
Happy Reading 😊
"Tunggu!" Alvin menahan pergelangan tangan Keyla.
"Ada apa lagi, bukannya kau ingin?" Keyla berdecak tidak mengerti.
"Aku bahkan belum mengatakan apapun tapi dia sudah tahu yang aku inginkan," gumam Alvin. Alvin menatap Keyla yang tersenyum padanya seakan menggambarkan tahu betul apa yang sedang dipikirkannya.
"Ya aku memang tahu, bukan hanya kamu tapi aku pun bisa." Keyla tersenyum bangga dengan ucapannya. Ya seperti Alvin, Ia pun hanya mengira-ngira dan jelas dari senyum menyeringainya tadi Keyla tahu keinginan suaminya.
"Terserah, bagus jika kita berdua saling bisa membaca pikiran masing-masing berarti tidak akan ada rahasia diantara kita." Alvin melingkarkan tangannya ke pinggang Keyla membuat keintiman keduanya semakin tidak berjarak.
"Kau cantik sekali, sejak kapan kau berubah menjadi wanita tulen seperti ini?" lirih Alvin menatap lekat wajah Keyla. Sebuah jepit rambut menghias rambutnya serta pakaiannya yang feminim semakin memperjelas penampilan Keyla yang begitu girly.
"Aku hanya memakai baju juga jepit yang dihadiahkan Kayla sebelum berangkat," jelas Keyla.
Flash Back On.
"Kak buruan nanti terlambat," pekik Keyla. Saat itu kedua orang tua juga Keyla sudah menunggunya di bawah. "Iya sebentar lagi." Kayla keluar dari kamarnya namun Ia malah masuk ke kamar Keyla. Diletakkannya kotak hadiah di meja rias Keyla.
"Kakak berharap kau akan memperjuangkan kebahagiaanmu hanya itu yang Kakak inginkan. Berjalanlah menuju orang yang paling mencintaimu dengan gaun ini. Ungkapan semua yang kau rasakan karena dengan begitu cinta kalian akan semakin kuat," gumam Kayla mengelus kotak itu.
Flash Back Off.
"Jadi ini inisiatif Kayla?" Alvin mengerutkan keningnya dengan pertanyaannya.
"Sudah lama aku ingin berubah hanya saja karena sibuk aku belum sempat dan aku sebenarnya merasa aneh seperti bukan diriku. Tapi entah mengapa hari ini aku sangat ingin memakai gaun ini." Kalimat terakhir Keyla ucapkan dalam hati.
"Kau cantik dan aku suka." Alvin mendekatkan wajahnya semakin dekat hingga.
Ting tong. Ting tong.
"Sial," umpat Kevin. Baru saja Ia ingin menikmati kelembutan bibir Keyla namun bel pintu mengganggunya.
"Aku buka itu pasti kurir." Keyla melepas tangan Alvin hendak membuka pintu.
.
.
"Jangan harap kau bisa lolos lagi!" tegas Alvin.
"Hei aku hanya ingin mencuci tangan kenapa posesif sekali." Keyla menepis tangan Alvin yang menghalanginya.
"Aku ikut!"
"Apa! Kau!" kesal Keyla. Ia hanya bisa menghela nafas dengan sikap posesif Alvin.
Setelah mencuci tangan Alvin tidak menyia-nyiakan kesempatan segera Ia mengangkat tubuh Keyla naik ke bahunya.
"Turunkan aku!" Keyla meronta.
"Jangan harap!"
.Skip
.Skip
Keyla hendak beranjak dari ranjang namun lagi-lagi tangannya ditahan.
"Alvin lepaskan aku, kau sudah melakukan berapa kali tadi." Keyla berucap dengan wajah memelas. Berkali-kali Alvin tidak melepaskannya, dan saat ingin ke kamar mandi pun tidak diperbolehkan.
"Kau harus mengganti waktu sebulan kemarin yang kita lalui tanpa melakukan hubungan suami istri!" tegas Alvin dengan senyum menyeringai.
"Dasar cabul!" Keyla mendorong tubuh Alvin lalu beranjak ke kamar mandi karena Ia sudah tidak tahan untuk buang air kecil
Setelah beberapa saat Keyla kembali ke ranjang. Tubuhnya tiba-tiba di dekap dengan erat oleh Alvin seakan tidak ingin dipisahkan lagi.
"Maafkan aku karena kurang memahamimu," bisik Alvin.
"Aku yang seharusnya minta maaf kerena aku salah paham hingga mengabaikan perasaanmu. Terima kasih kerena kau tidak terbawa emosi dan menceraikan aku waktu itu," balas Keyla. Ia membalikkan tubuhnya menatap wajah lekat suaminya. Keduanya berpelukan.
"Jangan lagi katakan kata pisah karena selamanya aku ingin bersamamu, jadilah ibu dari anak-anakku dan menua bersamaku. Keyla aku mencintaimu. Hadirmu bagaikan air yang melegakan dahagaku, menerangkan kegelapan hidupku dan mewarnai kehidupanku yang suram." Alvin mengurai pelukannya lalu kembali menatap lekat wajah Keyla.
"Aku juga mencintaimu Alvin, sangat mencintaimu."
Keduanya tersenyum lalu kembali berpelukan.