Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 12. Melepaskan Belenggu



"Alvin, apa ya kamu lakukan di sini?aku sedang bersama Key-"


Belum juga selesai bicara Alvin menunjukkan sesuatu di depan mobilnya, nampak kedua sahabatnya pergi.


"Apa yang kamu lakukan, kenapa mereka pergi?"


"Aku sudah mengurus mereka, tenang saja," jelas Alvin.


Pintu mobil Alvin di ketuk dari luar.Segera Alvin membuka pintu, seorang pria memberinya tas juga map yang tak lain milik Ziva.


"Aku harus pergi." Ziva hendak pergi namun Alvin menahan pergelangan tangannya.


"Alvin lepas!aku wanita bersuami!jika orang lain melihat kita, apa yang mereka pikirkan!" Ziva menghempas tangan Alvin namun dengan cepat Alvin kembali mencekal tangannya. "Ziva!" bentak Alvin.


"Kau sama sekali tidak mengerti perasaanku, aku berusaha untuk melupakanmu namun aku tidak bisa!" pekiknya.Mata Alvin terlihat berkaca-kaca, sungguh terlihat kepelikkan yang ada di hati pria itu. "Kalau aku bisa memutar waktu, aku ingin kembali di masa itu, aku akan membawamu kabur dari suamimu!" Alvin kembali memekik mengingat kebodohannya di masa lalu yang terus saja membelenggunya hingga kini.


Air mata pria itu menitik tak bisa menahan kesedihannya membuat Ziva mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Aku akan mengantarmu pulang." Ziva turun dari mobil dan berpindah ke kursi kemudi.


.


.


"Kau tinggal disini?" Ziva menyadari apartemen Alvin adalah apartemennya dulu.Tentu saja pria itu bebas memilih dimana pun ia ingin tinggal karena sebagian besar properti di kota itu miliknya.


Ziva bersiasat untuk mendengar keluh kesah pria itu dengan mengantarnya pulang.Ziva merasa kasian, pria itu masih saja terbelenggu masa lalu tentangnya.Kedatangannya ke Jakarta seorang diri menjadi momen penting, ia bisa membantu pria yang sampai saat ini terjebak dalam masa lalunya karena dirinya.Saat Ia di Bandung ia tak bisa melakukannya karena menjaga perasaan suaminya.Rasanya Ia harus bertindak karena turut andil dalam belenggu itu.


keduanya melangkah menuju apartemennya Alvin, benar saja dugaan Ziva pria itu tinggal tepat bekas apartemennya dulu.


"Kau tinggal disini?" tanyanya saat sudah duduk di sofa.


Masuk kembali ke apartemen ini, Ziva seperti mengingat masa lalunya bersama Arsha.Banyak sekali kenangan di tempat ini bersama pria yang kini berstatus suaminya itu.


"Kau bersamaku, kenapa malah memikirkan pria itu!" ketus Alvin seolah bisa membaca pikiran wanita di sampingnya itu.


"Aku hanya sesekali ke tempat ini, hanya saat merindukanmu." Menatap lekat wajah Ziva.


Tepat, sebagian barang Ziva memang ditinggalkan di apartemen ini hingga saat pria itu merindukannya bisa sedikit terobati pikir Ziva.


"Kau konyol sekali, dimana sang playboy itu?kau berubah menjadi pria seperti ini karena aku?" Ziva tersenyum menertawakan kebodohan Alvin namun pria itu hanya menanggapi tawaan Ziva dengan mata berkaca-kaca.Senyuman yang sebenarnya menertawakan penderitaannya beberapa tahun ini.Alvin menunduk karena hanya itu yang ia bisa lakukan.


"Maaf bukan maksudku menertawakanmu tapi Alvin kau harus meneruskan hidupmu.Diluar sana banyak wanita yang antri ingin memilikimu.Aku melepaskanmu dari belenggu masa lalu bersamaku agar kau bisa bahagia," ucapnya. "Jadilah pria jantan demi aku, kau pria yang kuat, hebat dan pantas dicintai wanita hebat, Ceo Alvin." Ziva seperti sedang mendoktrin pria itu.


Ziva membelai wajah pria itu lalu memeluknya sesaat.Wanita itu langsung beranjak pergi meninggalkan Alvin sementara Alvin tertegun dengan ucapan Ziva yang entah kata-kata itu begitu menyejukkan hatinya.


"Kau akan tetap di hatiku, wanita hebat." Alvin mencium parfum Ziva yang menempel di tangannya.


***


Sehari kemudian.


Keyla dan Kayla bergantian berpelukan dengan Ziva.Sore ini sahabatnya itu akan kembali ke Bandung karena urusannya di Jakarta telah selesai.


"Kau tidak bisa tinggal sehari dua hari lagi, Va," bujuk Keyla.


Ziva menggeleng lalu tersenyum kepada kedua sahabatnya itu namun kembali ia menyadari kemiripan keduanya.


"Kalian haus tes DNA, karena aku berpikir kalian adalah saudara kembar," cetus Ziva.


"Tidak mungkin!" pekik keduanya bersamaan dengan tangan melingkar di dada.


"Wah lihat kalian." Ziva kembali dibuat tercengang karena sifat keduanya sama persis dengan buah hatinya Axel dan Alexa hingga membuatnya kedua sahabatnya itu mungkin saja kembar.


Ziva langsung masuk ke dalam mobilnya kerena tidak ingin sampai di rumahnya terlewat malam.Kerinduannya pada twins begitu besar hingga ingin sampai dirumah secepatnya demi bertemu dengan dua malaikat kecilnya itu.


"Salam buat Kak Arsha sama twins, ya," ucap Keyla.


Ziva pun melambaikan tangannya sesaat mobilnya melaju pergi.Duo k itu akhirnya berpisah menuju tempat masing-masing.