
Alvin menyetir mobilnya sendiri menjemput Kakak dan kakak iparnya setelah setahun tinggal di negeri Paman Sam itu.
Mobil Alvin masuk ke halaman mansion mewah milik orang tuanya.Ketiganya melangkah masuk sementara barang-barang Kanaya dan suaminya di bawa masuk beberapa pelayan yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Papa, Mama." Kanaya memeluk orang tuanya bergantian yang sudah berdiri menyambut kedatangannya.
"Bagaimana kabarmu, Nay?" Mama Soraya mengelus wajah putrinya yang dirindukannya selama setahun terakhir.
"Nay baik-baik saja, Ma." Kanaya tersenyum.
"Kau kapan memberi Papa cucu, Papa sudah cukup tua," keluh Handoyo.Selama 3 tahun menikah Kanaya belum juga memiliki momongan.
"Nay masih muda Pa, iya kan Bab." Keyla menatap Papanya sekilas lalu beralih ke suaminya.
"Al cepat kamu nikahi Keyla, Papa yakin kamu pasti cepat memberi Papa cucu." Handoyo menatap Alvin yang sebenarnya sedari tadi cuek karena terus menatap layar ponselnya.
Uhuk ... uhuk
Alvin tersedak dengan ucapan Papanya.
"Alvin sudah punya calon, Pa? bukannya dia ...." Kanaya memilih tidak meneruskan kata-katanya karena mengingat itu seperti juga mengorek masa lalunya.
Kanaya pun mendapat tatapan sengit dari Alvin, ia tidak ingin orang tuanya mengetahui mas lalunya terlebih kondisi hatinya beberapa tahun lalu.
"Dia apa?" desak Soraya menatap Kanaya yang tiba-tiba terdiam.
"Dia ini anak kecil, mana mungkin bisa buntingin anak orang." Kanaya membalas tatapan sengit adiknya itu dengan menjulurkan lidahnya.
"Hus, ngomong apa kamu ini!" Soraya menatap tajam Kanaya yang bicara sembarangan tentang adiknya.
"Awas aja kalau sampai Al yang punya anak duluan, Kakak harus beliin aku pesawat." Ancam Alvin.
"Ok siap," enteng Kanaya dengan ancaman adiknya.
Kumpul keluarga itu begitu hangat mengingat acara itu sangat jarang terjadi.Alvin yang jarang main ke mansion tanpa ada acara sementara Kanaya yang tinggal di Amerika setahun sekali baru bisa pulang saat suaminya mengambil cuti tahunan saja.
Setelah makan malam Alvin duduk di kamarnya yang berada di mansion.Malam ini orang tuanya menahannya pulang, menyuruhnya menginap.
Tok ... tok.
Kanaya mengetuk pintu lalu memasuki kamar adiknya itu.Alvin terlihat duduk di ranjangnya memainkan ponselnya.
"Kau belum tidur?" Kanaya duduk di tepi ranjang menatap Alvin yang asyik senam jari dengan benda di tangannya.
"Alvin!" sentak Kanaya karena tidak bergeming dengan pertanyaannya.
"Apa sih Kak."
"Kau benar-benar sudah melupakan ...."
"Ziva.Sudah!" tegas Alvin menerus ucapan Kakaknya yang tiba-tiba berhenti berbicara.
"Gadis mana nih yang berhasil mencairkan hati bekumu, apakah dia cantik?"
"Ah Kakak ini menganggu saja," keluh Alvin karena Kanaya terus berbicara membuat fokusnya yang sedang bermain game terpecah.
"Kau ini." Kanaya gemas mengacak rambut Alvin.
***
Keesokan pagi.
Keluarga Handoyo tengah menikmati sarapan pagi.Soraya senang dengan kondisi mansion nya yang tampak sedikit ramai daripada biasanya yang hanya ada dirinya dan suaminya kini kedua putra putrinya menghidupkan suasana yang beberapa tahun hilang dari mansionnya.Akan lebih bertambah riuh lagi jika Ia memiliki cucu dari keduanya membuat soraya tidak sabar ingin menikahkan Alvin.
"Alvin, ajak Keyla kesini!" pekik Soraya tiba-tiba membuat suasana hening tiba-tiba menjadi ramai dengan pertanyaannya.
