Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 17. Tamu Tak Diundang



"Bagaimana sayang, apa kau menyukainya?" Jeni menghentikan Keyla yang saat itu sudah diujung anak tangga kediamannya.


Melihat Bundanya begitu antusias Keyla mendekat namun dengan ekspresi kesalnya.


"Kenapa Bunda harus memilih Alvin diantara puluhan pria di kota ini!" Keluhnya.Keyla bahkan terlihat berkaca-kaca dengan keputusan Bundanya itu yang sama sekali tidak ia setujui.


"Loh kenapa anak Bunda ini, bukannya kau menyukai pria tampan seperti Alvin?" Jeni merasa ada yang aneh dengan Keyla karena ia terlihat begitu sedih.Jeni langsung memeluk putrinya itu mencoba menenangkannya.


"Key nggak mau Bunda," ucapnya sambil sesegukan.


"Bunda tidak ingin memaksamu, jika memang kau tak menyukai pria itu paling tidak bertemanlah seperti kalian waktu kecil."


"Berteman seperti waktu kecil, apa maksud Bunda?" Keyla mengurai pelukannya, menatap Jeni penuh tanya.


"Kau melupakan Alvin, kalian berteman sejak kecil cuma kalian berpisah saat Alvin pindah rumah.Dulu rumah Alvin tepat di sebelah rumah kita."


Keyla ternganga dengan penjelasan Bundanya namun ia tak mengingat hal itu karena itu sudah cukup lama.


***


Beberapa hari kemudian.


Sepulang kerja, Keyla bergegas ingin pulang.Tiba-tiba ponselnya bergetar tanda telepon masuk.Dilihatnya layar ponselnya yang bertuliskan Prince Ice' membuat Keyla menaruh kembali ponselnya dengan kasar.


Beberapa kali Alvin terus menelepon membuatnya kesal dan akhirnya mengangkat panggilan telepon Alvin.


"Cepat keluar aku di depan kantormu!" teriak Alvin di telepon membuat telinga Keyla seketika mendenging sakit.


"Dasar!" maki Keyla menatap ponselnya kesal.


Keyla pun akhirnya turun, langkahnya mengayun menuju mobil Alvin.Ia segera masuk ke dalam mobil.Mobil pun melaju kencang.


"Loe masih belum berubah pikiran, semudah itu loe menerima perjodohan ini?" tanya Keyla dengan nada ketus.


Pria itu tak menjawab dan malah fokus mengendarai mobilnya.


"Woi, loe dengerin gue nggak sih?" tambah Keyla semakin kesal.


"Gue dengerin loe kok," singkat Alvin yang sebenarnya tidak menjawab dari inti pertanyaannya tentang perjodohan.


Keyla hanya bisa menghela napas dengan sikap pangeran es itu.


"Apa seperti ini sikapmu dengan seorang wanita.Bagaimana Ziva memilihmu sedangkan kau berbeda jauh dengan kak Arsha yang lebih romantis dan lebih segala-galanya!" ketus Keyla semakin menjadi-jadi.


Seketika Alvin menatap tajam ke arah Keyla.Mulut Keyla terlewat lancang untuk membandingkan dirinya dengan suami Ziva.Alvin langsung membanting setir ke kiri membuat mobil berhenti mendadak.Alvin keluar dari mobil dan langsung menarik tubuh Keyla turun dari mobilnya dengan aura dingin tanpa penjelasan.Setelah menurunkannya , Alvin kembali dan langsung memacu mobilnya meninggalkan Keyla begitu saja.


Keyla berdecak kesal lagi-lagi pria bernama Alvin itu bersikap sesuka hatinya dengan menurunkannya di jalanan tanpa tas-nya.Mau tidak mau Keyla terus berjalan karena tidak bisa berbuat apa-apa tanpa ponselnya.Saat itu waktu menunjukkan pukul 7 malam, Keyla terus melangkah karena jalanan itu memang cukup sepi hingga tidak ada taxi atau angkutan umum yang lewat.


Saat ia melangkah terdengar derap langkah semakin mendekat membuat Keyla ketakutan karena bisa saja itu orang jahat yang ingin menyakitinya.Keyla terus berlari membuatnya tidak memperhatikan jalan .


