gue mau balik." Keyla berputar arah saat sudah berada di depan pintu apartemennya.
Secepat kilat Alvin menarik tangan Keyla masuk.
Pria itu langsung melancarkan aksinya ******* bibir yang sejak tadi terus menggodanya hingga berpikir membawa Keyla ke tempat yang aman.
"Mm." Keyla berusaha melepas pagutan itu namun Alvin semakin mencengkram tubuhnya hingga tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya.
"Hah." Keyla hampir kehilangan nafasnya dengan ciuman penuh paksaan itu.Lagi-lagi pria itu mau membuatnya kehilangan napas.
"Duduklah!" perintah Alvin.
Pria itu masuk ke dalam kamarnya sementara Keyla duduk di sofa setelah cukup mengirup oksigen sebanyak-banyaknya.Keyla menggigit bibir bawahnya, entah mengapa kelakuan paksa Alvin itu menjadi candunya.Ia bahkan tersenyum sendiri saat kembali mengingat semua itu.
"Kau kenapa?" Alvin menatapnya aneh karena tersenyum sendiri.
Pria itu terlihat santai dengan baju rumahan.Kali pertama Keyla menatap pria itu dengan baju seperti itu membuat pria itu seperti pria biasa pada umumnya.
"Kau mau lagi?" tawar Alvin mendekatkan tubuhnya hendak mengecup kembali bibir Keyla. Keduanya kembali bertautan namun kali ini Keyla mengimbangi dengan memainkan lidahnya ke seluruh rongga mulut pria itu.Keduanya tersenyum setelah melepaskan tautan masing-masing.Alvin mengusap bibir Keyla yang basah, menatap wajahnya intens.Keyla langsung mendekap pria itu, dada bidangnya begitu nyaman.
"Kau gila Keyla, kau gila," gumam Keyla semakin erat mendekap tubuh prianya.
"Aku juga gila," bisik Alvin di telinga Keyla.Pria itu seperti mendengar gumaman nya membuat Keyla langsung melepas dekapannya.
"Ma- mau minum apa?" tawar Alvin terbata-bata masih dalam fase salting.
"Terserah."
Alvin melangkah namun baru beberapa langkah pria itu tersandung kakinya sendiri.
"Elo tidak apa-apa?" Keyla bangkit langsung membantu Alvin.
Keduanya bertatapan membuat wajah keduanya kembali merona.Alvin langsung melepas tangan Keyla karena jika tidak jantungnya yang berdegup diluar batas bisa-bisa jatuh ke lantai saat itu juga.
"Oh my God." Keyla memukul dadanya yang hampir meledak.Kali pertama Ia merasakan penyakit hati yang satu ini.
"Ternyata lebih berbahaya dari sakit jantung," lirih Keyla kembali ingin duduk.
"Siapa, sakit jantung?" Alvin yang telah kembali, menyahut Keyla tanpa Keyla sadari sudah berada dibelakangnya.
"Elo!" Keyla berdecak kesal karena belum juga jantungnya memompa normal sudah dikejutkan lagi.
Keduanya duduk di sofa namun entah sejak kejadian tadi suasana menjadi canggung, Keyla yang biasa nyerocos entah mengapa tiba-tiba tidak bisa berbicara seperti biasa.
"A ...." Keduanya malah berbicara bersamaan.
"Elo dulu."
"Kamu dulu."
"Elo." Keyla mendengus kesal sikap Alvin.
"Minum." Alvin memberikan teh kotak yang sudah dipasangi sedotan ke Keyla.
Keyla langsung menyedot minumannya hingga habis.
"Kau haus sekali, mau lagi?"
Keyla menggeleng membuat Alvin yang menatapnya tersenyum gemas.
"Kau cantik sekali," pujinya.
Mendengarnya pipi Keyla langsung memerah."Bukannya kau bilang aku wanita jadi-jadian," protes Keyla dengan pujian Alvin.
"Kau sangat cantik." Alvin membelai rambut Keyla kebelakang menampakkan betapa sempurna kecantikan wanitanya itu."Jangan lagi membiarkan pria lain menatapmu seperti ini juga memegang tanganmu seperti ini." Alvin menatap penuh cinta ke Keyla lalu berpindah menatap tangan keduanya yang menggenggam erat. "Kau milikku!" tegasnya.Alvin kembali ******* bibir Keyla untuk ketiga kalinya membuat keduanya mengerti akan rasa saling memiliki dan memberi.
.
.
Keyla keluar dari mobilnya saat sudah berada di halaman rumahnya.Langkahnya mengayun dengan ceria ditambah senyumnya yang terus mekar.Keyla bahkan menyanyi lagu cinta bak seperti sedang konser saat menaiki tangga rumahnya.Aksinya itu berhasil membuat beberapa ART nya menahan tawa.
"Suara siapa itu, Mbak?" tanya Jeni keluar dari ruang kerjanya mendengar suara yang merusak gendang telinganya.
"Non Keyla, Nyonya." ART menunjuk Keyla yang sudah diujung tangga.Jeni pun menggeleng lalu menyusul putrinya itu yang masuk ke kamarnya.
"Hentikan suaramu itu, Key!"
"Kenapa Bunda, harusnya Bunda terhibur dengan suara sang diva Keyla." Keyla berteriak bangga saat menyebut namanya.Seketika Jeni membungkam mulut Keyla agar berhenti berbicara dan bahkan berteriak, lama-lama Ia akan tuli dibuatnya.
"Bunda!" Keyla mendengus kesal.
"Kau dari mana saja, Bunda pikir kau pergi dengan Alvin," protes Jeni.
"Key memang baru bersama Alvin."
"Kau jangan bohong, Alvin tadi pagi kesini mencarimu.Ingat Key kau ini calon istri CEO besar, jangan membuang kesempatan emas ini.Kau akan menyesal!" tegas Bundanya penuh ancaman.Jeni melangkah pergi setelah memperingatkan putrinya itu.