Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 41. Dunia Memang Aneh



Alvin merasa aneh karena selama perjalanan itu Keyla tidak berbicara sama sekali.Ia malah terus menatap kaca jendela mobilnya


"Apa kau tidak ingin pergi?" Alvin menghentikan mobilnya, menggenggam tangan wanitanya lalu mengecupnya.


"Gue hanya ...."Keyla tidak mungkin mengatakan semuanya yang dibutuhkannya hanya waktu untuk menyelesaikan masalah keluarganya yang seperti kepingan puzzle yang harus segera disatukannya.


"Alvin, apa benar orang tuamu menginginkan kita segera menikah?" Keyla mendengar langsung dari Bundanya tadi saat mendandaninya namun Ia ingin memastikan kebenarannya dengan bertanya langsung pada pria itu.


Alvin mengangguk dengan pertanyaan Keyla.


"Apakah kita bisa menunda, setahun mungkin?"


Alvin menggeleng karena seperti halnya Keyla hidupnya juga diatur.Berbeda dengan Keyla, Ia masih bisa merubah keputusan orang tuanya karena hak penuh siapa istrinya, orang tuanya menyerahkan padanya.Dalam hati Alvin, Ia sudah tidak sabar memperistri gadis menggemaskan ini yang selalu menganggu fokusnya bekerja karena terus memikirkannya.


"Tenanglah." Alvin mengusap lembut wajah Keyla lalu kembali fokus ke mobilnya yang kembali melaju.


Tiga puluh lima menit akhirnya mereka sampai di sebuah mansion mewah milik keluarga Alvin.Kedatangannya disambut Soraya dan Kanaya yang menunggu di teras mansion itu.


"Ayo." Alvin membuka pintu mobilnya mempersilahkan tuan putri Keyla turun dari kuda besi itu.Tangannya bersiaga menyambut sang putri keluar.Pasangan itu akhirnya melangkah bergandengan tangan masuk ke mansion itu.


Senyum Soraya penuh puja menatap pasangan itu.Keyla langsung menyalami calon mertuanya namun tiba-tiba Soraya mendekap tubuh calon menantunya yang akan secepatnya memberinya cucu.


"Kau cantik sekali, Nak," puji Soraya.


"Terima kasih Tante," Keyla mengurai pelukan Soraya.Keyla pun berpindah menyalami Kanaya namun keduanya tampak acuh.Keyla sendiri masih mengingat siapa wanita itu sedangkan Kanaya tidak terlalu menyukai Keyla karena kecantikannya dibawah Ziva.


"Gadis ini yang akan mendampingi Adikku, dia hanya terlihat manis nggak ada cantik-cantiknya," gumam Kanaya.


"Perempuan pelakor ini akan jadi Kakak iparku, omg," gumam Keyla.


Keyla sampai mengingat saat dulu Ia mengumpat habis wanita di depannya itu dan kini malah akan menjadi Kakak iparnya.


"Dunia memang aneh," gumam Keyla lagi.


Soraya menarik Keyla masuk sementara Alvin ditahan Kanaya.


"Kenapa kau memilih gadis seperti itu!" protes Kanaya.


"Memangnya kenapa Kak, Keyla baik dan manis!"


"Lihat saja dia sangat menyebalkan." Kanaya langsung ilfill karena tatapan ketus yang ditampilkan Keyla saat menatapnya tadi.


"Kakak ini belum kenal, jika Kakak mengenalnya Kakak pasti akan tergila-gila padanya!" tegas Alvin.Ia melangkah masuk mengikuti Keyla yang sudah duduk di sofa berbincang dengan Papa dan Mamanya.


"Ck, tidak bisa dibiarkan.Alvin tidak boleh sampai menikah dengan gadis itu," gumam Kanaya.


Terlihat mereka berbincang-bincang, Kanaya mendekat ke Soraya sementara Alvin terus saja memperhatikan Keyla yang saat itu terus tersenyum berbincang dengan Mama dan Papanya tentang perusahaan Keyla.


"Kau harus segera menikah dengan Alvin supaya kau diajari menjadi CEO hebat seperti dia." Handoyo melirik ke arah Alvin.


Ehem


Soraya berdeham karena sejak tadi putranya itu menatap Keyla tanpa berkedip.


"Iya kami harus cepat menikah." Alvin menyahut ucapan Papa nya.


Mendengar Alvin yang bukannya mengelak dari ucapannya Papanya, Ia malah mengamini membuat Keyla mendengus kesal ke arahnya.


"Dasar elo, berani lagi elo mengatakan iya-iya gue kirim ke kutub utara biar hidup sama beruang kutub," gumam Keyla.


