
Sekitar pukul enam pagi Keyla bersiap-siap pergi ke Bandara bersama Antoni.Penerbangannya sekitar pukul 7.30 mengharuskannya segera berangkat.Keyla begitu tidak bersemangat karena selain Ia tidak ingin pergi juga ia masih ngantuk.Bundanya membangunkannya dengan paksa.
"Hoam ...." Keyla terus menguap selama di perjalanan menuju Bandara.
"Pak An, bisakah kau pergi sendiri tapi bilang sama Bunda perginya sama aku." Racau Keyla dengan mata terpejam namun masih dalam kondisi sadar.
"Jangan macam-macam Non, bisa-bisa kita berdua di gantung di Monas!" tegas Alvin tidak menyetujui permintaan nonanya itu.
"Nona lupa siapa, nyonya Jenita!" Antoni kembali menegaskan siapa wanita yang dianggap nonanya remeh itu.
Pernah suatu ketika saat di Amerika, beberapa minggu tidak pergi kuliah namun entah dari mana bundanya itu mengetahui perbuatannya.Dari hal kecil hingga hal besar mengenai dirinya semua diketahui Bundanya.Akhirnya mau tidak mau Ia harus menuruti semua perkataan bundanya daripada namanya di coret dari daftar calon pewaris Brawijaya Grup.
Sementara di tempat lain Alvin keluar dari mobilnya saat sudah berada di halaman rumah Keyla.Alvin merasa bersalah karena sikapnya kemarin yang keterlaluan, apalagi kemarin Keyla datang ke kantornya membawakan makan siang untuknya.Alvin baru mengetahuinya saat Keyla sudah meninggalkan kantornya.
Alvin melangkah menuju daun pintu namun saat hendak mengetuk pintu tiba-tiba pintu dibuka dari dalam.Seorang wanita paruh baya kini berdiri di depannya.
"Pagi Tante, apa Keyla ada?" tanya Alvin sopan.
"Keyla sudah pergi."
Alvin merasa aneh dengan jawaban bunda Keyla kerena jelas mobil Keyla masih terparkir di garasi. "Itu mobilnya masih." Alvin menunjuk mobil Keyla.
"Apa Keyla tidak memberitahumu?"
"Beritahu apa Tante?" Alvin mengerutkan keningnya dengan pertanyaan sekaligus pernyataan dari Jeni.
"Keyla ke Surabaya untuk urusan pekerjaan." Jeni menatap jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan pagi.
"Mungkin sudah landing, penerbangannya jam 7.30," jelas Jeni.
"Oh, ya sudah Tante, Alvin pamit." Alvin berlalu pergi dengan mobilnya.
Saat di perjalanan Alvin terus terpikirkan oleh Keyla karena pergi tanpa memberitahunya.
"Apa dia benar-benar marah?" gumamnya. "Sial, kenapa aku terus memikirkan dia." Alvin kembali bergumam.Ia merasa kesal dengan pikirannya sendiri.
***
Beberapa hari tanpa Keyla membuat hari-hari Alvin terasa sepi apalagi Keyla sama sekali tidak meneleponnya.Biasanya ia sangat bersemangat karena ada Keyla yang selalu berdebat dengannya namun semua terasa aneh saat wanita itu tidak di dekatnya.
"Apa aku meneleponnya saja," gumam Alvin
Saat itu Ia hendak menelepon Keyla.Tiba-tiba Ia menaruh ponselnya kembali. "Jangan, wanita jadi-jadian itu pasti besar kepala nanti," gumamnya lagi.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Masuk."
Saat itu Kayla memasuki ruangannya.
"Alvin, semua anggota dewan direksi sudah berada di ruang rapat." Ingat Kayla pada CEO perusahaan itu
"Aku segera kesana, Keyla," jawab Alvin membawa serta laptop di tangannya.
"Keyla, aku Kayla," pekik Kayla.Ia tampak kesal pada Alvin karena saat bekerja pun Ia masih mengingat wanita itu walaupun itu haknya sebagai pemimpin perusahaan namun menyebut namanya dengan nama orang lain membuatnya kesal.
"Maaf, maksudku Kayla nama kalian hampir sama." Alvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Ia pun melangkah pergi dengan Kayla yang mengekor di belakangnya.