Bruggghh


Gadis itu terjatuh di jalanan yang berlubang membuat kakinya mungkin terkilir karena tidak bisa digerakkan.Pria dengan pakaian serba hitam itu semakin mendekat membuat Keyla berteriak.


"Tolong jangan apa-apain saya, saya nggak bawa apa-apa." Keyla memohon sambil menundukkan kepalanya.


"Jangan takut, aku bukan orang jahat.aku akan membantumu." pria yang tidak begitu jelas wajahnya itu terdengar sopan dengan ucapannya.Perlahan pria itu membantunya dengan menarik kalinya dan memijatnya ringan.


"Bagaimana?" tanyanya setelah selesai memijat kakinya.


"Kenapa malam-malam begini jalan disini sendirian, tempat ini tidak aman," jelas pria itu.


"Tadi saya bersama teman namun karena marah ia meninggalkan saya begitu saja," terang Keyla.


"Sebaiknya kau ke rumah om dulu, besok kau bisa pergi.Om tidak akan berbuat jahat."


Pria itu menuntut Keyla hingga sampai di sebuah rumah yang cukup sederhana namun bagi Keyla rumah itu sangat tidak layak.


Tok ... tok.


Beberapa detik kemudian pintu terbuka.Keyla ternganga mendapati seorang wanita yang membuka pintu itu adalah Kayla.Begitu juga Arman yang tidak menyadari siapa gadis yang dibawanya pulang itu.


"Kaukah itu, Nak?" gumam Arman yang hampir baja kelepasan bicara.Arman menatap wajah gadis yang begitu dekat dengannya itu.


"Loe!" pekik Keyla.


Saat itu Kayla menatap tajam Ayahnya. " Kenapa Ayah membawa pulang wanita ular ini!" ketus Kayla.


"Kalian sudah saling kenal?" Arman menatap Kayla dan Keyla bergantian.Arman tidak mengira keduanya sudah bertemu lebih dulu namun bukan itu yang membuat aneh tapi kata-kata Kayla yang menyebut gadis yang ditolong ular.


Arman langsung membantu Keyla masuk kemudian duduk.Ketiganya kini sudah duduk bersama dan saling menatap.


"Gadis ini-"


"Keyla, Om," potong Keyla menyela ucapan Arman.


"Keyla, dia terluka dan sudah malam makannya ayah membawanya pulang.Kasian dia dijalan depan sana, sepi sekali," jelas Arman.


"Ayah bisa menyuruhnya pulang kenapa malah membawa pulang!" pekik Kayla sinis.


Arman benar-benar tidak menyangka keduanya bersikap seperti itu padahal mereka kembar, apakah mereka tidak menyadari hal itu, pikir Arman.


.


.


Kayla akhirnya mengalah dan menerima keberadaan Keyla karena ia tahu kesulitan yang dialami Keyla.Kini keduanya tertidur di ranjang yang sama.


"Terima kasih untuk makanannya tadi Kayla walaupun sederhana tapi nikmat sekali," puji Keyla.


"Alah ngomong aja makanan gue nggak selevel sama daging steak dirumah loe!" gumam Kayla.


"Kayla loe udah tidur?"


"Hm." Keyla menjawab dengan dehaman.


"Gue nggak nyangka gue akan tidur dirumah loe dan sekamar seperti ini," ungkap Keyla.


"Gue nggak nyangka hidup loe seperti ini dan loe tetep sabar dengan semua keterbatasan loe."


Keyla benar-benar dibuat kagum dengan Kayla karena selain mandiri dia juga pinter memasak bahkan Kayla dan ayahnya memasak sendiri makanan yang ia makan tadi dibantu ayahnya.Kedekatan ayah dan anak itu membuat Keyla iri.Walaupun hidup miskin mereka begitu bahagia sedangkan dia dan keluarganya hanya mendewakan kekayaan saja.


"Kay."


Keyla menggoyang tubuh Kayla namun Kayla tidak menjawab membuat Keyla kemudian memejamkan mata.Saat itu Kayla memunggungi Keyla dan pura-pura tertidur walaupun sebenarnya ia mendengarkan semua yang diucapkan wanita yang berbaring disebelahnya itu.


"Loe lebih beruntung karena loe terlahir kaya.Loe tidak pernah berpikir, bagaimana besok bisa makan atau tidak karena yang ada loe hidup lebih," gumam Kayla menjawab pertanyaan Keyla.