
HAPPY READING 😊
...----------------...
Hari ini Alvin dan Keyla akan melakukan fitting baju pengantin untuk pertama kalinya. Pernikahan dua pewaris dari keluarga konglomerat itu akan menjadi pernikahan mewah di tahun ini hingga tidak boleh ada yang kurang dari semua acara besar itu.
Alvin dan Keyla sedang dalam perjalanan menuju butik. Sepanjang perjalanan Keyla nampak termenung. Gadis ceria dan cerewet itu seketika berubah menjadi gadis pendiam dan murung.
"Apa sebaiknya kita tunda pernikahan kita, aku tidak mau pernikahan ini menjadi beban untukmu?" Alvin mengutarakan kerisauannya.
"Apa maksudmu, keluarga kita begitu bahagia dan jika itu terjadi Kakek bisa memecat ku sebagai cucu."
Alvin yang tadinya begitu serius tiba-tiba terkekeh dengan kalimat terakhir Keyla.
"Aku serius kau malah tertawa!" Keyla melipat tangannya di dada lalu mengalihkan pandangannya ke jendela.
"Maaf bukan aku menertawakan mu tapi bagaimana bisa Kakekmu bisa memecat mu sebagai cucu?" Alvin menatap Keyla sekilas dengan kening berkerut.
"Kau tahu Kakek mempercepat pernikahan kita untuk menyelamatkan perusahaan!" seru Keyla dengan nada kesal.
"Ups." Lagi-lagi mulut bar-bar nya tidak bisa memfilter ucapannya.
"Sudah kuduga, Hendra Brawijaya kena kau!" cerca Alvin dalam hati.
"Bukan begitu maksud ku Alvin, hanya mereka ingin segera punya cucu dari kita. Benar begitu kan, sama seperti orang tuamu," ralat Keyla dengan ucapannya yang sebelumnya.
"Iya aku tahu itu. Bukan hanya mereka, aku juga ingin cepat olahraga malam denganmu." Alvin ikut membenarkan.
Tidak seperti pembicaraan beberapa waktu yang membahas tentang olahraga malam yang Keyla tidak mengerti namun saat ini Ia sudah tahu karena sudah menanyakan langsung pada pencetus kata-kata itu Medina.
"Kau membuatku malu!" Keyla menatap jengah Alvin dengan ucapannya tentang olahraga malam.
"Kenapa malu kan hanya olahraga." Alvin sengaja menggoda Keyla. Saat ini Ia yang pura-pura polos.
"Alvin hentikan!" Keyla benar-benar tidak tahan Alvin menatapnya penuh arti membuat Keyla merasa canggung.
Tidak terasa perjalanan itu telah sampai dengan mobil Alvin yang berhenti tepat di depan Butik terbaik di kota itu.
Keduanya melangkah masuk yang langsung disambut pemilik Butik. Keduanya dibawa ke ruangan yang berbeda untuk mencoba beberapa pakaian.
"Apa tidak ada yang lebih tertutup dari ini, Bu?" Keyla merasa tidak nyaman dengan gaun yang sudah melekat di tubuhnya yang memperlihatkan bagian atas dada juga punggungnya.
"Ini cantik Nona sesuai dengan Anda. Bagaimana kalau kita tanya dulu dengan calon suami anda?" tawar pemilik butik itu.
Pemilik Butik itu mengajak Keyla keluar karena saat itu Alvin sudah menunggunya. Alvin sendiri hanya butuh waktu lima menit untuk memakai baju pengantinnya sementara Keyla sudah dua puluh menit membuat Alvin terus saja menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Bagaimana Tuan?"
Suara wanita langsung mengalihkan Alvin dari gawai di tangannya.
Mata Alvin terbelalak dengan bidadari yang kini berdiri di depannya. Keyla wanita yang sehari-hari berpenampilan tomboi itu terlihat sangat cantik dan memukau dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya.
"Kau benar Keyla?" tanya Alvin setengah tidak percaya dengan mata yang tidak berkedip seja tadi.
"Apa maksud Anda Tuan, ini benar Nona Keyla calon istri Anda," seru pemilik butik itu.
Keyla yang sejak tadi gugup karena bajunya yang menurutnya sedikit terbuka. Ia menyilangkan tangannya di bahu karena malu bagian atas dadanya terekspos dengan jelas.
"Singkirkan tanganmu!" perintah Alvin.
