
...****************...
"Kak Dinar, aku nggak sabar lihat dedek bayi nanti," kata Jingga mengusap perut Dinar yang masih rata.
"Sama Kak, aku juga nggak sabar. Kira-kira adik bayinya kembar nggak ya?" saut Rani begitu antusias.
"Kalau nggak kembar gimana?" tanya Dinar.
"Nggak apa-apa dong Kak, yang penting adiknya sehat," Dinar tersenyum mengusap adik iparnya.
"Assalamu'alaikum," salam Al saat pintu terbuka.
"Wa'alaikumsalam," jawab keempat perempuan yang ada di ruangan itu.
"Ini sayang, pesanan kamu." Alvaro memberikan bungkusan hitam yang di dalamnya adalah buah manggis.
"Ya udah, makan." suruh Dinar santai.
Alvaro menautkan alisnya. "Maksudnya? aku yang makan? Kan. kamu yang minta sayang,"
"Ya_ memang aku yang minta. Tapi aku nggak bilang, aku yang makan. Aku cuma bilang pengin buah manggis," Alvaro menghela napas, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jadi_ ini aku yang makan?" tanya Al pelan.
Dinar tersenyum manis, sambil menganggukkan kepalanya. "Tapi aku kurang suka buah ini, sayang." ringis Al yang membayangkan buah tersebut.
Dari dulu Al memang kurang suka dengan buah tersebut, memang rasanya enak, namun bagi dirinya aneh.
Maklumlah, setiap orang beda beda, ada yang suka. Ada yang tidak.
"Kayaknya ini yang minta dedeknya, jadi kamu harus turutin, dari tadi aku sudah bayangin kamu makan buah itu. Lagian buahnya enak, pasti kamu nanti suka."
Alvaro lagi lagi menarik napas berat, ia sempat melirik adik adiknya yang justru menahan tawa, melihat dirinya yang harus menuruti keinginan ibu hamil.
"Bagi kamu enak, bagi aku nggak!" gerutu Al pelan.
"Oh jadi kamu nggak mau nurutin keinginan aku!" sewot Dinar, mata perempuan itu pun sudah berkaca-kaca.
"Nggak gitu Sayang! aku mau kok, ini aku makan." Al yang panik pun segera duduk di tepi kasur lalu membuka buah tersebut.
Qilla, Rani dan Jingga pamit pulang, mereka ingin memberi ruang untuk Kakaknya, kata Bundanya jika Alvaro sudah kembali, mereka harus pulang.
Sopir mereka pun sudah standby di depan kamar inap Dinar.
"Tunggu!" pekik Dinar, ketika Al sudah mau membuka buah itu.
"Apa lagi sayang?" ujar Al berusaha sabar.
"Kita main,"
"Main apa?" tanya Al waspada.
"Tebak-tebak buah manggis, kamu pasti tau kata kata itu kan?" Alvaro hanya mengangguk pasrah.
"Kata orang, setiap lihat kelopak di bawahnya sini," tunjuk Dinar pada buah manggis itu. *Pasti sesuai sama isi dalamnya, tapi aku pernah, coba dan ternyata nggak sama, ada yang kelopaknya empat, eh. Pas di buka, ada lima."
"Nah, ayo kita main itu." ucap Dinar begitu semangat.
"Ayo. Yang menang harus dapat hadiah," pinta Al.
"Apa hadiahnya?"
"Terserah,"
"Oke, kalau gitu. Yang menang dapat cium, nggak di makan juga nggak apa-apa." mendengar jawaban Dinar, Al menjadi semangat.
Ia pun seketika setuju, dan tidak memperdulikan lagi apa yang dia makan, namun tetap berharap jika dirinya yang menang, lumayan. Bisa mendapatkan ciuma tapi tidak harus makan buah itu.
"Kamu dulu tebak, berapa isinya?" Dinar berpikir sejenak, jangan sampai salah.
"Empat!" seru Dinar, dengan yakinnya.
*Oke, aku tebak lima." Dinar mengangguk kuat menyuruh Alvaro segera membuka buah itu.
"Yee!" pekik Al senang, saat buah tersebut ternyata berisi lima, meskipun yang satu buahnya sangat kecil.