Alvin hanya tersenyum mendapat dengusan kesal dari Keyla.


"Akan aku bawa kau kemana pun aku pergi walaupun ke Kutub Utara atau Antartika sekali pun," gumam Alvin.


"Bagaimana kalau bulan depan, mumpung Kanaya masih disini," tawar Soraya.


"Jangan Tante, Keyla masih fokus belajar di kantor takutnya Keyla nggak fokus,"potong Keyla cepat saat Alvin ingin menjawab tawaran Mamanya.


"Betul Ma, terlalu cepat.Lagian Alvin belum kenal betul ...." Kanaya menunjuk Keyla.


"Kanaya, Kak," sahut Keyla.


"Iya Keyla.Biarkan mereka saling mengenal lagian masih sama-sama muda," imbuh Kanaya.


Handoyo pun ikut mengangguk dengan ucapan Kanaya.


"Bagaimana kamu, Al?" Soraya melirik kearah Alvin yang berada disampingnya.


Namun sebelum Alvin menjawab, Keyla lebih dulu menatap tajam ke arahnya.


"Iya Ma, tunggu beberapa bulan lagi.Alvin janji nggak sampai tahun depan."


"Kau ini bagaimana bukannya ini akhir tahun, nggak nyampe tahun depan, jadi kamu maunya besok." Soraya tepuk jidat dengan ucapan putranya itu.


"Maksudnya nggak nyampe tahun depannya lagi, Ma," sahut Alvin cepat.


Keyla menatap kehangatan keluarga itu.Beruntung sekali Alvin memiliki keluarga yang utuh ada Mama, Papa, Kakak juga Kakak iparnya dan yang terpenting Alvin punya kendali atas hidupnya sendiri.Berbeda sekali dengan dirinya yang hanya memiliki Bunda dan Kakek.Keduanya selalu memaksakan kehendaknya tanpa bertanya Ia setuju atau tidak yang ada dalam pikiran mereka hanya tentang kekayaan semata.


Orang tua Alvin pun akhirnya menyetujui permintaan Keyla juga Alvin untuk menunggu beberapa bulan lagi dengan alasan mereka akan lebih mengenal dulu satu sama lain.


Di tempat lain.


Kayla dan Ayahnya duduk di samping pusara yang di nisan itu bertuliskan Dewi Kirana.Arman dan Kayla menaburkan bunga setelah mencabuti rumput-rumput yang tumbuh memenuhi pusara itu.Sebelumnya mereka sudah ke makam ayah Arman lalu setelah itu ke makam itu.


"Wi, aku datang.Terima kasih karena sudah menjadi Ibu susu Kayla, putrimu sudah tumbuh dewasa.Kau lihat dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik sama sepertimu," gumam Arman menatap lekat nisan itu lalu berpindah sekilas ke wajah Kayla.


"Ayah seperti apa Bunda?" Kayla menatap Ayahnya. "Makam ini benarkah makam Bunda?" tanyanya lagi.


Deg


Arman tidak mengira pertanyaan itu akan keluar dari mulut Kayla.


"Apa maksudmu, jelas ini makam Bundamu," kilah Arman.


Lalu kenapa Ayah tidak memiliki foto Bunda sama sekali, apa Ayah tidak bisa menunjukkannya padaku?"


Arman telah membakar semua tentang Bunda Kayla karena Ia tidak ingin mengingat masa lalunya walaupun sebenarnya melihat Kayla sama saja melihat Bunda Kayla.


"Sebenarnya apa yang kau ketahui?" telisik Arman.


"Tidak Ayah, Kay hanya ...."


"Ayo pergi ke tempat Bude mu," potong Arman menarik tangan Kayla.


Keduanya melangkah pergi menuju tempat Kakak Arman yang tidak jauh dari pemakaman itu, sekitar dua ratus meter.


Sambut Ayra antusias saat adik juga keponakannya berada di depan rumahnya.Ayra menarik tangan keduanya masuk.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Ayra setelah Arman dan Kayla duduk.


"Kami baik, Mbak.Dimana, Mas Firman?" Arman mencari keberadaan Kakak iparnya yang tidak terlihat.


"Oh Kakak iparmu baru saja pergi, katanya ada urusan penting."


"Kalian pasti dari makam ya, tak bikinin minum dulu," timpal Ayra melangkah menuju dapur.Kayla mengekor di belakang Budenya.


Ayra adalah Kakak kandung Arman satu-satunya.Ia memiliki dua orang putra Kendra dan Ilham.Kendra sudah menikah dan hidup terpisah dari orang tuanya.Si bungsu Ilham sebentar lagi akan menikah.


Kayla membatu Ayra membuat minuman sambil berbincang-bincang.