"Tidak apa-apa Nona, nanti juga Tuan ini melihat semua tidak hanya dada anda." Pemilik Butik berusaha menyingkirkan tangan Keyla namun Keyla tetap kekeh dengan keinginannya.
"Jika kau tidak menyingkirkannya, aku akan membuka seluruhnya!" ancam Alvin dengan seringainya.
Seketika sikap arogan Alvin membuat pemilik butik dan pegawainya itu menahan tawa.
"Ba- baik lah tapi aku tidak suka dengan gaun ini, bolehkah aku ganti yang lain?" tawar Keyla.
Saat itu tidak ada jawaban hanya tatapan yang semakin menghujam dari Alvin ke arah Keyla. Pria itu kembali menggertak dengan bangkit dari duduknya.
"Tidak, jangan. Duduklah." Keyla menurunkan tangannya hingga pemandangan yang sejak tadi berusaha di tutupinya terekspos dengan jelas.
Alvin yang berdiri terpaku di tempatnya perlahan mendekat sejajar dengan keyla.
"Benar-benar pasangan yang serasi cantik dan tampan," puji pemilik butik itu.
Alvin mengelus wajah Keyla mengagumi kecantikan calon istrinya itu. Semakin lama semakin dekat hingga nafas keduanya saling beradu membuat Alvin ingin melancarkan aksinya ******* bibir Keyla. Keyla langsung menahan tubuh Alvin hingga ciuman itu tidak terjadi.
"Malu." Keyla menekuk wajahnya dengan perbuatan yang baru saja ingin Alvin lakukan padahal saat itu pemilik butik dan seorang pegawai masih disana.
"Silahkan Nona, kami akan keluar." Melihat tatapan Alvin tertuju padanya, pemilik butik menarik tangan pegawainya untuk keluar.
"Tidak. Tidak jangan pergi Bu, saya sudah selesai." Keyla menahan pemilik Butik yang baru melangkah beberapa langkah.
"Ya kan Alvin?" Keyla mengedip sebelah matanya pada Alvin sebagai kode mengiyakan ucapannya.
Alvin terdiam sesaat. Sebenarnya Ia ingin melanjutkan ciuman yang tadi belum sempat terjadi. Beberapa minggu Ia tidak mendapatkannya namun sepertinya Ia harus menahannya beberapa hari lagi untuk hal yang lebih besar yang dapat dilakukannya dengan bebas.
"Kami akan segera pergi. Baju pengantinnya deal yang ini." Alvin menatap bajunya sekilas lalu ke gaun yang dipakai Keyla.
"Tapi Alvin?"
"Aku menyukainya!" tegas Alvin tidak ingin ditolak.
"Baiklah." Pasrah Keyla.
Keduanya kembali masuk ke ruang ganti untuk mengganti baju. Setelah selesai mereka beranjak pergi namun sesaat Keyla berhenti melihat gaun berwarna lilac yang dipakai manekin.
"Kau mau gaun itu juga?" tawar Alvin saat Keyla meraba gaun itu.
"Untuk Kayla, aku mau ini sekalian setelan jas untuk Ayahku tapi ...." Keyla tidak meneruskan ucapannya karena ragu dengan keinginannya. Mustahil Ayah dan saudara kembarnya itu bisa datang.
.
.
Alvin dan Keyla dalam perjalanan ke kantor setelah fitting selesai. Di bangku mobil bagian belakang berjejer dua paper bag yang akan diberikannya pada Arman juga Kayla.
"Kau tidak perlu repot-repot membelikannya untukku tadi. Aku tidak yakin Ayah juga Kayla bisa datang." pesimis Keyla.
"Kau harus yakin jika kedua orang penting dalam hidupmu itu bisa datang di acara paling membahagiakan dalam hidupmu, kau tidak boleh pesimis apalagi pasrah begitu saja. Aku sudah berjanji kan akan mengabulkannya," jelas Alvin penuh keyakinan.
Melihat keyakinan dari diri Alvin Ia terus berharap semua yang dikatakan Alvin akan menjadi kenyataan. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Keyla di hari pernikahannya keluarganya bersatu Ayah, Bundanya juga Kayla saudara kembarnya. Tapi ada satu hal yang juga terus mengganjal di hati Keyla. Ia ingin menanyakan secara langsung pada Kayla tentang pernikahannya karena bagaimanapun Kayla masih menyimpan hati pada Alvin.
Pernikahannya juga menunjukkan dirinya yang begitu egois karena tidak memikirkan hati Kayla yang merupakan saudara kembarnya.