Al bahkan sampai memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan Dinar.
cup!
kecupan di berikan, di pipi kanan Al. "Lanjut!" semangat Al.
"Lima!" kali ini Dinar menebak lima padahal kelopak tersebut berjumlah empat.
"Aku Empat!"
"Yee, woo_!" senang Al tebakannya benar lagi
Dinar mendengus, ia menyesal mengajak suaminya bermain game itu, tadinya kan niatnya ingin mengerjai Alvaro agar, Al terus terusan makan buah manggisnya.
Kali ini Alvaro menunjuk keningnya. Membuang napas terlebih dahulu, Dinar pun memberikan kecupan lagi di kening lelakinya.
Wajah tampan Alvaro sangat terlihat bahagia, karena sampai saat ini, dia belum memakan buah itu sama sekali.
"Aku tebak enam!"
Dinar mulai lesu, sudah tidak bersemangat lagi. "Lima," jawabannya pasrah.
"Semangat dong, tadi siapa yang ngajak main game?" colek Al di pipi Dinar.
"Alvaro sengaja membuka buah tersebut begitu pelan, mengintip terlebih dahulu sebelum menunjukkan pada istrinya.
"Tada_ ayo cium aku lagi!" ujar Al seraya menunjukkan buah manggis berisi enam itu.
Dinar memandang Al kesal, keningnya begitu mengerut. "Ayo cium." kali ini Alvaro meminta ciumannya di bibir.
Tentu Dinar menolak, bagaimana jika tiba tiba ada orang masuk.
Tapi karena bentuk sportifitas, maka Dinar mencium bibir Al singkat, bahkan bisa di katakan sebuah kecupan.
Alvaro mengulas senyum, mengacak rambut Dinar gemas, ia pun membalas memberi kecupan sayang di kening Dinar.
...****************...
Malam harinya masih seperti malam sebelumnya, Alvaro masih berada di rumah sakit menemani Dinar, padahal tadi Bunda Alya meminta putranya untuk pulang, namun Al menolak yang tak mungkin bisa Bunda tolak.
Putranya itu, akan berubah menjadi batu, keras sifatnya jika keinginan kekeuh.
Mau tak mau, Bunda Alya dan besok pagi akan datang.
"Sayang_" panggil Dinar lembut mengusap sisi wajah Alvaro yang sudah memejamkan matanya.
Sepertinya Al kelelahan, lelaki itu harus bolak balik rumah sakit, sekolah. Bahkan Alvaro belum pulang sama sekali.
Alvaro membuka matanya yang sudah berat untuk di buka, menatap Dinar sayu. mereka saat ini tengah berbaring di bangsal Dinar saling berhadapan.
"Besok aku pulang aja, ya? aku bosen di sini,"
"Tunggu kamu benar-benar sehat, baru kita pulang." katanya lalu ingin menutup kelopak matanya lagi.
"Tadi dokternya bilang, aku sudah nggak apa-apa. Semua sudah baik-baik aja, rawat jalan di rumah bisa." terpaksa Al membuka matanya lagi, memandang Dinar yang memandangnya sendu penuh harap.
Menangkup pipi Al, Dinar berkata. "Aku nggak mau bikin kamu capek, aku selalu ngerepotin banyak orang."
"Aku nggak mau kayak gini terus, Sayang. Anak kita kuat, jadi aku baik-baik aja." meyakini Alvaro bahwa dia sudah sehat.
Semenjak orang itu berkeliaran mengganggunya, Alvaro dan yang lain selalu repot, tadi ia sempat mendengar Bunda Alya bicara dengan Mba Leli.
Bunda Alya dan Alvaro sedang perang dingin, itu karena Al marah pada Bundanya yang tidak memberitahu tentang dirinya kepada lelaki itu.
Dinar tak ingin, hubungan anak dengan orang tuanya, terganggu karena dirinya. Selagi dia bisa menjaga diri.
Dinar akan berhati-hati, dan tidak lagi keluar rumah tanpa Alvaro.
Sampai orang itu bisa di tangkap, seperti janjinya kepada suaminya yang menyuruhnya untuk selalu berhati-hati.
...****************...