Uhuk
Alvin tersedak dengan ucapan Mamanya yang juga sebuah perintah.
"Pelan-pelan makannya." Soraya memberikan minum pada putranya itu.
"Betul Alvin, bawa Keyla kesini." Handoyo ikut menimpali perintah Soraya.
Uhuk
Lagi-lagi Alvin dibuat tersedak membuat Kanaya yang duduk tepat di depan Alvin tersenyum meringis menertawakan tingkah konyol adiknya yang dua kali tersedak gara-gara diminta membawa calon istrinya berkunjung ke mansion.Bagi keluarga Handoyo meminta membawa pulang berarti menginginkan segera terjadi pernikahan dan itu mutlak.Alvin tidak keberatan menikahi calonnya secepatnya tapi masalahnya Keyla belum mau menikah buru-buru.
Alvin menelan salivanya susah payah saat kedua orang tuanya menatap meminta jawabannya yang hanya mau mendengar kata iya.
"Tapi Pa-"
"Tidak ada tapi-tapian, kau bawa kesini calon menantu Mama dan Papa!" potong Soraya dengan tegas tanpa mau di bantah.
Mau tidak mau Alvin harus membujuk Keyla untuk datang ke mansion-nya.Entah bagaimana nasibnya mereka berdua nanti yang jelas nasib cinta mereka sudah digariskan orang tua mereka masing-masing.
.
.
Alvin sudah berada di kediaman rumah Keyla.Ia menunggu Keyla yang baru saja di bangunkan oleh Bundanya.Alvin beberapa kali menghubungi Keyla namun tidak ada jawaban sebab wanitanya itu masih berada di peraduannya.
Terlihat Jeni menuruni tangga bersama Keyla yang terlihat sudah rapi.Satu jam lamanya Alvin menunggu Keyla siap ternyata gadis itu di permak oleh Bundanya.
Dress berwarna baby pink setinggi lutut degan aksen pita di bagian depan serta jepit rambut berbentuk bunga terselip di rambutnya membuat gadis yang imut itu semakin tambah imut.Namun di balik penampilannya yang tampak feminim perjuangan berat bagi seorang Jeni karena harus memaksa Keyla yang sudah cukup dewasa seperti mendandani anak berumur tiga tahun yang semua harus serba di paksa.
"Bagaimana penampilan Keyla, kau suka Nak Alvin?" ucap Jeni saat sudah duduk di sofa bersama putrinya itu.
"Su-suka sekali Tante, Keyla manis e cantik maksudnya." Alvin berucap terbata-bata, tatapannya terus tertuju pada Keyla yang sedikit risih di tatap seperti itu oleh Alvin.
"Key ingat pesan Bunda!" Jeni bangkit dari duduknya menatap tajam putrinya dengan kata-katanya.
Keyla pun mengangguk karena jika berhubungan dengan Alvin yang notabenenya keluarga kaya raya nomer satu di negeri ini.Ia pasrah akan hidupnya yang sudah diatur sedemikian rupa hingga hanya bisa menurut jika tidak ingin dikutuk jadi batu seperti cerita Malin Kundang namun di cerita dia di kutuk jadi batunya diasingkan di negeri orang.
"Kau cantik Key," puji Alvin sepeninggalan Jeni.
Namun bukannya senang Keyla malah membuang muka.
"Ayo." Alvin menarik tangan Keyla meninggalkan ruangan itu karena Ia tidak leluasa berada disana karena setiap sudut rumah Keyla di pasang alat pengintai seperti di mansionnya.
Keduanya sudah melesat di jalanan namun Keyla masih tampak acuh.Ia merenungi nasibnya yang seperti boneka harus menurut saja tanpa bisa menolak perintah Bundanya.Bagaimana keinginannya untuk menyatukan Ayah dan Bundanya jika Ia menikah secepat ini.
Keyla masih bisa bernapas lega sampai mati pun Ia akan menjadi wanita karier bukan menjadi wanita rumahan yang hanya akan mengurusi mertuanya yang kaya raya.Untungnya juga ini bukan kisah Siti Nurbaya walaupun sama-sama dijodohkan namun Ia memegang kendali atas hidupnya sendiri yang terus bisa berkarier.