***
Seminggu sudah Keyla di Surabaya.Selama itu Alvin uring-uringan karena seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya tapi Ia tidak tahu apa tapi yang jelas Ia merasa kesepian tanpa Keyla.
Drt ... drt ... drt
Ponsel Alvin bergetar di meja membuat fokusnya langsung tertuju pada ponselnya.Saat itu Jeni yang meneleponnya, memintanya untuk menjemput Keyla di Bandara.
"Aku akan pergi, batalkan seluruh jadwalku hari ini!" tegasnya melangkah pergi.
"Tapi, Al."
Saat itu Alvin tidak mendengarnya dan berlalu pergi.
"Tante Jeni." Kayla yang sempat mendengar Alvin menyebut nama itu, membuatnya berpikir siapa wanita itu hingga pria itu bergegas pergi dengan membatalkan acara penting hari ini.
.
.
Alvin menunggu Keyla keluar dari pintu kedatangan namun wanita itu tidak terlihat padahal saat itu pintu sudah sepi. "Dimana wanita jadi-jadian itu!" umpat Alvin.Ia hendak ingin pergi namun tiba-tiba dua orang keluar dari pintu kedatangan itu.
"Kau ini membuatku kesal, seharusnya kau periksa dulu sebelum mengambil koper milik orang lain!" bentak Keyla.
"Maaf, Nona." Antoni terus menunduk minta maaf karena ulahnya membuat nona nya itu malu.
Alvin yang memperhatikan keributan keduanya langsung tersenyum lebar.Bagaimana tidak, dimana pun ada Keyla disitu pula ada keributan.
Keyla yang menyadari Alvin berdiri menatapnya pura-pura tidak melihat padahal saat itu Ia tahu betul Keyla menatapnya tadi.
"Woi wanita jadi-jadian!" pekiknya mengambil alih koper yang ditarik Antoni.
"Wanita jadi-jadian!" Keyla menatap tajam pria yang menyebutnya wanita jadi-jadian.
"Pak sebaiknya anda pulang dulu, Keyla biar aku yang antar!" perintah Alvin.
"Baik Tuan." Antoni berlalu pergi dengan kopernya berwarna biru sementara milik Keyla berwarna hitam berada di tangan Alvin.Tebakan Alvin benar tentang koper Keyla alih-alih kopernya berwarna biru, milik wanita itu malah berwarna hitam.Keunikan itulah yang membuatnya menyembur wanita jadi-jadian.Saat wanita asli menyukai warna-warna cerah namun tidak dengan Keyla, wanita itu lebih suka warna gelap.Baju juga tasnya pun lebih dominan berwarna gelap dari hitam,coklat dan abu-abu.
"Ayo, gue antar loe balik." Alvin menarik tangan Keyla namun saat itu Ia masih menatap tajam pria itu.Sontak aksi ngambeknya itu membuat Alvin semakin gemas.
Alvin langsung memeluk tubuh Keyla namun baru sedetik Keyla langsung mendorongnya.
"Jangan kurang ajar loe!" bentaknya mengalihkan pandangannya.
Namun bukannya di respon dengan ucapan pria itu malah tersenyum senang menatapnya. "Gue benar-benar rindu wanita ini, kau memang sudah gila Alvin," gumam Alvin.
Keyla semakin kesal karena bukannya direspon pria itu malah mematung menatapnya.Ia pun berlalu pergi meninggalkan Alvin.
"Tunggu Key, maaf." Alvin mempercepat langkahnya demi menyamai langkahnya dengan Keyla.Namun Keyla sedikit tertegun karena baru saja pria itu memanggilnya dengan nama juga kata maaf.
"Elo bilang apa tadi?"
"Bilang apa, wanita jadi-jadian?" sahut Alvin.
Keyla kembali melanjutkan langkahnya karena mungkin hanya angan-angannya saja Alvin memanggilnya dengan nama.
.
.
Keyla langsung menyeret kopernya saat sudah turun dari mobil Alvin.
" Elo tidak menawariku mampir," pekik Alvin yang sudah beberapa langkah jaraknya dari Keyla.
"Balik sana loe!" sahut Keyla ketus.
Alvin pun hanya menggeleng tidak mengerti dengan sikap keduanya yang selalu ribut saat bersama namun ketika berjauhan Ia begitu merindukannya.